Kabut Tanah Tembakau (50)

oleh -1.307 views

MARLIMA masih duduk di ranjang. Suara burung merbuk terdengar lamat-lamat. Angin berdesir pelan dari lubang ventiasi jendela membuat suhu kamar dengan kelembapan udara lebih nyaman. Mata Marlina belum bisa dipicingkan, meski tubuhnya sudah lelah.

Apakah karena belum terbiasa menginap di rumah sederhana tanpa ac dan tidur di ranjang dengan kasur kapuk. Berbeda dengan springbed di kamar Marlina di Jakarta, begitu lembut dan nyaman.

Marlina merebahkan badannya agar bisa matanya terpejam. Tubuhnya terasa ringan bagaikan kapas. Melayang-layang di udara. Lalu duduk kembali ke tepi ranjang. Tiba-tiba Marlina melihat pintuk kamar. Lalu melihat sebuah kamar yang sangat sederhana sekali. Beratap rumbiah dan ranjang tanpa kasur.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (94)

Lampu sentir masih menyala di dinding. Marlina berada di malam, di tahun 1875 dimana nenek buyutnya, Sarni sedang tidur di samping bayinya. Keduanya tidur pulas. Di luar hujan rintik terdengar lembut dari atas atap rumbiah. Suara-suara malam saling bersahutan. Malam belum terlalu larut. Tapi Sarni karena lelah bekerja seharian di perkebunan tembakau menjadi pulas.

Rumah perkebunan tembakau lebih mirip seperti barak. Bentuknya memanjang. Berisi beberapa rumah tangga dan disekat dengan papan untuk membedakan pemilik satu dengan yang lainnya. Rumah para kuli kontrak ini teratur dan bersih. Dari rumah paling ujung dekat tanah kosong, terdengar suara penghuninya sedang berbincang soal persaingan kuli pribumi dengan kuli asal Cina dan Tamil di perkenbunan tembakau.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (93)

Sarni mendengar suara kelebatan orang mendekati rumahnya. Dari gerak langkahnya, Sarni berfirasat sosok berkelebat itu bukan berniat baik. Sari pura-pura memicingkan matanya.

Mandor mengendap-ngedap mendekati kamar Sarni. Sementara dua anak buahnya bersembunyi di balik pohon mangga di sebelah pagar. Keduanya mengawasi sekitar barak kuli kontrak. Dari celah dinding papan, Mandor mengintip ke kamar. Birahi Mandor langsung memuncak melihat Sarni tertidur lelap dengan kain apa adanya, sehingga paha mulusnya terlihat. Nafas Mandor terdengar kasar tak beraturan.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (95)

Lolong anjing kampung terdengar dikejahuan. Saling bersahutan dengan anjing lainnya dari arah bangsal tembakau yang sepi. Sarni terjaga. Hanya matanya saja yang liar menyelidiki dinding kamar. Sarni punya firasat tidak baik. Jantungnya berdebar kencang, namun Sarni mencoba untuk tenang. (***)

Pondok Melati

Regardo Sipiroko

*DILARANG mengutip keseluruhan atau sebagian dari Novel Mini ini dalam cuplikan atau utuh untuk film, video, audio, tulisan atau bentuk apapun tanpa izin dari www.gapuranews.com