Cerpen Tiga Paragraf (Pentigraf), (01) ‘Seorang Kawan’

oleh -427 views
tsi taura

Oleh: tsi taura

SIANG ini, tanah Pasundan langit mendung. Angin bertiup lemah, udara menggigil raga, aku tetap saja di ruang pustka melahap buku-buku tua dan menulis sajak-sajak. Tiba-tiba seorang kawan yang sudah menghilang mengirim berita padaku. Katanya, “ia pernah demam tiga hari tapi bukan covid-19. Dan dia sudah 14 hari berkurung.” Tak kutanggapi, karena aku ragu, setelah kutanggapi dia menghilang lagi.
Dia mengirim WA lagi, “uang yang abang berikan itu kubelikan vitamin. Dan kini rambutku sesuai saran abang telah kupangkas pendek.”
Aku tetap tak menanggapinya.
Bukan karena kebencian, tapi membiarkan dia bercerita selama ia menghilang. Melatih dia bagaimana perasaannya jika kawan-kawannya pada sibuk mencarinya, dia cuek saja.

Udara semakin sejuk, seusai zuhur tadi ada keinginan untuk rebah memejam mata. Tapi HP ku berdetak terus, kawan-kawan dari berbagai daerah menyapa, pantang bagiku, untuk tidak melayani sapaan itu, kecuali aku lagi kesal dengannya.
Ini seharusnya tak kulakukan, tak elok menaruh dendam pada siapapun.
Tapi itulah aku dengan segala kelemahanku.
Berkali-kali aku mencoba untuk tidak berbuat seperti iti, tapi aku selalu saja kalah dan kalah.
Biasanya hal tersebut tak berlangsung lama, aku cepat memaafkan seseorang.

Akhirnya aku tertidur di ruang perpustakaan. Isteriku membangunkan, aku rupanya belum makan siang.
Sebelum keluar dari ruang perpustakaan, kubaca hp-ku, kawanku yang menghilang hampir sebulan itu, WA-nya beruntun.
Dia mengkhabar di WA terakhirnya, “skenario itu sudah siap bang, tinggal nunggu petunjuk abang, kapan kita eksekusi.”
Suara isteriku menggema lagi, “makanlah, nanti keburu dingin”.
Aku pun beranjak ke ruang makan.

Bdg, 100420, tsi taura.