Kabut Tanah Tembakau (46)

oleh -105 views

MARLINA dikagetkan ketika petir menggelegar di angksa. Langit seperti terbelah. Sebentar lagi hujan akan turun. Spontan Marlina memegang pergelangan tangan Hamzah. Melihat Marlina panik, Hamzah malah tertawa kecil.

“Makanya, jangan bengong!” kata Hamzah tertawa.

Wajah Marlina jadi memerah. Bukan karena digodain Hamzah, tapi geram dengan prilaku Mondor yang menjilat Belanda. Ingin Marlina berteriak untuk memaki Mandor. Tapi hal itu tak bisa dilakukannnya.

Ia kagum dengan kakek buyutnya yang perkasa dan mempunyai tubuh yang kekar. Berani dan bertanggungjawab. Sarni, Nenek buyutnya begitu lembut.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (94)

“Sebentar lagi mau hujan. Cepat kau habiskan rujaknya, Marlina,” kata Hamzah. Baru selesai bicara, seketika hujan turun sebesar jagung. Langsung Marlina dan Hamzah merapat menghindari tempias hujan.

“Mana rujakmu?” tanya Marlina.
“Sudah habis! Tadi baru pesan satu porsi lagi,”
“Wow! Emang rujak enak luar biasa‚Ķ” puji Marlina.
“Kau suka bengong sekarang, Marlina?”

Marlina tersenyum tipis. Hamzah menikmati senyuman Marlina. Baginya, belum pernah menikmati senyum wanita seindah senyuman Marlina. Tak ingin rasanya berpaling dari senyuman Marlina. Ada maknit di bibirnya yang basah. Batin Hamzah bergolak.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (95)

“Bang! Ini rujaknya! Awak basah nih bang,” kata penjual rujak yang tiba-tiba datang dengan menggunakan payung. Hujan jatuh ke payaungnya dan membasahi lutut Hazmah.

Hamzah kaget bukan main. Lalu mengambil rujak seporsi. “Terima kasih ya dek,” katanya Hamzah. Tak berapa lama penjualm rujak pun pergi.

“Hamzah, kamu doyan rujak ya?”
“Hujan-hujan gini enak makan rujak. Kalau kemari, aku suka bawakan buat kak Rabiah,” kata Hamzah.
“Oh ya! kisah kak Rabiah begitu tragis! Mungkin saya akan bersikap sama seperti kak Rabiah, bila mengalaminya,” kata Marlina.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (93)

Hamzah memandang Marlina lama. Sementara Marlina memandang jauh ke depan, menyaksikan hujan yang turun dari langit. (***)

Pondok Melati

Regardo Sipiroko

*DILARANG mengutip keseluruhan atau sebagian dari Novel Mini ini dalam cuplikan atau utuh untuk film, video, audio, tulisan atau bentuk apapun tanpa izin dari www.gapuranews.com