Cerpen Tiga Paragraf (Pentigraf) (10) ‘dr Amelia’

oleh -460 views
tsi taura

Lewat tengah malam di kota rantauku, tanah Pasundan, suara anjing menyalak, seperti dicekik dan mungkin juga anjing itu melihat sesuatu yang aneh dan menakutkan. Suasana semakin mencekam, suara gagak hitam menyayat sukma. Aku masih di ruang perpustakaan, tiba-tiba pintu rumahku diketuk berkali-kali memanggil-manggil namaku. Segera aku menuruni anak tangga, kusingkap sedikit kain jendela, pas untuk mengintip siapa yang mengetuk pintu. Kulihat sepasang suami istri menggendong anaknya, tetanggaku, kubuka pintu. Si suami memohon padaku untuk berkenan membawa putrinya yang masih balita itu ke rumah sakit. Kupegang keningnya, panas sekali, segera kubuka grasi mobil, melarikan ke rumah sakit terdekat. Beberapa rumah sakit menolak, dengan alasan tak ada dokter jaga.

Aku teringat seorang dokter yang selalu kukunjungi bila tak enak badan, dr Amelia, praktek di rumahnya di seputar jalan Buah Batu. Mobil kularikan ke sana, di sebuah perumahan terbilang mentreng. Rumah tak berpagar, kuketuk pintunya berkali-kali tak menyahut, aku nyaris putus asa. Ketika aku berbalik kanan, dr Amelia membuka pintu, aku kembali mengarah ke pintu yang dibukanya. Dia menyeru namaku untuk masuk ke rumahnya, tetanggaku tadi tak mampu berkata-kata lagi, kelihatan dia begitu kalut. Kami disuruh duduk dulu di ruang tamu. Dia membuka ruang prakteknya lalu menyuruhku membawa pasien ke ruangan tersebut.

Alhamdulillah anak ini hanya demam biasa, walau suhu tubuhnya cukup tinggi. Saat itu sebenarnya Amelia masih berduka, suaminya dokter yang merawat pasien covid-19, di ruang isolasi tertular dan tak tertolong nyawanya. Mayat suaminya ditolak dimakamkan di tanah leluhurnya, padahal penguasa berkoak mereka pahlawan kemanusiaan, mestinya jika mereka pahlawan makamkanlah di areal makam pahlawan. Tapi nasib suaminya tragis, Amelia hanya mampu menangis dan berjanji tak lagi ingin sebagai dokter. Dia melunak saat aku datang di tengah malam buta membawa balita yang kritis. Aku memandang matanya bagai riak air danau di kaki gunung. Anak itu tak diijinkannya pulang, dia ingin merawat sesuai sumpah dokter yang pernah diucapkannya. Ketika aku pamit, aku berharap padanya, sutera tak pernah menjadi macan. Anak balita itu bukan hewan yang sakit, mencari tempat di mana dia akan tewas. Kita dipertemukan untuk suatu alasan, rawatlah dia seperti ibumu merawatmu ketika balita. Amelia tersenyum, melambai jemari di bawah bulan hitam.

Bdg, 190420
Tsi taura