Cerpen Tiga Paragraf (Pentigraf) (14) ‘Pengantin Corona’

oleh -735 views

Mei Ling ditentang keras oleh kedua orang tuanya menikah dengan Udin Buras. Demi cinta Mei Ling tak mengacuhkan larangan orang tuanya, dia diusir dari keluarganya. Tak diakui lagi sebagai anak oleh ayahnya. Tak ada paksaan, tak ada ajakan dari siapapun, Mei Ling dengan ikhlas memilih Udin Buras sebagai pendamping hidupnya. Mereka menikah siri karena orang tua Udin Buras yang kuat adat istiadatnya menolak bermenantukan Mei Ling.
Pada Udin Buras saat akan menikah, Mei Ling berharap, “Jangan kecewakan aku, aku telah berkorban pahit dalam hidupku, meninggalkan orang tua dan adat istiadat leluhurku, aku akan menyumpahimu sepanjang hidupku jika kau mengkhianati cinta tulusku padamu.” Udin Buras memegang erat jemari Mei Ling bersumpah takkan melanggar janji yang telah mereka ikrarkan. Dan mulailah mereka menjalani hidup baru, di sebuah rumah kontrakan, dalam gang yang sunyi.

Mei Ling bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit swasta. Udin Buras, teknisi di sebuah perusahaan asing.
Usia perkawinan mereka baru enam bulan, wabah covid-19 menyerang siapa saja, ratusan negara terdampak virus baru itu.
Korban terdampak virus tersebut semakin hari semakin bertambah, mulanya tak sebanding antara yang sembuh dan yang meninggal dunia serta yang terinfeksi positif menunjukkan grafik yang meningkat. Panggilan hati Mei Ling menjadikan dia sebagai relawan di ruang isolasi pasien covid-19. Malang baginya, tiga hari bertugas, dia dinyatakan positif terinfeksi covid-19. Udin Buras pasrah terhadap nasib istrinya, setiap hari dia berada di pos penjagaan rumah sakit yang merawat istrinya. Hampir tiga minggu lebih Mei Ling dirawat dan dinyatakan sembuh dan diijinkan pulang. Mei Ling menghubungi suaminya melalui telepon selular, aktif tapi tak menyahut panggilannya.

Di hari Mei Ling diijinkan pulang, paginya Udin Buras di-PHK oleh perusahaan tempat dia bekerja. Dunia terasa gelap, Udin merasa terpukul atas kejadian itu. Dengan terhuyung dia memasuki rumah kontrakannya. Dia sambar obat anti serangga, Baygon, dia bawa ke kamar tidurnya. Kepalanya semakin pusing dan tergeletak di ranjang. Mei Ling yang baru tiba memekik, mengguncang-guncang tubuh Udin Buras. Perlahan, Udin membuka matanya. Melihat Mei Ling di sampingnya, dia bangkit dan memeluk erat istrinya. Mei Ling menyesali sikap culas Udin Buras, hendak bunuh diri dengan meminum cairan Baygon. “Kau seperti tak ber-Tuhan saja.” Udin Buras tersenyum di pinggir katil dia menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi. Dia bukan mau bunuh diri tapi menyemprot nyamuk dan kecoa agar kamar pengantin corona ini tetap steril. Mei Ling tergelak, berbisik mesra.

Bdg, 230420
Tsi Taura