Cerpen Tiga Paragraf (Pentigraf), (03) ‘Duka Seorang Guru’

oleh -334 views
tsi taura

Oleh: tsi taura

CUACA masih muram di tanah Pasundan, seperti senja ini, hujan masih mengetuk-ngetuk bubungan rumah, petir memekik, angin bergemuruh, lama sudah aku tak melihat pelangi dan nyanyian burung-burungpun kehilangan lidah. Berganti lagu duka teman-teman di rantau, dalam renung covid-19 seusai maghrib aku mendapat berita dari seorang teman di desa, Tuti Pertiwi, guru berdidikasi, disenangi murid-muridnya, ia juga anggota komunitas yang kami bentuk dalam gersangnya tanah sastra di desa, dipecat oleh yayasan tanpa alasan yang jelas. Beberapa detik kemudian Tuti Pertiwi mengabarkan padaku, “langit runtuh, pak, tadi pagi, Tuti menerima surat pemecatan, Tuti tak mengajar lagi di sekolah bahasa tersebut”.

Aku terdiam panjang, berpikir keras untuk membantunya, mengajar di tempat lain. Gajinya jauh dari cukup di tempat mengajar kemarin, ia tak memperdulikan cukup atau tidak cukup, ia hanya menghindari predikat “pengangguran”. Ayahnya pedagang kecil terimbas covid-19, jualan tak jualan. Ibunya, ibu rumah tangga murni. Adiknya pun di PHK si Aliong. Sudah jatuh di timpa tangga pula.
“Sabarlah dulu, Tut, saya sedang berupaya kau bisa mengajar di tempat lain. Tiap musibah ada hikmahnya, Tut”, kataku menghiburnya. Aku yakin, dia takkan lama menganggur, keluwesan, kebersahajaannya menopang nasibnya, satu ketika ia akan menjadi orang yang sukses.

Pada kawanku yang juga seorang guru, kusarankan padanya, untuk mencari lowongan mengajar buat Tuti. Tora, kawanku itu menawarkan lowongan guru privat les di rumah temannya.
“Tora, kutanya dulu ya, semoga ia berkenan”. Hatiku gembira, semoga Tuti berkenan menjadi guru privat les. Gembiraku terhenti, Tuti tak bisa dihubungi lagi, berkali-kali kujapri, tak menjawab. Tak ada temanku di desa yang tahu keberadaannya.
Akhirnya kudengar, Tuti dibawa temannya ke Papua, di sana konon banyak lowongan mengajar. Alhamdulillah, Allah SWT tak tidur mendengar doa orang-orang yang teraniaya. Aku bersujud syukur walau kehilangan staf di kominitas sastra yang kudirikan dengan beberapa orang teman. Dia editor yang handal, kerja tepat waktu, bertelinga tebal. (***)

Bdg, 120420, tsi taura.