Cerpen Mini (Cermin) (65) ‘Hatiku Bukan Sembilu’

oleh -1.077 views
tsi taura

HAMPIR tiga tahun Mat Kilau tak memberi khabar pada istrinya, Sonya. Sonya tenang-tenang saja, seperti tak peduli suaminya. Dia hanya menghormati Tualang Petir dan Umi Kalsum yang sangat menyayanginya. Sonya bersikap seperti pepatah melayu, “pinggan tak retak nasi tak dingin, kau tak ada aku tak ingin.”

Mat Kilau hidup dalam kesendiriannya, kesendirian yang dia ciptakan sendiri. Dia mengacuhkan petuah leluhurnya, hidup dalam dunia kegelisahan. Karirnya melejit, tapi dia tak menikmati kehidupan yang hakiki. Dia larut dalam suasana batin yang tak terkontrol.

Lydia, dokter yang sama dengannya bertugas di Ternate semakin menyusup ke relung hati Mat Kilau. Mat Kilau tetap gamang meniti kehidupan baru bersama Lydia. Bayangan Sri Kumala terus mengusiknya. Jiwanya terguncang. Ingin dia pergi ke negeri yang jauh, negeri yang tak dapat disinggahi bayang-bayang Sri Kumala. Seperti bayangan Sonya yang tak menyinggahi sunyinya.

Sonya semakin melebarkan sayapnya di dunia sastra. Hampir tiap hari puisinya di dinding FB.
Dia tidak peduli orang mengkritik tajam puisi-puisinya. Katanya, “suatu karya yang dilemparkan ke publik menjadi hak publik mengkritiknya. Sipenulis tidak perlu marah, mestinya berterima kasih ada orang yang membaca karyanya.”
Tora dan Sonya semakin menunjukkan keterpaduan mereka dalam menggiatkan sastra.

Kata Tengku Tualang Petir, atok dari Mat Kilau, “Sonya, berbuat baik itu susah, banyak tantangan, ada saja membubuhi dengan kecemburuan, melempar gosip. Itulah adat dunia, “Jika engkau berbuat baik musuhmu dua, jika kau melakukan perbuatan tidak baik musuhmu satu.”

Akhirnya Sonya pun terserang virus kecemburuan, digosipkan black street dengan Tora.
Untung saja Marissa, istri Tora bukan lalang kering di musim kemarau. Dia tahu pribadi suaminya, dia tahu kesetiaan Tora dan dia memaklumi dunia seni suaminya. Sonya memeluk Marissa, berdesis kata, “Kak, hatiku bukan sembilu yang menusuk hulu hati kakak.”

“Kakak percaya, kau tidak sejahat apa yang dikatakan segelintir orang. Teruslah berkarya, bekerja sama dengan abangmu. Perlu kau tahu, suamiku itu selalu mendapat tantangan setiap dia berbuat kebaikan. Tapi dia seorang yang tenang, dia hanya mengadu pada Tuhannya.”

Ketika bulan purnama baru saja berlalu, malam tak berbintang, Sonya merasakan bumi berguncang keras, dia nanar, kesedihan tak dapat ditutupi saat Tengku Tualang Petir menyampaikan berita yang mestinya tidak dilakukan oleh Mat Kilau.

Makcik Umi Kalsum menenangkan pikiran Sonya, memberi semangat. “Sonya, hidup ini meninggalkan atau ditinggalkan. Selalulah kita beristigfar. Kita tak tahu apa yang terjadi dalam hitungan detik.”

Sulit bagi Sonya menerima kenyataan Kilau berbuat kejam padanya. Sulit dia percaya bahwa kesetiaan hanyalah sebuah penyiksaan batin. Dia semakin nanar dan rubuh. Saat itu anak Tora yang mulai menginjak dewasa berada di rumah Tengku Tualang Petir. Dengan cepat dia membopong Sonya ke mobil, membawanya ke rumah sakit bersama makcik Umi Kalsum dan Tengku Tualang Petir.

Tan Bima melihat si atok Kilau menangis. Dia sangat bersedih, sangat berduka atas nasib Sonya. Dia tahu betul, ayah Kilaulah yang bermohon agar Sonya mau menikah dengan Kilau. Dia kepingin di usia senjanya melihat kehadiran seorang cucu. Dengan berat hari Sonya mengabulkan permintaan ayah Kilau.

Alhamdulillah, di tengah jalan menuju rumah sakit, di pangkuan Umi Kalsum Sonya sadar, dia beristigfar berkali-kali.
Umi Kalsum buka bicara, “Bima, kita ke restoran saja, Sonya dari pagi hingga siang begini belum makan.”

Tan Bima merubah arah perjalanan menuju rumah makan Garuda yang terletak di jalan Gajah Mada, tak jauh dari toko Gramedia.
Di meja makan, Tan Bima duduk berdekatan dengan Sonya. “Sonya, masih pusing? Siap makan kita ke dokter ya”, kata Tan Bima. “Alhamdulillah, kita tak usah ke dokter”, kata Sonya. Mereka bertatapan sejenak, deburan ombak melanda keduanya. Tengku Tualang Petir mengedipkan matanya pada Umi Kalsum, sebuah isyarat yang dipahami oleh Umi Kalsum. (***)


Medan, 060820

Tsi Taura.