Enam Puisi Chairul Zen

  • Whatsapp
Foto: Chairul Zen

Sajak: Chairul Zen

Hampa

Muat Lebih

tumpukan
nisan kata-kata
untuk apa lagi
kau teriak

puisimu buanglah
saja
lebih baik
kau tarik itu
garis
angin itu
buang saja
ke laut
kita cari samudera
baru
buat pelabuhan
untuk berkira

Petaling Jaya

Misteri

dalam diam
cermin mematut diri
membaca retak debu
lalu
berkaca
membaca batu
yang bisu
dalam kata

131018

Sepi

renyai tak jua
usai sesenja ini
meluruh senyap
di tingkap
kata yang tak terucap
mengurai sepi
di tenun lamun
tak bertepi
apakah yang lebih
dari langkah
yang tak pernah
menoreh jejak
masa lalu
lengah meneguh
kayuh kemudi
keakanan semakin
jauh semakin
jauh
sanubari melepuh
leleh dalam alir
liar kehidupan

Petaling Jaya 2019

Luruh

Masihkah lagi kau kan
menari, bersiul riuh
di pucuk cemara
dalam gigil musim semi
yang didera
salju
ketika mawar kehilangan
kuntum
yang hampir
mekar
masihkah
lagi
tak ada yang pasti

petang inipun
entah sampai
ke peluk senja
entahlah

kepakkan sajalah
sayapmu
penyanyi
bersayap
mengepaklah
meski salju
tak henti
mendera
dan tungku
pemanas
terus
membara

Hornchurch april 3 18

Beguling

di bola orang
beguling
di politik pulak
orang begulung
menggulung
dan melipat
gulingan di bola
boleh dihukum
wasit akan memekikkan
pluitnya
kartu kuning
karena guling
sandiwara
di politik pula
wasit tak berdaya
bermata tapi
tak menengok
bertelinga
tapi becongek
berhati tapi
membeku berjiwa
tapi berhantu
beragama?
ha ha
nanti dulu
untuk yang mana
satu?

berjiwa
tapi berhantu
beragama?
ha ha
nanti dulu
untuk yang mana
satu?

Petaling Jaya 70718

Tegak

masih berdiri
kau
di situ
lampu
kan sudah mati
dari tadi
tak ada lagi
cahaya

logika?
ah kau cari
saja di antara
tumpukan
nisan kata-kata
untuk apa lagi
kau teriak

puisimu buanglah
saja
lebih baik
kau tarik itu
garis
angin itu
buang saja ke laut
kita cari samudera
baru
buat pelabuhan
untuk berkira

30818

Gerbong ini

pengap dalam
racau
senyap
dalam kata

lihatlah
betapa makna
telah musnah
dibunuh keangkuhan
tak bertepi
lihat
lihatlah

telah dibungkus
sebuah zaman
sebuah masa
telah
dengan rapi
dilipat
dan

dibenam
dalam gerbong ini
dalam gerbong ini
dalam kereta ini
kita saling
tak mengerti

karena kata
telah kita
ganti
dengan belati
qalbu
kita ganti
dengan peluru

hornchurch 3/4/18

Biografi Chairul Zen

Semenjak SMA puisi dan cerpen karyanya, antara lain dimuat di Harian Patriot dan Waspada Medan, harian Angkatan 66 Jakarta dan Majalah Minggu Pagi Yogyakarta. Chairul Zen lahir Tanjung Balai Asahan dan sekolah dari SD sampai SMA di Binjai. Kuliah di Medan dan Amerika. Tahun 1978 jadi pemenang penulisan puisi mengenang Aoh Kartahadimadja BBC London.

Menjadi Penyiar dan Reporter RRI Nusantara III medan tahun 1966 sampai tahun 1978. Menyelenggarakan Siaran Sastra dan Musik di RRI Medan bersama Sori Siregar, bersama T Sita Syaritsa menyelenggarakan acara berbalas pantun di TVRI dan RRI Medan.

Tahun 1978 sampai 1981 bekerja di Radio Jerman Deutsche Welle. Tahun 1982 kuliah di Amerika utk program master komunikasi. Thn 1985 pindah ke RRI Jakarta dgn jabatan Di Bidang Perencanaan, dan Pembinaan Programa Siaran. Thn 1987 diangkat menjadi Kasubdit Pemberitaan RRI, antara lain menyelenggarakan acara siaran Mudik Lebaran dan Siaran Ibadah Haji.

Setelah itu menjabat sbg Selretaris Ditjen RTF, Direktur TVRI dan Dirut Pertama LPP TVRI sampai tahun 2001. Pensiun tahun 2005 dalam jabatan terakhir Staf Ahli Menkominfo. (gr)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *