Kabut Tanah Tembakau (35)

oleh -142 views

HAMZAH masih bingung dengan kemampuan Marlina yang seketika berubah menjadi seorang penari ronggeng kelas wahid. Tidak hanya dirinya, penonton lain pun ikut terpukau. Dalam perlihatan Hamzah, ketika Marlina meronggeng nampak mengenakan busana Melayu. Bersanggul. Cantik seperti seorang putri Melayu.

Usai lagu Sri Mersing didendangkan Marlina tetap berdiri di panggung. Hamzah langsung menarik tangannya Marlina. Sisa magis ditubuh Marlina masih kuat. Ketika Hamzah memegang lengan Marlina perlahan kekuatan magis berangsur hilang.

“Marlina kamu bisa menari ya,” kata Hamzah.
“Ah, masa sih. Perasaan aku bisa-biasa saja deh,” ucapnya.
“Aku tengok tadi, Marlina seperti seorang putri sedang menari,” ucap Hamzah.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (123)

Marlina menatap Hazmah lama. Seakan tidak yakin dengan apa yang diucapkan Hamzah.

“Banarkah?” Akhirnya muncul juga rasa ingin tahunya. Hamzah mengangguk pelan. Marlina merasa aura mangis begitu tinggi di arena Pakpung. Kembali bulu kuduknya merinding. Angin kembali berhembus sepoi. Ia ingin segera meninggal Taman Budaya Sumatera Utara.

“Yuk pulang! Aku sudah mulai lelah,” kata Marlina.
“Oke lah,” ucap Hamzah.

Sebelum meninggalkan arena Pakpung, Hamzah sempat melambaikan tangannya kepada Ayub Badrin. Keduanya menuju parkiran. Ketika akan membuka mobil, ada tangan memegang pundak Hamzah.

“Oh, Bang Ayub! Pulang dulu lah awak bang!” kata Hamzah.
“Hamzah. Aku mau becakap sama kau bentar,” kata Ayub sembari menarik Hamzah ke bawah pohon akasia.
“Ada apa bang?”
“Aku tengok agak lain, teman kau itu,” kata Ayub.
“Maksud abang?!”
“Ah… Sudah tahu lah kau tuh,” tegas Ayub.
“Betol bang, awak tak paham!”
“Sudahlah! Abang tak mungkinlah mengajari ikan berenang,” sergap Ayub.
“Makjang! Abang nih, bikin teka-teki pula,” ucapnya.
“Pokoknya, ingat kataku, hati-hati saja kau!” kata Ayub sambil berlalu.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (122)

Hamzah masih terbengong melihat Ayub Badrin meninggalkannya. Sejurus kemudian ia kembali ke mobil.

Saat menyetir mobil Hamzah sesekali melirik kepada Marlina. Ia ingin memastikan apakah yang di sampingnya benar-benar Marlina sebenarnya. Marlina hanya tersenyum saja kepada Hamzah. (***)

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (121)

Bogor

Regardo Sipiroko

*DILARANG mengutip keseluruhan atau sebagian dari Novel Mini ini dalam cuplikan atau utuh untuk film, video, audio, tulisan atau bentuk apapun tanpa izin dari www.gapuranews.com

The following two tabs change content below.
Gambar Gravatar

gapuranews

Gambar Gravatar

Latest posts by gapuranews (see all)