Cerpen Tiga Paragraf (pentigraf) (30) ‘Di Ujung Jalan’

oleh -1.157 views
tsi taura

Senja baru saja luruh di atas kota Jakarta. Tak ada pelangi yang biasanya menyucuk laut, udara gerah melelah raga. Sayup-sayup azan menggema di jalanan sunyi sejak diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Andalan Daud, Lelaki berjaket hitam memacu sepeda motornya ke arah Kemang. Andalan sedang melacak seseorang yang menipu petani oleh seorang lelaki mantan dewan di sebuah kabupaten, kota pariwisata di kaki bukit yang indah panoramanya. Lelaki penipu itu bernama Mawas Goliat. Andalan memasuki area Kemang Timur, perutnya melilit, lapar singgah di raganya. Dia melihat di sebelah kiri jalan ada penjual mie Aceh. Dia singgah menghentikan laparnya. Dua porsi mie dan segelas teh manis dingin sekejap saja ludes. Saat dia duduk rileks menghembuskan asap rokok, matanya tertuju pada seorang lelaki dan seorang perempuan berpoles menor. Tergelak-gelak seperti pelacur di rumah bordir. Andalan Daut bersikap tenang dan dingin menatap tajam lelaki itu.

Andalan mengirim pesan singkat pada anak buahnya, “Saya di Kemang Timur, resto mie Aceh, segera bawa mobil, target di sini.” Sekejap saja, lelaki itu diseret ke mobil. Andalan pura-pura tak melihat kejadian tersebut, dia ke WC. Dan kembali duduk dengan tenang, menunggu laporan anak buahnya. Satu jam kemudian Andalan menerima laporan, bukan saja petani itu yang menjadi korban penipuan oleh lelaki yang mereka ciduk tadi. Teman akrab Andalan, Roy Aryo juga menjadi mangsanya. Pelaku itu disekap dengan kondisi babak belur, menunggu keluarganya melunasi segala tipu dayanya. Andalan pun pulang ke rumahnya tak jauh dari resto mie Aceh tersebut.

Tiba di rumah, Andalan kaget, pintu pagar rumahnya terbuka, di grasi parkir mobil sedan Honda. Di teras duduk seorang perempuan, Anita dengan wajah muram. Andalan menyalami Anita dan duduk di teras. Mereka berbincang ala kadarnya. Anita menutur dia kehilangan anak dan suaminya, direnggut covid-19.
Dia seorang pramuria di sebuah night club jakarta. Dia datang malam ini memohon pertolongan Andalan Daud menagih uang yang dipinjam seorang pengusaha mata sipit. Pengusaha itu janji ke janji belaka. Andalan diam saja tak menanggapi cerita Anita, perempuan masa lalunya tersebut. Anita paham, jika Andalan diam jangan didesak untuk menjawab. Anita tersenyum dan pamit. Andalan Daud berujar lembut, “Kalau sesat di ujung jalan, kembalilah ke pangkal jalan. Aku harap ini yang pertama dan yang terakhir kau menemuiku. Aku telah bahagia dengan istri dan anak-anakku.”
Anita mengangguk dan menjelaskan dia datang bukan ingin membangun puing-puing cinta yang berserakan. “Hatiku puas telah kau terima maafku”, Anita bergumam.

Bdg, 100520
Tsi taura