Cerita Mini (Cermin) 9 ‘KERETA LELAWANGSA’

oleh -1.146 views
tsi taura

DUA puluh tahun yang lalu, Tuti sering bertandang ke rumah ayah Husein, terutama di musim buah-buahan. Pohon rambutannya rimbun buah.
Ayahnya seorang yang sosial, siapa saja yang meminta rambutannya, dia suruh ambil sendiri.
Rumah itu dulu bertangga di depan di belakang. Beratap rumbia, berlantai dan berdinding papan meranti minyak.
Kini pohon rambutan tersebut tinggal beberapa pohon saja. Rumah pun sudah berbentuk gedung minimalis.

Perempuan itu duduk di kursi bambu.
Kenangannya ke masa silam buyar ketika dari dalam rumah dia melihat Husein dibopong ke mobil oleh pakciknya Syamsuddin. Dokter Tuti bergegas ke mobil. Tuti memeriksa suhu panas Husein dan tensinya.
“Cepat kita bawa ke rumah sakit.”
“Tunggu, aku telepon dulu dr Setia Negara”, kata Sri Kemala.

Dengan dua mobil mereka membawa Husein ke Rumah Sakit.
Husein terbaring di bangku belakang, kepalanya dipangku dr Tuti.
Tuti mengusap-usap ubun-ubun Husein.
Kondisi Husein memburuk. Dia dirawat di ICU. Memerlukan transfusi darah. Dokter kewalahan, golongan darah Husein langka, Gol darah A+
PMI stock kosong, dr Tuti tersadar gol darahnya sama dengan Husein.
Alhamdulillah, kesehatan Husein membaik.
Kali ini dia dihukum, tak boleh cepat-cepat pulang. Itu kesepakatan dr Tuti dan dr Setia Negara.
Dan disetujui oleh pakciknya, Syamsuddin.

Dengan perawatan intensif, Husein tidak lagi di ruang ICU, sudah dipindahkan ke ruang rawat inap.
Perawat-perawat di situ senang melayani Husein.
Dia selalu traktir makan malam perawat-perawat itu.

Satu malam ketika dr Tuti dan pakcik Syamsuddin menjaga Husein, Sri ke Binjai mengambil pakaian ganti, Tuti bertanya pakcik Syamsuddin, “pakcik apa yang menjadi penghalang perkawinan Sri dengan Husein?”, tanya Tuti.

Dengan tenang dan jujur, pakcik Syamsuddin mengungkapkan, ibu Sri adalah ibu susuan Husein, saat Husein belum berusia 2(dua) tahun dan menyusunya lebih dari 5(kali).
Menurut Syariat Islam mereka tak boleh menikah.”

“Plooooong
Ploong
Ploongg”, gumam dr Tuti.

Dia bersama pakcik Syamsuddin masuk ke ruang inap Husein.
Tuti mendekati telinga Husein, “aku segera pindah ke Medan menemanimu hingga akhir hayat kita”.
Husein tersenyum, “esok lusa seperti di masa lalu, aku ditimpa kecewa yang dalam”.

“Kita simpan saja janji itu karena janji adalah hutang yang menyakitkan”, kata Husein.

“Tapi pakcik yakin, ini adalah pelaminan yang tertunda….”
Husein tak mendengar lagi suara pakciknya itu, ia tertidur pulas…” (**)

Medan, 240121

tsi taura

The following two tabs change content below.