Kabut Tanah Tembakau (16)

oleh -231 views

PERKEBUNAN Tembakau Deli memang sudah binasa, namun jejaknya masih banyak berdiri di sekitar kota Medan. Setelah keluar mobil Marlina terkesima melihat jejak kejayaan Tembakau Deli dengan banyaknya bangsal-bangsal tua dan tak terawat di Saentis. Setelah memarkikan mobil di bahwa pohon, Hamzah memperhatikan gerak-gerik Marlina yang begitu bersemangat.

Marlina memotret bangsal-bangsal tembakau dari ponsel yang baru dibelinya. Sejurus kemudian Marlina membikin video dengan mengambil gambar dari langit yang cerah, lalu perlahan menangkap atap bangsal dan melebar serta jatuh pada bidang di antara bangsal. Dari kejauhan terlihat sosok wanita cantik berbusana Melayu berwarna hijau mendatangi lensa camera ponsel. Lewat kamera ponsel Marlina mengikuti sosok wanita itu yang kian mendekat.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (121)

Tepat di depan mata Marlina, wanita cantik berbusana Melayu itu tersenyum. Mempesona dan magis. Bulu kuduk Marlina merinding. Marlina membuang rasa takutnya agar bisa berkomunikasi dengan wanita misterius itu.

“Selamat datang di tanah leluhurmu, Marlina. Kami tak jemu menunggumu,” kata wanita cantik itu dengan sopan dan lembut.
“Anda siapa?” tanya Marlina.
“Nanti Marlina akan tahu,” ucapnya.
“Maksudnya?”
“Kalau Marlina sudah siap. Saya akan membawa Marlina ke leluhurmu,” kata wanita cantik.
“Saya tidak mau!” sambar Marlina.
“Perlu waktu…” kata Wanita cantik itu seketika menghilang dari ponselnya ketika Hamzah menyapanya.
“Kamu bicara sama siapa, Mar?” Tanya Hamzah. Marlina gugup. Marlina menenangkan hatinya dengan menarik nafas dalam.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (123)

Hamzah mulai kecut. Hamzah baru sadar kalau Saentis adalah kampungnya Orang Bunian. Bulu kuduk Hamzah ikut bergidik seiring semerbaknya aroma wangi di sekitarnya. Susana pun menjadi magis. Hamzah mulai ingat cerita emaknya tentang orang bunian di Desa Saentis.

Marlina menoleh ke kanan, melihat susana sudah berubah. Dia berada di tahun 1887. Ia menyaksikan kuli-kuli kontrak perkebunan sedang mengangkat tembakau ke bangsal untuk dikeringkan. Mereka berjalan berjejer lebih dari 20 orang dari berbagai suku. Marlina berdiri di dekat mereka, namun tak satu pun yang melihatnya. (***)

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (122)

Pondok Melati

Regardo Sipiroko

*DILARANG mengutip keseluruhan atau sebagian dari Novel Mini ini dalam cuplikan atau utuh untuk film, video, audio, tulisan atau bentuk apapun tanpa izin dari www.gapuranews.com

The following two tabs change content below.
Gambar Gravatar

gapuranews

Gambar Gravatar

Latest posts by gapuranews (see all)