Festival Way Kambas ke-16 Target Internasional, Kelakukan Lokal

Foto ilustrasi: Tahayul Merdeka Lewat Bambu Runcing Part 1 : PERAN PRANGKO WINA MENEROBOS BLOKADE BELANDA, UPAYA TUNJUKKAN EKSISTENSI NEGARA BARU DI DUNIA INTERNASIONAL Pada saat menjelang atau sekitar kemerdekaan RI bulan Agustus, kita dikonstruksi secara keliru seakan bangsa Indonesia bisa meraih kemerdekaan dengan tangannya sendiri dan itu dilakukan walau dengan senjata bambu runcing. Omong kosong seperti itu (yang mungkin kena untuk pelajaran nasionalisme di sekolah dasar) sangat memalukan, merupakan pembodohan dan tidak mencerdaskan jika terus dijadikan memori bangsa. Seakan hanya mereka yang angkat senjatalah (termasuk senjata bohong-bohongan bambu runcing) yang dikenang jadi pahlawan. Pemain-pemain lain hanya penonton dan tidak masuk dalam historiografi Indonesia yang ditulis dari sudut kacamata kuda para politisi dan penulis sejarah militer di Jakarta. Peran prangko dan uang termasuk radio amatir surat kabar dalam perjuangan kemerdekaan yang tidak kalah hebatnya dari mereka yang main tembak-tembakan itu, satu baris pun, tidak muncul dalam pelajaran di sekolah-sekolah kita. Para guru sejarah harus melakukan inovasi pembelajaran sejarah dan harus menyadari ada begitu banyak mozaik (gagasan, cara, peristiwa, orang) dalam memperjuangkan kemerdekaan. Ketika Indonesia di blokade Belanda, bagaimana cara negeri ini berkomunikasi menyampaikan keberadaannya sebagai negara berdaulat dengan komunitas internasional? Prangko yang ada masih buatan Belanda dan Jepang, kantor pos pun (termasuk kantor Pos Besar Medan) masih dikuasai Belanda. Bagaimana prangko sebagai penanda adanya negara bisa diterbitkan dan diakui badan resmi prangko dunia (UPU) ? Tahun 1949 Indonesia menerobos blokade ini dengan mencetak prangko modern dan canggih di Wina, Austria dan mengurus pengakuan legalitas prangko itu untuk bisa diterima dunia. Sebuah lembaga di Amerika juga turut dalam upaya ini. Pertanda ada negara. Karena hobby pada filateli, patik ada kumpulkan 100 an jenis Prangko Wina yang sebagian patik tampilkan dalam postingan ini. Ada 200 an jenis prangko Wina yang diketahui dicetak, belum semua berhasil diburu, baru separohnya ada dalam koleksi patik. Prangko-prangko Wina (gambar, grafis, tulisannya) sangat unik dan tidak muncul dalam periode setelah kedaulatan RI. Ada tulisan "Merdeka Djogjakarta 6 Juli 1949" (ada apa rupanya tanggal itu maka penting diberitahu ke dunia internasional? Pakai kata Merdeka pula), "RIS Jakarta", "Repoeblik Indonesia", "Republik Indonesia" yang menarik untuk bahan telaah. Dalam dunia filateli prangko ini dinamakan Prangko Wina merujuk ke tempat pembuatannya. Tapi prangko ini sebagian besar tertahan di luar negeri, di larang Belanda sehingga tidak bisa masuk ke Indonesia. Tapi sebagian sempat lolos dan ada bukti sempat digunakan dalam pengiriman surat ke luar negeri. Siapa penggagas pembuat prangko ini, apa tujuan dan hasilnya, apa misterinya, siapa mereka yang mengurusnya, tema tema, gambar, desain dan tokoh yang ada di dalam prangko cetakan Wina itu? Internet di genggaman tangan nemudahkan untuk menelusurinya. Prangko Wina yang relatif mudah didapat kalangan filatelis ini (antara lain karena masa berlakunya singkat dan cetakannya banyak) sangat menarik untuk dijadikan media pembelajaran di sekolah : mempelajari bagaimana kemerdekaan Indonesia (di samping jalur pertempuran tembak menembak) juga dengan susah payah diperjuangkan oleh berbagai elemen masyarakat, berbagai profesi dan keahlian dengan dedikasi tak terbatas. Jika mozaik mereka yang berjuang di banyak jalur tidak diperkenalkan dan jadi inspirasi dalam sejarah bangsa, kita telah membonsai bangsa, mengkerdilkan sejarah dirinya dan di era sekarang, jadi mudah takluk dan ditaklukkan. (ist)

Oleh. Budi Hatees

Foto ilustrasi: Festival Way Kamas ke-15. (ist)

FESTIVAL Way Kambas, yang mengandalkan pesona Taman Nasional Way Kambas (TNWK), sudah 15 kali digelar oleh Pemda Kabupaten Lampung Timur. Tahun ini, tepatnya pada tanggal 11,12, dan 13 November, akan dihelat Festival Way Kambas yang ke-16. Angka 16 itu seharusnya menunjukkan bahwa festival ini mampu mendorong TNWK sebagai salah satu destinasi pariwisata di Provinsi Lampung yang mendorong tumbuhnya industri pariwisata di provinsi ini.

Bacaan Lainnya

Pada Jumat, 13 Agustus 2016 lalu, saya sengaja menghadiri rapat Panitia Penyelenggara Festival Way Kambas—kini diubah namanya menjadi Festival Way Kamabas Pesona Indonesia- yang ke-16 di aula Pemda Kabupaten Lampung Timur di Sukadana.

Dari tempat tinggal saya di Kota Bandar Lampung, jarak menuju Kota Sukadana sekitar 100 km, tak ada kendaraan umum. Saya memacu sepeda motor agar bisa hadir dalam acara, karena saya ingin tahu agenda-agenda Festival Way Kambas ke-16. Rasa ingin tahu itu didorong status baru TNWK, yang oleh ASEAN Center for Biodiversity ditetapkan sebagai salah satu taman warisan ASEAN (Asean Heritage Park/AHP) karena kekayaan keanekaragaman hayati di dalamnya.

Saya pikir, status AHP bagi TNWK itu akan memaksa Pemda Lampung Timur merancang ulang Festival Way Kambas, sehingga kekayaan keanekaragaman hayati di dalam TNWK disajikan sedemikian rupa agar menjadi milik public. Ini penting karena kekayaan keanekaragaman hayati itu, sejak lama acap menimbulkan masalah seperti konflik manusia dengan gajah, perburuan liar, dan lain sebagainya.

Saya membayangkan, misalnya, salah satu agenda Festival Way Kambas berupa mempertontonkan Delilah, bayi Badak Sumatera, bersama induknya, Ratu, di Suaka Rhino Sumatera Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur. Atau, ada semacam diorama tentang kehidupan gajah dan mengapa hewan berbelalai ini sering konflik dengan manusia.

Tapi, tidak, saya ternyata terlalu banyak berharap. Saat Ketua Panitia Penyelenggara Festival Way Kambas ke-16, Junaidi—juga Asisten II Pemda Kabupaten Lampung Timur—membuka acara dan memberi kesempatan kepada seluruh panitia menjelaskan persiapan agenda-agenda kegiatan, betapa terkejutnya karena agenda-agenda yang ditetapkan nyaris tak mendekati apa yang diinginkan para wisatawan.

Sebuat saja agenda Lomba Melukis Dinding, yang sesungguhnya lebih tepat disebut Lomba Mural, bertema sketsa kekayaan hayati TNWK. Ada juga Festival Buah-Buahan, Festival Kuliner, dan berbagai lomba ini dan itu, lebih ditujukan bagi masyarakat sekitar yang datang mengunjungi. “Promosi juga minim,” kata salah seorang pejabat di lingkungan Pemda Lampung Timur. “Saya tak melihat ada baliho dipasang di kota-kota besar, padahal festival ini bertarget nasional dan internasional.”

Belum lama Bupati Lampung Timur, Chusnunia Chalim, menyatakan keinginannya menjadikan TNWK sebagai destinasi wisata unggulan, baik nasional maupun internasional, mengingat selama ini telah terkenal dan banyak pengunjungnya. “Kami akan melakukan perbaikan-perbaikan, akan mengurai masalah-masalah yang ada di dalamnya,” kata Chusnunia.

TNWK didirikan Belanda pada tahun 1937, sampai sekarang masih terjaga sebagai Taman Nasional dan di sini diyakini ada sekitar 200 gajah sumatera (Elephas maximus sumatranensis). Gajah sumatera merupakan salah satu dari tiga subspesies yang diakui dari gajah asia, yang merupakan hewan asli dari Pulau Sumatera. Perbedaan secara umum, gajah asia lebih kecil dibandingkan dengan gajah afrika. Di antara gajah asia, gajah sumatera merupakan yang terkecil, dengan ketinggian bahu berkisar antara 2 meter dan 3,2 meter.

Pembentukan awal taman nasional ini bertujuan melindungi keberadaan gajah dan pada saat yang sama menciptakan saling menguntungkan untuk kedua gajah dan manusia.

Pusat pelatihan juga mengingatkan pada saat raja atau sultan memerintah Sumatera, ketika gajah dilatih dan dikerahkan dalam perang dan juga untuk tujuan seremonial. Gajah melakukan berbagai tugas seperti mengangkut kayu atau membajak sawah. Namun sekarang di TNWK pengunjung dapat melihat gajah melakukan kegiatan seperti bermain sepak bola atau pertunjukan menghibur lainnya. Di TNWK berdiri Rumah Sakit khusus gajah yang terbesar di Asia.

Selain konservasi gajah, di sini juga terdapat konservasi badak sumatera dan ada fasilitas Rhino Sanctuary. Sayangnya untuk bisa dapat melihat badak sumatera ini pengunjung harus punya izin khusus sebelumnya. Pengunjung atau wisatawan biasa tidak bisa melihat penangkaran alami badak sumatera ini.

Selain itu TNWK juga rumah bagi banyak flora eksotis. Diantaranya adalah: api-api (Avicennia marina), Pidada (Sonneratia sp), nipah (Nypa fruticans), Gelam (Melaleuca leucadendron), salam (Syzygium polyanthum), Rawang (Glochidion borneensis), ketapang (Terminalia cattapa), cemara laut (Casuarina equisetifolia), pandan (Pandanus sp), puspa (Schima wallichii), meranti (Shorea sp), minyak (Dipterocarpus gracilis), dan ramin (Gonystylus bancanus).

TNWK terpilih menjadi salah satu ASEAN Heritage Park atau Taman Warisan Asia Tenggara. Taman Nasional Way Kambas dipilih karena keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya.

“Taman Nasional Way Kambas (TNWK) dipilih oleh para delegasi negara-negara Asia Tenggara karena keanekaragaman yang ada di dalamnya. Terlebih keberadaan satwa langka yang hidup di dalam Taman Nasional Way Kambas,” kata Direktur Eksekutif ASEAN Center for Biodiversity Roberto V Oliva ketika berkunjung ke TNWK.

Dengan diakui sebagai warisan ASEAN, TNWK berhak mendapat dana pendampingan konservasi selama lima tahun ke depan. Dana itu akan digunakan untuk konservasi flora dan fauna di dalamnya.

“Dalam tahun pertama, TNWK akan mendapatkan dana pendampingan 1 juta euro. Nantinya hal itu akan kami evaluasi. Jika program dana pendampingan berjalan baik, dana pendampingan akan dinaikkan menjadi 2 juta euro. Namun, jika program tersebut tidak berjalan dengan baik, status TNWK sebagai warisan ASEAN dapat dicabut,” kata Roberto.

Dia berharap dana pendampingan tersebut benar-benar dapat membantu upaya konservasi di TNWK. Pasalnya, status TNWK bisa dinaikkan menjadi warisan dunia.

Dengan masuknya TNWK, kini ada 37 taman nasional yang menjadi warisan Asia Tenggara. Di Indonesia, selain TNWK, taman nasional yang menjadi warisan ASEAN, antara lain Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Kerinci Seblat, dan Taman Nasional Lorentz.

Salah satu nilai lebih yang membuat Way Kambas masuk dalam warisan ASEAN adalah habitat satwa langka. Beberapa satwa langka yang hidup di taman nasional seluas 125.621 hektar itu, yakni gajah, badak sumatera, dan harimau sumatera. Ketiga satwa tersebut bahkan statusnya dinyatakan terancam punah. (bh/gr)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *