Cerpen Tiga Paragraf (Pentigraf) (46) ‘Rindu Dan Cuka’

oleh -1.067 views

TIGA bulan lebih bukanlah waktu yang singkat bagi perindu kampung halaman. Amukan covid-19 membuat banyak orang menderita lahir & batin. Anjuran tak keluar rumah, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Surat Ijin Keluar Masuk Jakarta, rapid /swab dan surat ijin atasan keluar Jakarta bagi Pegawai Negeri, Jaksa, Polri dan KPK serta surat pernyataan bagi yang bukan tersebut di atas diketahui Lurah setempat dan larangan mudik menambah rindu semakin terkungkung. Armada Angkutan Darat dilarang membawa penumpang dan tak ada pesawat udara yang beroperasi, menambah deretan bisul kerinduan yang tak tahu kapan pecahnya. Tiada yang bermula tanpa akhir kecuali keberadaan Allah yang maha abadi. Lamunan Ratih Pratiwi yang berprofesi sebagai Psikolog singgah pada seorang lelaki yang pernah menjadi pasiennya. Mat Litak duda yang istrinya meninggal dunia akibat menderita covid-19. Mat Litak stress berat, dalam rawatannya Mat Litak kembali menemukan dirinya, semangat hidupnya kembali menyala. Berkat bantuan Tora, sahabat Mat Litak, Ratih pergi ke Medan di saat PSBB transisi. Dia tahu, Hang Kilau, Tora dan Mat Litak sehari PSBB transisi pulang Ke kampung halamannya.

Di pintu keluar Bandara Kualanamu, Ratih dijemput Marissa, istri Tora.
Kedatangan Ratih disambut mendung yang pekat. Sekali-sekali petir menyalak. Pertemuan di Bandara tersebut begitu haru, mereka berpelukan mengabaikan protokol kesehatan. Ratih kelihatan begitu lelah, wajahnya muram, tapi kecantikannya tak pudar. Gesitnya masih kentara. Di seputar Tanjung Morawa, Marissa membelokkan kenderaannya ke Rumah Makan Tahu Sumedang. Ratih tak menyangka di situ telah menunggu Tora, Mat Litak dan Hang Kilau. Seperti Ratih, Mat Litak tak menduga Ratih muncul bersama Marissa. Tora dan Hang Kilau meledek Mat Litak, “Mat, buah rindumu jatuh ke pelukanmu”, kata Hang Kilau. Merah padam wajah Mat Litak. Tangannya dingin dan gemetar ketika bersalaman dengan Ratih. Dia tak tahu, Ratih adalah putri kelahiran Medan. Jantungnya berdegup ketika Ratih tersenyum duduk berhadapan dengannya. Suasana begitu kaku, Tora mengajak Marissa dan Hang Kilau berpindah tempat duduk, jauh dari sahabatnya itu. Seakan memberi kesempatan supaya Mat Litak dan Ratih bebas mencurahkan hati.

“Tora banyak cerita tentang dirimu, sudah lama dinda kenal dengan Marissa”, tanya Mat Litak. Ratih membeberkan soal Marissa, teman satu Sekolah di SMP di jalan Pelajar Medan. Pembicaraan mereka akhirnya sampai ke pucuk, “aku datang untukmu walau kutahu berat bagimu mengambil keputusan”, dengan suara parau Ratih berterus terang. Mat Litak tertunduk, dia sedang berpikir jawaban apa yang pas dia berikan. Mat Litak meminta waktu untuk menjawab. Ratih tersenyum. Dia tahu Mat Litak tak bisa didesak untuk berbicara. Lima belas menit kemudian dengan tenang Mat Litak mengatakan cintanya pada almarhumah istrinya seperti rambut bersimpul mati. Ratih bergumam, “rinduku bercuka. Perih tapi aku memaklumi sikapnya.”
“Ratih, aku tak bisa menipu diriku. Aku berhutang budi padamu. Mana tahu esok lusa Allah membolak-balik pikiranku.”
Ratih menatap dalam gestur Mat Litak, dia melihat sinyal harapan masih bergetar.
Dan merekapun bubar di bawah hujan yang melebat. Ratih bersama Marissa bernostalgia hari itu. Mat Litak mengabarkan pada ayahnya pertemuan tersebut. (***)


Medan, Juni 2020
Tsi Taura