Cerita Mini (Cermin), (19) ‘Eksekutor Dari Tanah Melayu’

oleh -3.158 views

Kantor Penegak Hukum berseragam coklat itu hampir tiap hari diunjuk rasa, menuntut segera dieksekusi terpidana Datuk Kelana. Unjuk rasa mereka dinilai tertib dan siap membantu Kejaksaan untuk mencari tahu keberadaan datuk Kelana.

Tora menghubungi Halim Fauzan lewat handphonenya. Tak bisa dihubungi, HP-nya tak aktif. Firasat Tora, Halim Fauzan bersama datuk Kelana karena dialah tangan kanannya.

Satu ketika ketika selesai makan siang, Tirta Utomo menemui Tora di ruang kerjanya. Ia menginformasikan pada atasannya tersebut, “kita berpacu dengan waktu pak. Informasi A-1, datuk Kelana dirawat inap di Rumah Sakit Gatot Subroto, Jakarta. Begitu kata dokter Tuti Widyastuti.”

“Beritahu Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus, Nur Salam dan stafnya Suwarno. Segera tunggu saya di Pelabuhan Sri Bintan. Pakaian Dinas saja. Kamu jaga kantor. Saya hubungi dulu pimpinan di pusat memohon persetujuan penangkapan terpidana dan ijin keluar Provinsi.”
Pimpinan tersebut memberi ijin untuk dilakukan tindakan cepat dengan saran meminta bantuan personil ke Kejaksaan Tinggi DKI.

Ketika Tora mencecahkan langkah di Pelabuhan Sri Bintan, Nur Salam dan Suwarno sudah menunggu atasannya.
Tak berapa lama kemudian KM Ferry Sentosa lepas tali, menembus ombak yang sedang meninggi.

Tiba di Pelabuhan Punggur sekitar satu jam pelayaran. Pelabuhan tersebut berada di pantai timur pulau Batam.
Pelabuhan ini menghubungkan kota Batam dengan Pelabuhan Bulang Linggi dan Pelabuhan Sri Bintan Pura, Tanjung Pinang di pulau Bintan.

Pelabuhan Bulang Linggi adalah Pelabuhan yang berada di kota Tanjung Uban, di pantai barat laut dari pulau Bintan.
Tanjung Uban adalah sebuah kota kecamatan di kabupaten Bintan, Kepulauan Riau.

Kota Tanjung Uban merupakan akses untuk ke pulau Batam dan Singapura.
Sebelum tahun 1963 penduduk Tanjung Uban menggunakan mata uang dollar Singapura dalam transaksi jual beli, seperti halnya penduduk Kepulauan Riau lainnya.
Rupiah Kepulauan merupakan mata uang penduduk setelah terjadinya konfrontasi dengan Malaysia.

Dari Telaga Punggur Tora dan stafnya naik taksi menuju Bandara Internasional Hang Nadim.
Hang Nadim adalah nama Laksamana Hang Nadim yang termahsyur dari Kesultanan Malaka.

Dengan pesawat Garuda Indonesia, penerbangan terakhir Tora dan stafnya terbang ke Jakarta.
Mereka menginap di seputaran Jakarta Selatan, tak jauh dari Kantor Kejaksaan Tinggo DKI, jalan H.R. Rasuna Said. Mereka memilih hotel Aryaduta.

Seusai makan malam, Tora memberi arahan strategi penangkapan Datuk Kelana.
Dua mantan anak buahnya yang bertugas di Kejaksaan Agung, Selamat Ryadi dan Hastomo dimintanya bantuan untuk mengawasi tempat dirawat inap datuk Kelana.

Keesokan harinya tepat pukul 11.00 Wib, Tora dan stafnya sudah berada di ruang kerja Kepala Kejaksaan Tinggi DKI.
Mereka disambut ramah dan pimpinan tersebut memerintahkan Jaksa seniornya untuk mendampingi Tora dan stafnya.
Tak lama mereka di ruangan tersebut, Kajati DKI mantan atasan Tora ketika bertugas di Kejaksaan Tinggi Sumut, tak lupa memberikan bantuan dana operasional.
Semula Tora menolak tetapi karena mantan atasannya itu ngomong, “Tora, ini perintah pimpinan di Kejaksaan Agung, terimalah.”
Tora tersenyum, mantan atasannya itu tertawa, Tora menerima bantuan itu.

Di pintu keluar menuju jalan raya, Tora dicegat oleh Asisten Tindak Pidana Umum dan Asisten Intelijen Kejaksaan Tinggi Riau.
“Bro, perintah Kajati, balik kanan, kembali ke Pekanbaru”, kata Adpidum teman akrab Tora di Medan.
Asintelnya senyum-senyum saja, juga teman akrab Tora, si anak Medan juga. Dia kurang cocok dengan Kajatinya.

Tora tak menggubris perintah Kajati Riau melalui dua temannya itu.
Dengan tegas Tora berkata, “bro, ini perintah Jaksa Agung. Oke bro salam buat beliau ya.”
Dua temannya itu saling berpandangan dan tertawa terbahak-bahak, “susah melawan orang gila, urat takutnya sudah putus. Semoga sukses bro”, kata Aspidum.

“Oke bro, terima kasih”, kata Tora dan mobil yang membawanya hilang di keramaian Jakarta.

Melalui telepon mereka sebelum tiba di Pekanbaru melapor pada atasannya.
Mereka dimarahi habis-habisan oleh atasannya karena gagal melunakan sikap Tora yang tegas, si anak melayu itu. (***)

(Binjai, 251020, tsi taura).