Kabut Tanah Tembakau (117)

oleh -57 views

MASYARAKAT sudah berkumpul di alun-alun. Mereka datang berbondong-bondong untuk menyaksikan malam pesta penyambutan calon permaisuri Ruwondo. Mereka berdatangan dari berbagi penjuru wilayah dan desa. Banyak dari masyarakat ingin tahu wajah calon permaisuri.

Masyarakat berharap permaisuri bisa merubah watak Ruwondo yang sadis dan bengis. Alasan itu mungkin membuat mereka berondong-bondong hadir. Adanya juga tidak mau tahu hanya hanya pasrah menunggu takdir. Ada juga yang ingin melihat hiburan semata. Handoyo dan pasukan elite lainnya sudah menyusup ke tengah masyarakat.

Derap langkah tapal kuda kereta memasuki istana. Masyarakat yang berkumpul menjadi menyebar ketika kereta yang membawa Marlina telah memasuki pintu gerbang istana. Masyrakat bersorak-sorai ketika kereta kuda melintas.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (123)

Marlina duduk di kereta kuda terlihat cantik dan angun. Di sampingnya ada Bunga dan Jelita serta Harum Cempaka. Marlina tidak ingin melihat ke luar jendela kereta kuda. Masyarakat mengelu-ngelukan denga menebarkan bunga ke arah kereta yang dikawal dengan pasukan bersenjata.

Di belakang kereta kuda yang berjalan lambat nampak kereta rombongan pangawal dan para penghias. Rombongan terakhir adalah kereta pengawal Marlina dan nampak Rakat berdiri gagah. Sementara Hamzah disana berdiri tenang di belakang kareta.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (122)

Marlina kecut melihat suana yang begitu meriah. Ia ingin menangis dan berteriak. Tapi ia tidak mungkin melakukannya. Jika ini dilakukan semua rencana akan gagal. Bukan dirinya saja yang terancam, tapi juga Jelita, Bunga, Harum Cempaka, Rakat, kakek buyutnya Handoyo dan Hamzah.

Kaki Marlina menggeletar. Harum Cempaka melihat kaki Marliana lalu melirik wajahnya. Harum Cempaka merasakan begitu takutnya Marlina. Lalu perlahan memegang Harum Cempaka tangan Marlina dan tersenyum memberikan semangat.

“Tenang! Semua sesuai rencana,” kata Harum Cempaka.

Marlina diberikan semangat merasa lega. Ia menarik nafas panjang. Jelita dan Bunga memberikan dukungan dengan memegang tangan Marlina secara bersamaan. (***)

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (121)

Pondok Melati,

Regardo Sipiroko

*DILARANG mengutip keseluruhan atau sebagian dari Novel Mini ini dalam cuplikan atau utuh untuk film, video, audio, tulisan atau bentuk apapun tanpa izin dari www.gapuranews.com

The following two tabs change content below.
Gambar Gravatar

gapuranews

Gambar Gravatar

Latest posts by gapuranews (see all)