Festival Pulo Dua Dibanjiri Wisatawan

oleh -581 views
Foto ilustrasi: Pulo Dua Banggai. (ist)

SULTENG – Festival Pulo Dua di Balantak, Kabupten Banggai, Sulawesi Tengah, 27-29 Oktober sukses menghadirkan ribuan wisatawan. Kegiatan yang ditampilkan yakni mengusung tema Berenang, Memancing, Mendaki dan Menyelam (B3M).

Para pengunjung menikmati berbagai kegiatan dalam festival itu. Di antaranya, lomba mancing hebat, foto underwater, selfie, fashion show tenun nambo, dan berenang.

Para wisatawan juga dimanjakan dengan berbagai stan kuliner daerah yang mayoritas terbuat dari ikan.

“Semua unsur terlibat menyukseskan acara. Hasilnya kurang lebih tujuh ribu wisatawan datang dari nusantara atau dari mancanegara. Impact-nya warga Balantak yang merasakan langsung dampak ekonomi dari Festival Pulo Dua,” ujar Bupati Banggai Herwin Yatim seusai Festival Pulo Dua, Minggu (29/10).

BACA JUGA BOS:   Bamsoet: Perlu Restrukturisasi Kredit Cegah Tingginya Kredit Macet

Herwin menambahkan, kabupaten yang dipimpinnya memiliki potensi bahari yang sangat besar. Wisatawan bisa menikmati destinasi alam dan bahari di Banggai. Misalnya, Sungai Lukmanenteng, Pantai Kilo Lima, Air Terjun Salodik dan Pulo Dua.

Di Pulo Dua sendiri, sambung Herwin, tidak hanya memiliki satu atau dua dive spot.
Pulau Dua memiliki sekitar 35 dive site. Beberapa di antaranya sudah dijelajahi dan diberi nama. Mulai Alibaba, Ondoliang Rock, Rock and Wreck, Batu Tetek, Solan Reef, Obe Point, Smile Point, Shallow Paradise, Batu Gong, Arena dan Batu Mandi atau Nemo Rock.

“Wisatawan asal Eropa paling banyak ke sini seperti Prancis, Inggris dan Australia. Dengan adanya Festival Pulo Dua ini, diharapkan mampu mengekspose potensi bahari serta memperbaiki infrastruktur yang ada di Pulo Dua,” katanya.

BACA JUGA BOS:   PLN telah sambungkan listrik gratis untuk 6.017 rumah warga

Sementara itu Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Esthy Reko Astuti mengatakan, Kabupaten Banggai memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah.
Baik yang berupa hasil laut seperti ikan, udang, mutiara, rumput laut dan sebagainya), aneka hasil bumi (kopra, sawit, coklat, beras, kacang mente dan lainnya), serta hasil pertambangan (nikel dan gas).

“Porfolio Kabupaten Banggai pertama dibanding daerah lain yang memiliki pertumbuhan ekonomi sebesar 37 persen dari tambang. Namun, oil and gas (minyak dan gas bumi), coal (batu bara), kelapa sawit (CPO) terus menurun, sehingga diperkirakan 2019. Pariwisata sudah menjadi penyumbang devisa terbesar di Indonesia,” katanya.

BACA JUGA BOS:   PLN telah sambungkan listrik gratis untuk 6.017 rumah warga

Esthy menjelaskan alasan pariwisata bakal menjadi penyumbang devisa terbesar. Pertama, tren pariwisata terus meningkat dalam lima tahun terakhir. Tren itu melejit dalam dua tahun terkhir ini.

Di sisi lain, sektor pertambangan menunjukkan tren yang tak menggembirakan. “Ini penting! Bisa dilihat kota-kota yang mengandalkan sumber daya alam kini pertumbuhan ekonominya di bawah sepuluh persen. Seperti Kota Watampone 5,3 persen, Kabupaten Bulukumba 4,6 persen. Oleh karena itu, Kabupaten Banggai belum telat untuk mulai switch ke pariwisata,” ujarnya. (***/gr)