Cerpen Tiga Paragraf (Pentigraf) (18) ‘Pitaloka’

oleh -776 views
tsi taura

Gerak kebebasan anak manusia di tanah air semakin dibatasi. Berbagai upaya dilakukan penguasa untuk melindungi rakyatnya dari dampak covid-19. Ke mana-mana dihadang petugas. Udara dilarang terbang, laut dilarang berlayar, di darat dilarang melayap. Mimpi pun tak pernah lagi hadir di katil. Rindu dibunuh hidup-hidup. Makin dibunuh makin bergairah membelah sel rindu. Pitaloka, perempuan cuek sejak remaja yang dulu tak pernah disinggahi rindu pada kedua orang tuanya, terlebih ketika dia menikah tahun lalu, diserang rindu tak tertangkisnya. Kemarin di sudut dapur dia meratap panjang. Rindu pada orang tua menghantui langkahnya. Covid-19 membuat Pitaloka berubah sikap, dia menyesal selama ini dia mengabaikan kasih sayang orang tuanya. Biasanya sebulan minimal sekali ayah ibu menjenguknya. Kini mereka terbelenggu di tanah Pasundan.

Di video call, Pitaloka menumpah rindunya. Selalu berharap agar orang tuanya bisa pulang ke kampung menjenguknya. Namanya juga orang tua walau kecewanya sudah mengabu-abu, air matanya tetap menetes menyaksikan putri sulungnya tersiksa rindu. Tapi apa mau dikata, larangan keluar rumah harus mereka patuhi.
Semakin hari semakin tersiksa batin Pitaloka menahan rindu pada orang tuanya. Dia mulai terjangkit stres, sepanjang dinding kediamannya yang lumayan besar ditempelinya dengan foto-foto ayah ibunya. Dia pun bernyanyi lagu-lagu bertema ibu. Letih bernyanyi dia juga membaca puisi-puisi ciptaan ayahnya. Sampai-sampai dia lupa makan. Suaminya dengan sabar membujuknya, “berdoalah, berzikir dan berselawatlah, dik, Allah akan menolong kita menebus rindu yang adik rasakan,” kata suaminya.
Pitaloka tak memperdulikan nasihat suaminya dan bahkan mertuanya pun tak didengarkannya.
Pitoloka dibawa ke psikolog untuk mengatasi stresnya. Ratih, sang psikolog menyarankan Pitaloka untuk segera bertemu dengan orang tuanya, minimal salah seorang di antara mereka.

Berita tentang Pitaloka sampai juga ke Pasundan. Orang tuanya sepakat, sang ayahlah yang berangkat ke Medan. Dengan berbagai cara, sang ayah tiba juga di kediaman putrinya.
Sang ayah menangis melihat kondisi putrinya, kurus seperti tak terurus. Saat dia tiba, si anak sedang tertidur pulas. Ratih sang psikolog tersebut menggembirakan hati sang ayah. “Kita tunggu dia bangun ya pak, saya tidak pulang sebelum dia bangun.”
Sekitar sejam kemudian Pitaloka terbangun. Perlahan-lahan dia memandang ke sekelilingnya. Menatap lama pada ayahnya, seperti dia baru siuman dari tidur yang panjang. Tiba-tiba dia bangkit memeluk ayahnya. Suasana yang mengharukan, dia memeluk kakinya, mengharap ampunan terhadap salah dan dosa yang pernah dia lakukan.
“Tiap musibah ada hikmahnya. Takdir tidak berhenti di sini”, ujar kiay Garu Semeru yang hadir di kamar tempat Pitaloka terbaring. Ayah Pitaloka mengangguk dalam derai hujan petir yang menyalak.

Bdg, 270420
Tsi taura