Cerita Mini (Cermin) 19 ‘PENGANTIN

oleh -1.393 views

EMPAT Belas hari bulan tinggal 5(Lima) malam lagi. Persiapan Perhelatan pernikahan Sri Kemala dengan putera Pasundan nyaris rampung dikerjakan anak-anak teater dan sastra secara bahu membahu. Tualang berdecak kagum.
Porman Pagaruyung, Arifin Scot dan Agusta Gondrong bekerja tanpa lelah.
Mereka bersyukur, Dede Rukmana royal sehingga para pekerja seni tersebut tak kenal lelah. Porman Pagaruyung semakin berenergi, Milo malaysia seperti tumpahnya hujan di selah pohon-pohon tandus.

Seusai Isya semua peralatan musik pendukung acara dicoba, di mana yang masih eror.
Dr Tuti malam itu mengolah vocalnya yang sudah lama membisu, ia menggemakan lagu melayu berjudul “Gubahanku” ciptaan
-Gatot Soenjoto-
ku tuliskan lagu ini
kupersembahkan padamu
walau pun tiada indah syair lagu yang ku gubah

kuingatkan kepadamu
akan janjimu padaku
hanyalah satu pintaku
jangan kau lupakan daku

walau apa yang terjadi
tabahkan hatimu selalu
jangan sampai kau tergoda
mulut manis yang berbisa

…..
Tualang, Porman Pagaruyung dan lain-dan lain seniman yang hadir malam gladi kotor itu, terperangan menikmati suara Tuti. Ia bagaikan memakai petunang menggugah hati pendengarnya.
Mimik dan gestur tubuhnya membuat mata Porman tak berkedip.

Saat dr Tuti hendak turun dari pentas, seorang pemuda menjulurkan tangannya membantu Tuti menuruni anak tangga.
Pemuda itu gagah dan berwibawa, hadirin bersuit-suit, bertepuk tangan meriah sekali, padahal acara baru uji coba.
Muka dr Tuti berseri-seri, seakan dia menemukan cahaya hidupnya yang redup menyala menyingkap tirai mimpi yang tersingkap setelah begitu lama terselubung kabut.

Selanjutnya mereka duduk berdua, di bawah embun yang mulai menitik di bubungan kepala mereka.
Sepasang mata dari kejauhan tersenyum, “biarlah jika itu cinta yang harus berlabuh di sini malam ini”, sepasang mata itu bicara pada dirinya sendiri.
“Cinta memang buta”, kata Porman Pagaruyung pada Arifin Scot.
Arifin Scot tak berkomentar, ngantuknya seperti daun-daun segar yang menunduk tanpa hembusan angin.

Malam semakin larut
Tuti perutnya mulai melilit, tanpa sungkan dia mengajak lelaki yang membantunya turun dari pentas.
Mereka masuk ke rumah, makan sepuasnya bersama Marissa.
Dan akhirnya tertidur pulas di atas tikar.

Akhirnya malampun berselimut kabut.
Esok, adalah hari baru buat mereka yang memulai hidup dari kegelapan yang panjang. (**)

Medan, 030221
tsi taura