,

Cerpen Tiga Paragraf (Pentigraf), (04) ‘Duka Jalan Sunyi’

oleh -246 views
tsi taura

Oleh: tsi taura

HAMPIR tiga minggu aku berkurung di rumah akibat covid-19, dalam ruang perpustakaan, membaca, menulis, bertukar kabar dengan kawan-kawan di desa. Kemarin, ketika matahari masih redup, aku mengelilingi kota Bandung berjalan kaki, kenderaan aku titipkan di sebuah Bank di daerah Naripan. Jalan-jalan sunyi melompong, udara sejuk menggelatuk, hingga aku tiba di seputar Braga. Biasanya lukisan-lukisan terpampang panjang di trotoar, mataku kosong. Di kejauhan yang sunyi, kulihat seorang perempuan separuh baya menenteng lukisan, menyodor pada yang lewat. Dan tiba di depanku, perempuan tinggi langsing, berkulit bersih menatapku, seakan ia sedang menawarkan lukisannya. Aku tersenyum, ia tersipu, matanya sebab, lalu katanya, “ini sisa lukisan mendiang suamiku, jangan jual katanya, amanah itu terpaksa kulanggar, anakku satu-satunya yang kami miliki terserang demam berdarah, jika abang berkenan, bayarilah lukisan ini, sekedar membeli obat.”

Aku terenyuh, teringat dulu, abangku meninggal di usia anak-anak, ibu tak mampu membiayai perobatannya. Ke sana ke mari ibu mencari pinjaman, seorangpun tak perduli. Kubawa perempuan itu ke sebuah warung di mulut gang, kami makan apa adanya, seperti patah seleranya, seakan ia ingin cepat berlalu, tak ingin berbasa-basi.
Kubaca jalan pikirannya, kubayar lukisannya dengan semua isi dompetku.
Dia menatapku seperti mendung diiringi hujan gerimis. Dia menyerahkan lukisan itu dengan tangan gemetar. Kutolak, “simpanlah lukisan itu dalam rumah cintamu”

Kami saling berjabat tangan, berjalan berbeda arah, sebelum berpisah ia berkata lirih, “semoga Allah memberikan abang kesehatan dan limpahan rejeki.” Aku meneruskan perjalanan, menelusuri jalan sunyi. Hujan mulai merintik, petugas jalan raya sibuk memberhentikan kenderaan, penumpang-penumpang yang tak bermasker. Oh, corona, pulanglah ke negerimu. (***)