Kabut Tanah Tembakau (45)

oleh -938 views

SARNI menarik nafas lega ketika grobak sapi sudah jauh dari Simpang Jodoh. Handoyo tetap diam. Ia hanya menatap jauh ke depan. Tenang dan berwibawa. Handoyo tidak ingin bicara, sebab rasa takut Sarni belum redah. Terlihat dari wajah Sarni yang masih pucat. Dari teko kaleng, Sarni minum beberapa teguk. Lalu menyerahkan teko ke Handoyo dan menghabiskan air teko dengannya satu tegukkan.

“Jangan khawatir, Mandor tidak akan berani macam-macam lagi,” kata Handoyo sembari melayangkan senyum kepada istrinya. Sari membalas senyum Handoyo. Ada rasa bangga dengan kemampuan Handoyo, namun ada juga kekhawatirannya.

Sarni khawatir dengan peristiwa tadi, Handoyo akan mempunyai banyak musuh. Semakin tinggi kemampuan semakin banyak pula tantangan yang harus dihadapinya. Sebab, anak buah Mandor ada dimana-mana. Tidak saja di sekitar Tembung, Seantis, Titi Sewa, Helvetia, Hamparan Perak bahkan sampai ke Bulu Cina.

Sekuat apapun Handoyo jika sendiri tidak akan mampu melawan gerombolan Mandor yang dipelihara Belanda untuk menindas Kuli Kontrak. Bagi mereka Handoyo adalah saingan. Apalagi, di perkebunan tembakau banyak bersimpati dengan Handoyo. Punya jiwa kebersamaan, ramah dan punya otak cemerlang diantara para kuli kontrak.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (94)

Sarni takut malapetaka itu akan terjadi. Apa jadinya jika Handoyo dikeroyok oleh anak buah Mandor. Sementara dia sedang hamil muda. Keluarganya tidak banyak di Tanah Deli. Kalau pun ada, itu pun jauh di Hamparan Perak. Keluarga besarnya lebih banyak di Ponorogo.

Kepalan tangan Handoyo yang meremukkan batu koral di depan Mandor tadi tentu akan jadi bahan pergunjingan di kalangan kuli kontrak. Bukan tidak mungkin, sampai juga ke telinga tuan Belanda. Tentu akan menjadi ancaman bagi tuan Belanda. Pastinya, Handoyo akan selalu dimata-mati.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (95)

Marlina menyaksikan semua peristiwa itu dengan jelas. Marlina mulai tahu sejarah perjuangan kakek buyutnya ketika menjadi kuli kontrak di perkebunan tembakau di Tanah Deli. Marlina begitu bersimpati dengan Sarni, yang wajah mereka bak pinang dibelah dua. Marlina ingin memanggil bunyutnya, namun mulutnya terkunci. Ia hanya bisa menyaksikan, tapi tidak bisa berucap sepata kata pun. (***)

Pondok Melati

Regardo Sipiroko

*DILARANG mengutip keseluruhan atau sebagian dari Novel Mini ini dalam cuplikan atau utuh untuk film, video, audio, tulisan atau bentuk apapun tanpa izin dari www.gapuranews.com