Kabut Tanah Tembakau (115)

oleh -52 views

RINDU Handoyo sudah tidak tertahankan untuk segera bertemu dengan istri Harum Cempaka dan kedua putrinya serta buyutnya Marlina. Jika tidak komit dengan perjuangan, tentu sejak kabur dari penjara ia sudah menemui keluarganya. Bagi Handoyo melawan Ruwondo menjadi harga mati, jika tidak dirinya dan keluarganya yang akan mati. Tidak ada pilihan. Ini bukan dendam, tapi menumbangkan pimpina yang zalim itu sudah kewajiban.

Burung hijau menghampiri Handoyo. Segera ia mengambil pesan dari Rakat. Membacanya lamat-lamat. Segera ia mengambil secarik kertas dan menulis pesan dalam bentuk sandi ke Pangeran Saloka untuk bersiap bergerak bersama pasukannya ke istana.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (121)

Lewat burung hijaulah tiga kekuatan berkomunasi. Jelang tengah malam, serangan akan dilakukan dan itu sudah menjadi keputusan bersama. Keputusannya, setelah Marlina dan rombongan masuk ke istana, dua puluh lima pasukan elite Handoyo akan menyusup ke tengah rakyat yang berpesta.

Handoyo termasuk salah satu dari dua puluh lima pasukan elite yang menyusup dalam kerumunan rakyat. Handoyo ikut menyusup ingin memastikan keselamatan buyutnya Marlina. Bagi Handoyo tidak ada gunanya hidup jika buyutnya gagal selamatkan.

Dengan menyamar sebagai warga biasa, Handoyo dengan dua puluh lima pasukan elite menyebar diantara warga. Handoyo menyamar sebagai gelandangan dengan baju compang-camping. Goloknya tersimpang rapi di pinggang dan ditutupi kain yang sudah lusuh.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (122)

Handoyo telah mendekati gebang istana. Handoyo duduk di bawah sebuah bangunan. Disana dengan sebuah tongkat ia menjadi seorang pengemis sembari memperhatikan setiap orang yang masuk ke istana.

Melihat Handoyo mengemis, pengawal istana menghardiknya dengan kasar untuk meninggalkan kawasan istana.

“Hei pengemis! Menyikir dari sini!” kata pengawal istana.

Handoyo pun perlahan meningglkan kawasan istana dan menyelinap masuk di sela-sela gedung untuk kemudian bergabung dengan masyarakat sebelum acara pesta Ruwondo dimulai. (***)

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (123)

Pondok Melati,

Regardo Sipiroko

*DILARANG mengutip keseluruhan atau sebagian dari Novel Mini ini dalam cuplikan atau utuh untuk film, video, audio, tulisan atau bentuk apapun tanpa izin dari www.gapuranews.com

The following two tabs change content below.
Gambar Gravatar

gapuranews

Gambar Gravatar

Latest posts by gapuranews (see all)