Kabut Tanah Tembakau (51)

oleh -1.277 views

SARNI tetap terjaga, meski matanya terpejam. Lolong anjing kampung masing sahut-sahutan di kejahuan. Jantung Marni berdebar kencang. Sejak suaminya menghilang 6 bulan lalu, sejak itu Sarni tinggal sendiri. Persis ketika bayinya baru satu bulan. Sarni tidak hanya pasrah, ia telah mencari tahu kemana suaminya dengan kuli kontrak lainnya berada.

Sarni selalu berdoa agar suaminya pulang. Sudah 6 bulan mereka yang hilang tidak kembali ke rumah. Awal malapetaka ketika tuan Belanda akan membuka lahan baru buat perkebunan tembakau di yang tidak jauh dari Saentis. Kekuatan tangan Handoyo yang bisa meremukkan batu koral dalam genggaman sampai ke telingga tuan Belanda. Handoyo pun dimasukkan dalam tim untuk membuka lahan baru. Mereka tidak lebih dari 10 orang. Lahan baru yang ada di tengah hutan itu dianggap misterius, tak ada yang berani menebusnya.

Sejak masuk lahan baru tersebut, tidak pernah kembali. Baik gerobak dan peralatan yang mereka gunakan pun hilang. Para kuli kontrak pun menamakan tempat itu menjadi Sukama Hilang. Cerita hilang para kuli kontrak itu sampai dari mulut ke mulut. Sukma Hilang menjadi melegenda di perkebunan tembakau di sekitar Saentis.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (95)

Sejak lama Mandor memendam hasrat terhadap Sarni. Bagi kalangan kuli kontrak Sarni salah satu primadona. Meski sebagai kuli kontrak di perkebunan tembakau, Sarni memili kecantikan alami. Alis matanya yang tebal dan bibir yang selalu basah membuatnya terlihat cantik. Tinggi semampai. Jika mengenakan kain panjang yang dililitkan untuk menutup aurat, masih nampak bokongnya yang berisi.

Kecantikan Sarni yang alami inilah membuat banyak pria tergila-gila dengan Sarni, namun yang berani menyampaikan hasratnya hanya Mandor. Itu pun Mandor merasa memiliki kekusaan atas kuli kontrak. Malam ini adalah peluang itu. Baginya, biar jabatannya sebagai mandor melayang, asalkan mendapatkan Sarni. Terlebih Handoyo suaminya, telah hilang ditelan bumi.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (95)

Dengan lihai Mandor membuka palang pintu dari sela-sela kusen yang renggang dengan goloknya. Dengan birahi tertahan menyelinap masuk ke dalam kamar. Perlahan mandor mendekati Sarni yang tertidur. Nafas Mandor terdengar kasar. Ia mulai menggerayangi Sarni dengan buasnya. (***)

Pondok Melati

Regardo Sipiroko

*DILARANG mengutip keseluruhan atau sebagian dari Novel Mini ini dalam cuplikan atau utuh untuk film, video, audio, tulisan atau bentuk apapun tanpa izin dari www.gapuranews.com