Cerpen Tiga Paragraf (Pentigraf) (47) ‘Pulangnya Si Anak Rantau’

oleh -1.063 views

BARU sehari Tora berada di kampung halamannya, tamunya tak henti datang. Semua disambutnya dengan ramah walau lelah menggayut. Dia tetap memperhatikan protokol kesehatan, tak bersalaman, tetap menggunakan masker. Tamu yang tak bermasker diberikannya secara cuma-cuma. Dan dia taat menjaga jarak untuk memutus jaringan covid-19 yang belum reda jua. Angka yang terpapar covid-19 semakin memuncak, di atas seribu orang. Kalaupun turun hanya sehari, esoknya melonjak lagi. Tora juga menerima kunjungan beberapa personil komunitas sastra, melakukan rapat kecil untuk kegiatan yang akan mereka lakukan. Tora senang semua yang hadir memenuhi protokol kesehatan, rapat berjalan penuh suasana kekeluargaan diiringi canda-canda segar. Tora merasa hidup kembali dari kesunyian yang panjang di rantau orang. “Di manakah dua sahabatku, Hang Kilau dan Mat Litak”, Tora bergumam.

Dalam susah dan senang Tora tak melupakan kedua sahabatnya itu. Baru beberapa detik dia mengingat sahabatnya tersebut, Hang Kilau dan Mat Litak muncul dengan menenteng durian. Marissa cemburut, “Mat, jangan kau kasih laki-ku durian, kau simpan di dapur, nyelap nanti darah tingginya”, kata Marissa pada Mat Litak. Hang Kilau mengipas, “sudah kularang kak, kata si Litak, Tora yang pesan.” Mat Litak tergelak, Tora memberi jempol. Mat Litakpun menutup muka. Tamu-tamu yang lain tersenyum-senyum menyaksikan adegan itu. Tok Umbul dukun tua bersorak senang “durian datang tundalah pulang”, dia bergumam. Mat Litak ke dapur, membelah durian dan menyaji buat orang-orang yang masih betah berkombur di rumah perantau tersebut.
Marissa ikut duduk berebut durian dengan Tora. Tora tak peduli larangan Marissa. Akhirnya durian pun ludes sekejap saja. Suasana yang sudah lama hilang dirasakan Tora, bertunas lagi.

Tiba-tiba Mat Litak pura-pura ke belakang, dia barusan dapat WhatsApp dari Ratih lima menit lagi dia tiba di rumah Tora. “Kemana kau Litak?”, tanya Hang Kilau. Mat Litak mengatakan dia ngantuk berat. Kamar yang biasa dia huni jika ke rumah Tora dikuncinya.
Tora, Hang Kilau dan Marissa kaget ketika Ratih mengucap salam. Marissa menyongsong. Ratih memandang liar, “di mana Mat Litak?”, Ratih bertanya pada dirinya sendiri. Marissa menangkap keliaran itu dan berucap, “barsemu terkapar mabuk durian Ratih. Tenanglah, jodoh takka ke mana”, kata Marissa meledek Ratih. Ratih tersipu. Hang Kilau mendehem. Tora menambah merah muka Ratih. “Kekasihmu dari pagi tadi menunggumu, mungkin dia merajuk. Bujuklah dengan ilmu psikologi.”
Mendengar itu semua yang hadir di ruang tamu tergelak ledak. Marissa bijak, membawa Ratih ke dapur. Menyantap durian yang masih tersisa. (***)


Binjai, Juni 2020
Tsi taura