Cerpen ‘Amerta Wine’ Karya Jaya Arjuna

  • Whatsapp
Ilustrasi: Cerpen 'Amerta Wine' Karya Jaya Arjuna (ayub badrin)

Karya Jaya Arjuna

Kuakhiri kerja besarku dengan menekan tuts keyboard pada perintah ”RUN”. Aku yakin program yang kuberi nama ”Amerta Wine” segera akan mengubah dunia sastra Indonesia. Mungkin juga nantinya akan mengubah sastra dunia. Hancur lebur segala yang bernama kreatifitas. Remuk redam segala ilham. Mesin produksi cerpen dan novelku akan merajalela dengan karya sastra berkualitas prima.

Aku sudah memutuskan bahwa produksi cerpen pertamaku akan kuhadiahkan kepada seorang putra kelahiran Medan tahun 1910, Hasbullah Parindury Rangkuty. Satu nama yang menyebabkan adanya ”mesin sastra”ku, walau mungkin tidak punya arti bagi kalian. Tetapi aku yakin kalau kusebut nama aliasnya, Matu Mona, banyak yang terkesiap, karena nama besar penulis dan sastrawan itu sudah lama malang melintang di Indonesia.

Tokoh Rahman Rahim yang diciptakan Matu Mona dalam cerpennya Pujangga Melayu, selalu mendorongku untuk menghadirkannya ke dunia nyata. Aku memang tertarik dengan cerpen itu. Acuannya jelas. Yang berjalan dengan tidak wajar, harus dikalahkan. Klasik sekali. Rahman Rahim nama pengarang besar akibat mencuri minuman Amerta Wine yang diramu Tabib Ramaswami, akhirnya harus menderita sebagai pecandu alkohol. Tokoh penasaran Rahman Rahim ciptaan Matumona selalu muncul menggodaku. Hanya aku yang diharapkannya.

“Kau pasti bisa. Aku akan bantu kau jadi yang terbesar. Kau punya bakat!” Kata–kata itu selalu terngiang dalam telingaku, dan terkadang mengganggu alam sadarku. Suatu kali dia pernah berkata, ”Pemusatan fikiran Matu Mona untuk menciptakanku, telah menggoncangkan lautan gelombang eletromagnetis sumber ilham para seniman. Aku terperangkap di dalamnya. Aku penasaran karena diciptakan untuk dikorbankan oleh Matu Mona. Amerta Wine yang diramu oleh Ramaswami menyebabkan aku tergiur untuk jadi pengarang. Setelah aku jadi terkenal, seenaknya dia membuyarkan semuanya. Hadirkan aku. Kekalkan aku. Kau akan terkenal. Kau akan kujadikan pengarang besar. Selamanya!”

Aku tidak tertarik dengan tawarannya. Terus terang, aku tidak begitu suka dengan kejutan-kejutan. Aku telah membiasakan hidup apa adanya. Aku sangat sadar bahwa aku terlalu lemah untuk mengendalikan kemauanku. Sebagai penulis cerpen dan artikel, aku cukup puas dengan dua atau tiga karya setiap bulan. Aku hanya menulis kalau aku butuh menulis. Untuk tiga karya itu, honor yang kuterima masih lebih besar dari gaji pegawai negeri golongan dua. Mereka bisa hidup dengan gaji itu. Mengapa aku harus memaksa diri Aku berprinsip, ilham yang baik tidak datang secara borongan, karena kualitasnya akan terkesan murahan.

Begitulah. Setiap kali dalam keadaan labil, aku selalu digodanya. Selama masih menyangkut diriku, aku bisa teguh. Tetapi ”dia” lebih cerdik. Isteriku yang selama ini paling tabah dengan kehidupan sebagai isteri penulis, mulai banyak pinta. Aku tidak tahu bagaimana caranya hingga isteriku bisa tergoda.

”Bang, anak-anak kita makin besar. Cobalah cari pekerjan tetap. Aku tidak mengatakan bahwa sebagai penulis kita kelaparan. Tetapi kebutuhan kita bukan cuma makan. Anak-anak harus sekolah,” ucap istriku suatu ketika.

”Apa yang harus kulakukan? Aku hanya tahu menulis. Aku hanya punya ijazah SMA.”
”Abang bisa kerja di kantor sebagai tukang tik. Kalau bisa pegawai negeri. Bila tidak ada pekerjaan, abang bisa mengarang di kantor” cecar isteriku.

”Aku tidak suka jadi pegawai. Aku mau bekerja kalau diriku yang menyuruh. Mengerjakan pekerjaan pribadi dalam waktu dinas, adalah penyelewengan. Kau sudah salah niat,” aku jadi sewot.

”Abang hanya mementingkan diri sendiri…,” lalu isteriku menangis. Begitu selalu. Akhirnya rumahku makin diramaikan oleh suasana pertengkaran. Ada-ada saja masalahnya. Namun semuanya bermuara pada kebutuhan materi. Makin banyak masalah pelik yang kuhadapi, makin sering ”dia” menggodaku.

”Percayalah. Aku tidak akan mencelakakanmu,” Rahman Rahim meyakinkanku.
”Apa yang bisa kubantu?” akhirnya aku coba sedikit berkompromi.
”Buatkan aku Amerta Wine abadi!”
”Aku bukan tabib.”

”Aku tidak minta ramuan. Aku mau Amerta Wine dalam bentuk mesin sastra.”
”Aku bukan ahli mesin. Aku penulis.”
”Kau pelajari komputer. Beli. Aku akan menuntunmu.”
Begitulah. Akhirnya dengan dalih ingin bekerja di kantor, aku mengikuti kursus komputer. Belajar bahasa program. Siang malam. Walau aku tidak sempat lagi menulis, isteriku tidak bisa protes.

”Begitulah kalau bekerja. Harus disiplin.”
”Tetapi kita perlu makan. Kau juga harus menulis. Kita perlu uang.”
”Usahakan sendiri. Pinjam. Harus ada pengorbanan. Tanpa pengorbanan, tidak akan dapat pekerjaan. Hal itu lumrah saat ini.”

Kegilaanku dengan komputer makin bertambah. Dengan menggadaikan tanah di kampung, aku membeli seperangkat komputer. Aku juga membeli buku-buku mengenai cara menulis cerpen dan novel. Juga kumpulan-kumpulan cerpen Indonesia. Novel, kubeli dari tukang loak. Mungki juga hasil cetakan bajakan. Dalam hati, aku minta maaf kepada pengarang dan penerbitnya. Walaupun sedih karena kurangnya penghargaan masyarakat terhadap buku, tetapi dari segi ekonomis cukup menguntungkanku.

Kelakuanku membeli buku-buku mengenai sastra seakan tidak akan pernah berhenti.
”Buat apa buku itu. Abang ’kan mau bekerja di kantor?” tanya isteriku.
”Ya, aku akan bekerja di kantor penerbitan karya sastra,” jawabku sekenanya. Kemudian aku kembali membenamkan diri dalam kamar kerjaku. Di depan komputer tentunya.

Tiga bulan berlalu. Puluhan cerpen karya terbaik pengarang-pengarang terkenal Indonesia sudah berhasil kubahas. Berdasarkan karyanya, aku telah mengkodefikasi ciri khas dan keunggulan seorang pengarang. Variabel-variabel penting unsur intristik yang membangun cerpen telah aku tabelkan.

Bahkan secara njlimet aku berhasil memilah lanjut karya seorang pengarang. Cara pembukaan, gaya menutup, variasi gaya bahasa, nada penceritaan, alur, tema, latar belakang tempat, latar belakang waktu, pengungkapan masalah, moral dan pesan cerita, tatanan nilai sosial, keruntutan penguraian, idiolek, serta unsur lain yang kuanggap dapat memberi warna karya sastra telah kutuangkan dalam tampilan menu programku. Terciptalah mesin sastraku.

Hari pertama uji coba ”mesin sastra” Amerta Wine, kumulai dengan keadaan yang berbeda sekali dengan kebiasaanku selama ini. Pagi itu aku bangun dengan ceria. Menyapa seisi rumah. Memakai pakaian terbaikku, lengkap dengan dasinya. Berbulan aku tidak pernah tersenyum pada anak-anakku, sehingga pagi itu mereka menyambut senyumku dengan pandangan aneh. Bahkan hampir ketakutan.

”Hari ini aku mulai bekerja. Aku akan menjadi karyawan yang baik,” kataku.
”Di mana abang bekerja?” istriku mengerutkan keningnya..
”Dalam kamar!”
”Dalam kamar?”
”Ya, dalam kamar!”
”Kok dalam kamar?”

”Ya. Aku akan bekerja dalam kamar. jangan ganggu aku sampai jam istirahat!”
Aku mulai bekerja memproduksi cerpen. Proses produksi kumulai dengan menghidupkan komputer dan membuka program ”Amerta Wine”-ku.

Untuk membuat cerpen aku hanya perlu menentukan judul. Yang lain, menyangkut isinya tinggal pilih. Penentuan terhadap unsur membangun cerpen dapat dilakukan dengan memilih pada tampilan daftar menu yang tersedia dalam programku. Pilihan nama pengarang untuk unsur cerpenku, akan menghasilkan kualitas karya yang sama dengan gaya sastra mereka.

Aku mulai memproduksi. Judul. Tak Pernah Pensiun. Pelaku satu orang. Watak: bekas wartawanyang jadi penulis. Lokasi yang dipilih: di depan gedung perpustakaan. Tema: Nostalgia digabung dengan ketidakpuasan terhadap lingkungan yang menganggap sastra hanya produk usaha percetakan.

Berikutnya aku mulai memilih Idiolek.
Pembukaan: Putu Wijaya.
Nada penceritaan: Motinggo Boesye.
Runtutan penceritaan: Satyagraha Hoerip.
Latar belakang waktu dan tempat: Waluyo DS.
Jumlah halaman: lima lembar.
Format: auto.

Alur cerita, tingkat klimaks, penggunaan kata, pilihan bahasa, gaya penutupan dan semua unsur yang kuanggap dapat menentukan warna cerpen telah kuisi melalui pilihan pada daftar menu. Seenaknya saja. Mau klimaks bertingkat, gaya bahasa prokem, selipan bahasa asing, happy ending, tragedi, komedi, pesan moral yang jumpalitan atau menggurui, kuserahkan saja pada kemauan ujung telunjukku.

Geser kursor, tekan. Keluar sebuah nama atau pilihan, tekan lagi. Nama lagi atau pilihan lagi, tekan. Bila dirasa cukup, tekan Enter. Siapkan printer. Bila oke, aku tekan tuts OK. Maka selesailah proses pembuatan cerpenku. Tugas selanjutnya adalah giliran kerja printer. Sementara printer bekerja, aku mulai lagi membuat pilihan untuk cerpen yang baru. Aku memunculkan daftar pilihan. Mengisi pilihan. Begitu printer berhenti, aku mulai lagi. Selesai, cetak!

Selain karya perdana khususku untuk Matu Mona, sepenggal pagi itu aku berhasil memproduksi lima cerpen. Waktu istirahat siang, aku gunakan untuk membaca kembali produkku. Rasanya aneh melihat semua cerpen itu menggunakan namaku. Kualitasnya tidak usah diragukan. Prima! Aku yakin, pengarang yang masuk dalam daftar pilihan pembangun unsur cerpen, pasti akan merasa dekat sekali dengan cerpen-cerpenku. Redaktur pasti tidak akan dapat mencari kelemahannya.

Sore hari, kugunakan membuat surat pengantar untuk masing-masing cerpenku. Masukkan dalam amplop. Sehari itu aku berhasil menyelesaikan sepuluh cerpen. Siap untuk dikirim. Begitu setiap hari.

Sejak hari kelima belas, wesel mulai berdatangan. Tukang pos yang biasanya hanya mengantarkan dua atau tiga wesel dalam sebulan, jadi kaget karena kadang-kadang dalam satu hari dia mengantarkan tiga wesel dari tiga penerbit. Isteriku sendiri sendiri tidak mampu memberi komentar. Dia menerima wesel-wesel itu dengan penuh keheranan. Nama dan alamatku jelas tertera di situ.

Mulai penerimaan wesel pertama, aku telah menginstruksikan agar dia membuat pembukuan yang terperinci. Sebagai karyawan yang baik, aku tidak peduli dengan pemasaran. Yang penting produksi. Keuangan juga bukan urusanku. Sekarang isteriku telah kuangkat sebagai pegawaiku. Dia juga kan menerima gaji bulanan sebagai karyawan.

Mulanya dia hanya bertugas memasukkan karanganku ke dalam amplop dan mengirimnya ke kantor pos. Tugas isteriku meningkat dengan kewajiban membuat daftar penerbitan surat kabar dan majalah yang telah dan akan dikrimi naskah. Tanggal berapa dikirim, judulnya apa, tanggal berapa dimuat. Dia juga harus membuat kliping yang telah dimuat.

Penerbitan harian dan majalah ternyata tidak mampu menampung karyaku. Produksi berikutnya kukirimkan sebagai kumpulan cerpen. Aku tidak tahu sudah berapa banyak karya cerpen atas namaku yang membanjiri pasaran. Aku tidak perduli komentar orang tentang begitu produktifnya aku dan begitu bagusnya hasil karyaku. Aku juga tidak mau peduli berapa banyak pengarang lain yang kehabisan lahan akibat produksi massalku.

Jelas. Produksiku pasti sesuai dengan keinginan konsumen. Dalam zaman serba instant, ”rasa” manusia akan lebih cenderung terisi dengan karya sastra ”instant”. Penerbit pasti menyenangiku karena aku bisa menepati waktu. Isi cerpen sesuai dengan pesanan dan keinginan mereka. Konsumen pasti memilih karyaku karena kualitasnya.

Tidak seperti Amerta Wine ramuan Tabib Ramaswami yang bisa habis, program mesin cerpenku tidak akan mungkin rusak. Aku telah memback-upnya, baik dalam bentuk disket maupun hardisk. Semuanya diprotect. ”Rahman Rahim” pun tidak akan mampu merusak programku.

Untuk perluasan usaha dan peningkatan pelayanan sastra masyarakat, saat ini aku telah mulai merekayasa program pembuatan novel. Aku berharap pada semester pertama tahun depan, produksi novelku sudah dapat beredar di tengah masyarakat sastra Indonesia.

Sebagai kenangan terhadap Matu Mona, sebuah kalimat yang dituliskannya dalam cerpen Pujangga Melayu telah aku tempelkan di dinding kamarku kerjaku. ”Kerusakan budi pengarang zaman sekarang ialah tidak dapat menahan nafsu. Mengejar nama. Itulah ketakburan”. Aku tidak mengejar nama. Uang juga tidak. Aku hanya bekerja.

Medan, 1991

idiolek: keseluruhan ciri bahasa seseorang dalam hal tata bahasa atau pilihan dan kekayaan kata.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *