Kabut Tanah Tembakau (29)

oleh -92 views

PENONTON Ronggeng penuh sesak. Orang bunian berjajal datang dari penjuru sudut kota Medan. Musik mulai dimainkan. Pemusik akordeon, gendang Pakpung dan biola memainkan irama yang magis. Disambut dengan gesekan biola yang suara menyayat hati.

Susana panggung begitu tenang. Tidak ada angin semilir. Baju pemusik pun tak bergerak. Kaku seperti dikanji. Pemusik tidak lincah sebagimana musik Ronggeng yang dinamis dimainkan di alam manusia.

Penabuh gendang memaikan gendang dengan tempo yang sedang. Suara gendang menyentak magis ketika dilambungkan ke udara. Gerakannya lamban, namun suara gendang menyentuh jantung siapapun yang mendengar.

Tiga pasang pria dan wanita berhadap-hadapan. Mereka menari sambil melepas rasa dalam balutan pantun. Saling sahut-menyahut, mencurahkan perasaan isi hati lewat syair yang dinyanyikan. Anehnya, reaksi yang ditampilkan dingin dan tak ada senyum.

Gesekan biola dan akordion mengiringi irama musik tidak seharmoni di alam manusia. Penonton tenggelam dalam alunan musik magis yang menyayat sampai ke kalbu. Meski berjejal tak ada suara berisik maupun berbisik satu sama lain. Semua tenang.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (52)

Marlina terpukau menyaksikan pertunjukan Ronggeng di alam orang bunian. Mulut Marlina terkunci. Tak bisa berkata sepata kala pun.

Apa yang dilihat Marlina bukanlah karya seniman Kumpulan Pakpung Medan yang bisa tampil di Taman Budaya Sumatera Utara, Jalan Perintis Kemerdekaan, Medan.

Marlina menyaksikan para seniman di dunia orang bunian memainkan Pakpung. Padahal disaat yang sama, Kumpulan Pakpung Medan tampil juga. Satu tempat tapi dalam.dimensi yang berbeda. Marlina tak berkedip. Matanya yang indah tajam menyaksikan Pakpung orang bunian.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (53)

Seorang biduan tampil dengan busana yang gemerap. Hiasan kalung, gelang tangan dan anting memancarkan sinar. Wajahnya cantik, alis naik ke atas. Matanya teduh dan bibirnya merah delima. Enerji Marlina tersedot ketika biduan orang bunyian membawa lagu Damak.

Sayanglah damak getah sumpitan sayang
Menyumpit burung di dalam hutan
Ahai damak damak sayang
Ahai damak damak Sayang
Hati tak dapat melupakan tuan
Sedikit pun tidak hai tuan endahkan
Sedikit pun tidak hai tuan endahkan

Anaklah burung terbangnya malam sayang
Terbangnya hinggap di pohon lalang
Ahai damak damak sayang
Ahai danak damak sayang

Hatiku sedih merindulah dendam
Orang ku nanti tak kungjunglah datang

Meleleh air mata Marlina. Kelopak matanya basah saat mendengarkan lagu Damak. Marlina tak paham mengapa hanyut dengan lagu Dampak yang magis itu. Marlina sudah tersihir.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (54)

Marlina meronta. Menoleh ke seluruh penjuru tak satu pun dikenalnya. Busana yang hadir berbeda dengan busana manusia. Meski agak mirip tapi modelnya aneh. Biar cantik tapi tak modis.

Marlina tidak menemukan Hamzah di sampingnya. Padahal sekejap tadi, ada Hamzah di sampingnya. Di panggung ada Mak Yak, Tok Udin dan Kelompok Pakpung Medan. Ayub Badrin mentor Hamzah pun tak ada.

Marlina kini sendiri di antara orang bunian. Kakinya mulai gematar. Wajahnya pucat. Ingin menjerit tapi suaranya tidak keluar. (***)

*DILARANG mengutip keseluruhan atau sebagian dari Novel Mini ini dalam cuplikan atau utuh untuk film, video, audio, tulisan atau bentuk apapun tanpa izin dari www.gapuranews.com