Film Sultan Agung Tayang di Festival Film Internasional Love is Folly di Bulgaria

  • Whatsapp
Dubes RI Bulgaria, Albania dan Makedonia Utara, Sri Astari Rasjid di acara press conference tanggal 29 Agustus 2019 untuk film 'Sultan Agung'. (ist)

SOFIA – Indonesia bangga, untuk yang kesekian kalinya film karya anak bangsa ditayangkan di kancah internasional, kali ini dalam rangkaian festival film internasional Love is Folly di Varna, Bulgaria pada Rabu 28 Agustus 2019. Film bergenre drama kolosal besutan sutradara terkemuka Hanung Bramantyo dan produser BRA Mooryati Sudibyo ini berjudul ‘Sultan Agung : tahta, perjuangan, cinta’ (2018).

Film ini menceritakan tentang sejarah perjuangan Sultan Agung Hanyakrusuma sebagai Raja Mataram dalam menyatukan nusantara dan menyatukan adipati-adipati di tanah Jawa yang tercerai berai akibat pengaruh politik VOC (kongsi dagang Belanda).

Tak hanya itu, film ini juga menampilkan kehidupan pribadi sang sultan yang dengan berat hati meninggalkan cinta pertamanya, Lembayung karena harus naik tahta sebagai pemimpin kerajaan Mataram untuk menggantikan sang ayah dan menikah dengan putri keturunan ningrat.

Film berdurasi selama 148 menit ini diperankan oleh sederet aktor serta aktris ternama Indonesia seperti Ario Bayu, Marthino Lio, Adinia Wirasati, Putri Marino, Anindia Ayu, Christine Hakim, dan Meriam Bellina.

Acara festival film berlangsung di Congress dan Festival Center di Kota Varna, pusat wisata musim panas Bulgaria, yang diikuti sekitar 70 film peserta. Sultan Agung sukses memukau hingga mendapatkan tepuk tangan serta respon positif dari para penonton dan tamu undangan yang datang.

Rata-rata mereka kagum dengan cerita, sinematografi film, seni bela diri, acting, dan keindahan alam yang ditampilkan. Dengan film ini, penonton jadi lebih mengenal sejarah Indonesia. Beberapa penonton juga dapat merelasikan keadaan dalam film tersebut dalam perjalanan sejarah mereka yang juga pernah diduduki negara lain.

Salah satu produser film dari Kanada yang ikut hadir dalam acara pemutaran film tersebut, juga mengungkapkan bahwa dirinya ikut menangis merasakan emosi para pemain.

Acara pemutaran film ini juga merupakan rangkaian acara promosi terpadu Indonesia dimana para penonton disajikan foto-foto destinasi wisata, kuliner Indonesia dan penampilan budaya sebelum film dimulai.

Pada acara press converence film tersebut tanggal 29 Agustus 2019, dalam pesannya Hanung Bramantyo sebagai sutradara menyatakan bahwa menceritakan tokoh sejarah besar seperti Sultan Agung bukan tugas yang mudah.

hal yang menarik dalam proses pembuatan film juga adalah ketika dirinya yang berlatar belakang Yogja juga melewati banyak diskusi dan perdebatan dengan sang produser Mooryati Sudibyo, yang merupakan keturunan langsung dari Sultan Agung dan hidup dalam tradisi Solo, untuk menentukan bagaimana budaya dan kultur Jawa akan ditampilkan dalam film.

Contohnya, mereka harus menentukan apakah sang raja akan mengenakan pakaian berlatar putih seperti dalam tradisi Yogyakarta atau berlatar coklat seperti dalam tradisi Solo.

Menurut Duta besar Indonesia untuk Bulgaria, Albania dan Makedonia Utara, Sri Astari Rasjid, tema Film Sultan Agung mengenai perjuangan dan nasionalisme juga sangat sesuai untuk diputar pada bulan Agustus sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT RI ke-74.

Dalam film ini digaris bawahi pentingnya unity diversity dan semangat persatuan dan kesatuan. Perwakilan Indonesia di luar negeri terus mendorong film Indonesia berkiprah di dunia internasional. Film juga merupakan sarana yang efektif dalam mempromosikan Indonesia, selain hal tersebut dapat berkontribusi mendorong industri kreatif nasional. (red/gr)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *