Cerita Mini (Cermin), (21) ‘Eksekutor Dari Tanah Melayu’

oleh -2.581 views

TORA tak tahu sejak di RSPAD Gatot Subroto, dr Tuti mengikutinya, mana tahu Tora mengalami kesulitan melakukan negosiasi dengan pihak Rumah Sakit. Dan dia pun rela menginap di hotel yang sama.

Di restoran hotel mereka bertemu. Kedua staf Tora sangat mengenal dr Tuti.
Di situ mereka ngobrol hingga tengah malam.
Dokter yang lincah, gesit dan ramah.

Malam itu ia berkaos ketat, ber-rok setinggi di atas lutut.
Tora membendung renja.
Kedua stafnya gelisah dihidang pakaian yang demikian sexy.
Betisnya bunting padi.
Tora melepas jeratan renjana dengan berguyon.
Mereka tergelak bersama.

Sesekali, sebagai lelaki normal, Tora terbayang juga dengan bibir Tuti yang sensual. Desah napas yang memekar birahi.
Matanya yang teduh tempat bersarang renjana yang liar.
Tora menjaga marwahnya di hadapan kedua stafnya yang santrian.

“Gawat, sekali dimulai permainan, sukar untuk dipadamkan nyala apinya”, Tora membatin.
Tora pura-pura mengantuk dan pamit dengan dr Tuti untuk rehat.
Dan mereka pun bubar, memadam api yang masih kecil.

Tepat 06.00 Wib, Tora dan stafnya sudah di Bandara Soekarno Hatta.
Dr Tuti juga bersama mereka.
Dia tidak ke Tanjung Pinang tetapi ke Medan.
Tora dan Tuti duduk berdampingan di ruang tunggu.
Tuti lebih dulu terbang dengan meninggalan tatapan yang luar biasa daya magnetnya.
Tora hanya mampu melambaikan tangan.

Seusai Jumat Tora bersama Kapolres dan para petugas keamanan sudah berada di halaman LP Tanjung Pinang.
Para pendukung datuk Kelana berorasi menolak pimpinannya dijebloskan ke terali besi.

Tora memanggil Halim Fauzan, “kanda bisa tidak diamankan pendukung datuk, jika tidak dia akan kami eksekusi ke LP Pekan Baru.”
Halim Fauzan segera bergabung mengamankan pendukung datuk.

Tepat jam 14.00 Wib, datuk Kelana tiba dengan wajah tertunduk.
Dia didampingi penasihat hukumnya.
Tora bersama Kapolres memasuki LP Tanjung Pinang.
Mereka disambut ramah oleh Kalapasnya.
Tak sampai 10 menit proses eksekusi selesai dilaksanakan.

Tora mengucapkan terima kasih pada Kapolres dan jajarannya.
Mereka pun keluar dari ruangan LP Tanjung Pinang.
Sebelum keluar ruangan terpidana dan Tora bersalaman.
Terpidana berbisik, “terima kasih tengku, mohon dibantu proses banding saya”, kata datuk Kelana.
Tora mengangguk.

Di luar Halim Fauzan menyalami Tora dan berkata, “mohon maaf dinda yang selalu merepotkan. Semoga ini jalan persahabatan kita ke depan semakin erat.” (***)

Binjai, 271020,

tsi taura.