Kabut Tanah Tembakau (21)

oleh -397 views

UDARA panas berubah mendung. Hamzah menyetir mobil ke Percut. Tiba di Tempat Pelelangan Ikan Percut, Hamzah memarkirkan mobilnya. Angin kencang dari laut.

Hamzah keluar mobil dan ingin membukakan pintu buat Marlina, tapi Marlina keluar sebelum Hamzah membukakan pintu. Marlina memakai kaca mata hitamnya.

Bagi Marlina ini makan siang pertama di Medan. Hamzah yakin selera Marlina akan tergoda dengan aneka masakan seafood di Percut.

Bagan Percut sebuah kampung yang berada di pesisir. Mayoritas warga berprofesi sebagai nelayan. Bagan Ujung Percut, kabupaten Deli Serdang, terkenal dengan wisata kuliner. Khususnya tentang restoran terapungnya. Tidak seperti restoran modern di tengah kota. Restoran terapung tempat makan sederhana yang berada di tengah laut.

Marlina juga merasakan sesuatu di Percut. Apakah ini petilasan leluhurnya? Batin Marlina kian terusik. Mengapa pula Hamzah mengajaknya makan siang di Percut ini? Hidup tak ada yang kebetulan. Semua sudah diatur.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (30)

Percut mengingatkan Marlina ketika berlibur di Portofino. Sebuah desa kecil di Italia. Desa nelayan berpenduduk kurang dari 500 orang di sebelah tenggara Genoa itu memang punya reputasi internasional karena keindahan yang memukau ke arah laut lepas Mediterania yang membentang. Restoran memberikan menu yang luar biasa lezat.

“Marlina mau makan di sini, atau kita ke muara sana di restoran terapung?” Tanya Hamzah.
Marlina menatap Hamzah lama. Hamzah menyimak pandangan Marlina.
“Di restoran terapung saja. Biar dapat suasana laut,” ucap Marlina.

Untuk bisa ke restoran terapung harus menyeberang dengan kapal. Marlina berdiri di tepi dermaga ketika Hamzah berlari kecil menuju pelelangan ikan. Memilih ikan kakap merah, udang, cumi dan kepiting. Setelah cukup Hamzah berlari ke dermaga dan kapal kayu pun berlayar ke restoran terapung.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (31)

Marlina berdiri di buritan kapal menikmati hutan bakau di kanan kiri sungai. Seketika jantungnya berpacu kencang ketika melihat sepuluh kapal mengiringi kapal yang ditumpanginya. Kapal-kapal pengiring tersebut bentuknya berbeda dengan kapal kayu nelayan di Percut.

Kesepuluh kapal unik itu dengan warna dasar yang berbeda-beda dan indah. Seperti sebuah festival. Prajuritnya yang ada di atas kapal diam tak bersuara. Marlina merinding. Kakinya gemetar. Marlina mulai tenang ketika melihat wanita cantik berbaju hijau ada di salah satu kapal.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (29)

Marlina merasa lega ketika wanita cantik berbusana Melayu itu sebagai pemimpin kesepuluh kapal antik tersebut. Ia melambaikan tangannya ke Marlina.

“Marlina…!” terdengar suara Hamzah memanggilnya. Marlina tersentak. Seketika kesepuluh kapal itu menghilang.

“Sudah mau sampai,” kata Hamzah sambil menjinjing bungkusan ikan.
“Ya. Saya juga sudah lapar…” kata Marlina.

Tak berapa lama kapal yang mereka tumpangi pun tiba di restoran terapung. Ketika turun dari kapal, restoran sepi. Hanya satu-dua tamu yang nampak di restoran terapung. (***)

Pondok Melati

Regardo Sipiroko

*DILARANG mengutip keseluruhan atau sebagian dari Novel Mini ini dalam cuplikan atau utuh untuk film, video, audio, tulisan atau bentuk apapun tanpa izin dari www.gapuranews.com