Kabut Tanah Tembakau (20)

oleh -235 views

TIBA di depan mobil Hamzah menarik nafas lega. Kini ia merasa nyaman orang bunian yang menghantuinya sudah berlalu. Marlina hanya tersenyum melihat tingkah Hamzah yang mencoba menutupi rasa takutnya.

“Hamzah, kamu kelihatan gelisah banget. Ada apa sih?” Tanya Marlina.
“Nggak kok!”
“Ayo dong ceritakan! Jangan rahasia dong…” rayu Marlina.

Hamzah mulai bimbang untuk menceritakannya. Mata Marlina menggoda Hamzah agar mau menceritakan yang sebenarnya. Hamzah mulai ragu dengan keputusannya. Ingat pesan emaknya, semakin teguh tidak akan menceritakannya.

Di ujung jalan nampak becak gerobak dikayuh pelan. Kian dekat baru ketahuan kalau pedagang es campur melintas. Marlina penasaran.

“Hamzah itu dagang apa ya?” tanya Marlina.
“Itu es campur,” ucap Hamzah.
“Boleh juga tuh,” ucapnya.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (29)

Hamzah pun menceritakan es campur khas Medan. Es campur yang disajikan terdiri dari santan asli, gula merah asli, lengkong, delima, cendol, kacang merah dan tape.

“Es campur menjadi favorit karena rasa dan kelezatan dari santan dan perpaduan gula merah. Ini es campur khas Medan. Rasanya, enak kali,” terang Hamzah.
“Saya mau dong!” ucap Marlina.

Hamzah memesan es campur dua porsi setelah gerobak becak berada di depannya. Pedagang es campur dengan cepat memasukan lengkong, delima, cendol, kacang merah dan tape ke gelas. Lalu menyerut es dan memberi santan dan gula merah yang kental.

Marlina dan Hamzah menunggu pesanannya di mobil. Marlina baru melihat sebuah buku di dashboard mobil. Buku kumpulan puisi ‘Tafakur Sunyi‘ karya Foeza Hutabarat tergeletak begitu saja.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (30)

“Suka puisi juga?”

“Buku ini karya Foeza Hutabarat penyair Medan yang berdomisili di Jakarta. Penyair ini seangkatan ayahku waktu berkesenian di Taman Budaya Medan,” kata Hamzah.

Tanpa perintah Hamzah mengambil buku kumpulan puisi ‘Tafakur Sunyi‘ dari tangan Marlina dan keluar mobil.

Marlina kaget dengan sikap Hamzah. Takut kalau Hamzah marah. Belum habis rasa kagetnya, Hamzah sudah konsentrasi di bawah pohon jati kering. Disaksikan Marlina dan pedagang es campur, di tepi jalan Hamzah membaca puisi berjudul ‘Tafakur 6‘. Suaranya melengking. Tangannya bergerak seirama bait-bait puisi yang dibacanya. Ekspresinya keras.

lewat pintu yang mana
sunyi lari dan pecah di udara?

akhfa telah ditentukan titiknya
untuk menju belantara rasa

di halaqah bertiang bambu
khalwat menunggu diamnya batu

hawa kemarau baluri peluh
lafaz penempuh arungi pelabuhan jauh

wahai lidah tertekuk lemah di langitlangit
basah di gerimis kalbu yang sakit

Marlina seketika mengabadikan Hamzah yang sedang baca puisi dengan ponselnya. Tiba-tiba kaget melihat wanita cantik berbusana Melayu muncul di samping Hamzah. (***)

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (31)

Pondok Melati

Regardo Sipiroko

*DILARANG mengutip keseluruhan atau sebagian dari Novel Mini ini dalam cuplikan atau utuh untuk film, video, audio, tulisan atau bentuk apapun tanpa izin dari www.gapuranews.com