Kabut Tanah Tembakau (108)

oleh -57 views

HAMZAH segera ke Saentis. Dalam perjalanan pikirannya masih tergaing-gaing dengan ucapan bapak tua bersorban yang ditemuinya di Masjid Raya Al-Mashun Medan.

“Dia bisa kau temukan dimana dia pernah mengajakmu,” ucapan bapak tua bersorban ini terus memenuhi otaknya.

Hamzah mempercepat laju mobilnya. Ia terus mengijak gas dengan meliuk-liuk di kota Medan yang padat dan panas. Banyak pengendara lainnya kesal dengan mobil yang dikendarai Hamzah yang melaju kencang.

Di kaca mobil yang terlihat hanya wajah Marlina. Hamzah mengucek-ngucek matanya, namun yang melintas tetap bayang-bayang Marlina. Batinnya semakin perih dengan nasib Marlina yang entah dimana.

Panas terik terasa menyengat ketika Hamzah tiba di kawasan bekas bangsal tembakau di Seantis. Debu-debu bertebangan. Jalan-jalan sepi. Angin kencang dari arah laut Percut mengoyang-goyang pucuk pohon tembu yang mulai berbunga. Daun pohon jati yang ditaman sembarangan berjatuhan. Daunya berterbangan di tiup angin.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (121)

Tiba di kawasan bekas bangsal Saentis, Hamzah memarkirkan mobilnya. Kelur mobil. Lalu memperhatikan seluruh penjuru kawasan bekas bangsal tembakau yang sudah lapuk dimakan zaman itu.

Hamzah mengingat kembali kemana saja dia bersama Marlina berjalan. Perlahan dan sabar Hamzam memperhatikan langkahnya untuk mengingat kemana dia dan Marlina bergerak di sekitar kawasan bekas bangsal tembakau tersebut.

“Ya. Kesana! Ke sana juga. Tapi, baiknya aku ke sana dulu,” katanya Hamzah sambil memperagakan langkah dan menagarahkan tangannya ke salah satu sudut bekas bangsal tembakau.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (123)

Hamzah tiba di sebuah rumpun bambu dekat dengan tamanan tembakau. Lama ia memperhatkan rumpun bambu tersebut. Tiba-tiba dirinya merasa ada kekuatan yang menariknya untuk melintasi rumbun bambu tersebut. Kian dekat, kian kuat magnit yang menariknya. Hamzah tersedot ke pintu gerbang alam bunian dan alam nyata.

Hamzah tidak bisa berpaling lagi. Kekuatan magnit begitu kuat membuat dirinya terdorong untuk masuk ke alam bunian. Semakin kuat Hamzah meronta semakin magnit menariknya sampain tiba di tapal batas alam bunian dan nyata. Di pintu gerbang ini, Marlina dulu sempat melintasinya. Kini Hamzah pun harus melintasi pitu gerbang tersebut. (***)

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (122)

Pondok Melati,

Regardo Sipiroko

*DILARANG mengutip keseluruhan atau sebagian dari Novel Mini ini dalam cuplikan atau utuh untuk film, video, audio, tulisan atau bentuk apapun tanpa izin dari www.gapuranews.com

The following two tabs change content below.
Gambar Gravatar

gapuranews

Gambar Gravatar

Latest posts by gapuranews (see all)