Cerpen: Nasi Uduk Ceu Biyah

oleh -316 views
Ilustrasi

Karya : Ace Sumanta

Dipanggil oleh orang-orang Ceu Biyah, nama lengkapnya Salbiyah. Sudah hampir 10 tahun menjadi janda di tinggal mati suaminya yang sakit Tuberkulosis (TBC). Iya perempuan supel ketika bergaul di pengajian ibu-ibu, bisa menyimpan uang dan tetap semangat untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).

Selain jualan nasi uduk, gorengan bala-bala juga malam sesekali menjual kopi ketika para pemuda ronda atau begadang.

Salbiyah janda beranak empat ini terbilang rebo alias kalau ke pasar dan pengajian hampir seluruh perhiasannya di pakai, gelang, kalung, cincin juga kakinya sebelah pakai gengge. Itu mungkin yang membuat banyak lelaki naksir padanya.

Suatu hari mulai santer di kampung Bi Biyah ada yang melamar orang luar. Tak berlangsung lama, sudah sepi lagi. Anak yang paling besar Erwin sudah punya istri dapatkan orang Cirebon.

Anak ini cukup berbakti, perhatian ke ibunya juga sering pulang ke kampung setelah dapat gaji dari pekerjaannya di Jakarta. Ketika ibunya ada isu yang naksir ibunya, pasti anaknya Erwin mencari info jangan sampai salah memilih lelaki. Intinya anaknya itu, tidak mau salah lelaki apalagi sampai harta peninggalan bapaknya dulu terseret-seret alias di habisi oleh lelaki barunya.

Jika melihat usianya tidak terlalu tua ya sekitar 52 tahun Bi Biyah itu. Dagangannya cukup laris. Belum pukul 08 pagi uduk dan gorengannya sudah habis.

“Ya lumayan buat jajan dan nambah-nambah biaya sekolah adiknya si Erwin”, ujarnya ketika ada yang bertanya dah hampir habis dagangannya.

“Dasar lelaki…sok iseng saja, cubak cebek!”, ungkap bi Biyah ke Mang Adi yang suka iseng pegang pantat Bi Biyah.

“Sudah banyak incu juga…dasar”, hal itu tidak pernah kapok jika tangan memegang pantat, pasti langsung di omongnya.

“He he….atuh bohay…..”, sergahnya.
Itulah terkadang iseng yang dibarengi cunihin terkadang bisa juga membuat orang salah tafsir.

Kini sudah ramai kembali antara fakta dan gosip. Nampaknya mendekati kebenaran. Janda pengen kawin. Ada lelaki kampung juga sahabat suaminya ketika remaja naksir suka mengirim Whatsapp (WA), bahasa yang dibumbui dengan rayuan romantis.

“Pengen kawin……”, ujar bi Biyah ke setiap pembeli. Berita itu sudah langsung menyebar satu kampung.

Erwin sebagai anaknya mendengar berita itu, dan mengingatkan ke Ibunya kalau bisa tidak jadi. Sebagai tokoh tapi pengangguran dianggapnya, lagi pula ada istrinya masih sakit di Jakarta.

Sering kali Bi Biyah memperlihatkan Whatsapp (WA) di Handphone (HP) yang kalimatnya cukup menyentuh hati. Bi Biyah kali ini tidak main-main. Tutup warung sudah satu minggu, katanya sakit.

Anak lelaki pertamanya agak keras ucapan ke ibunya.

“Silakan nikah dengannya bu…keluarganya harus lunasi hutang Rp. 40 juta bekas pencalonan Kepala Desa kemarin”, sergahnya. Rupanya ibunya agak terhentak hatinya, sehingga membuatnya sakit. Kini tergolek terasa ingin di tengok oleh lemaki yang iya dambakan dan sudah tidak perduli iya masih beristri atau istrinya sakit. Rasa kangen dan rindu merumput di hatinya.

“Hayang kawinnnn, Erwin”, ungkapnya keras hingga membuat orang di sekelilingnya tertawa.

Senja hujan membuat tetangga yang menengok Bi Biyah buyar pada pergi ke rumah masing-masing.

(Bogor, 31 Maret 2020)