Cerita Mini (Cermin) 17 ‘PENGANTIN’

oleh -1.497 views

ARIFIN SCOT merasa nyaman, malam di kampung yang pertama kali dia berencana menginap di mesjid Jamik, sebelum titi goyang.
Konon mesjid itu dibangun tahun 1889. Mesjid Jamik didirikan olel Sultan Langkat, Musa HI. Namun ada yang mengatakan mesjid itu dibangun oleh masyarakat Limau Sunda dengan dana sukarela, kemudian pada tahun 1972, bangunan mesjid itu dari kayu hancur terkena banjir. Dan 1987 mesjid Jamik dibongkar habis. Dan dibangun dengan beton.
Lagi asyiknya Arifin mendengar cerita dari seorang sepuh di mesjid itu, muncul Tuti dan Sri Kemala, “menanyakan pada orang tua itu, apakah di sini ada yang menginap seorang lelaki asing? Namanya Arifin Scot?”, tanya Tuti pada Atok Porman yang selalu tidur di mesjid itu.
“Tadi ada di di sini bersama atok, mungkin terlelap di dalam”, kata tok Porman mirip Biksu dari zaman di dinasti Ming.

“Bisa atok bangunkan dia?”
“Nak, tak elok mengganggu ketenangan seseorang di rumah suci”, pulanglah, dia aman di sini”, nak kata tok Porman sambil mengalihkan biji-biji tasbih di jemarinya.
Tuti dan Sri Kemala pulang dengan tangan hampa.
“Seram juga aroma suci mesjid itu ya Sri”, kata Tuti,
Sri tak menjawab, bulu kuduknya meremang.

Azan subuh dikumandangkan Arifin Scot, suaranya bagai buluh perindu. Mesjid yang biasanya kosong, lumayan banyak yang datang pagi itu.
Sejak itu persahabatan tok Porman dan Arifin Scot semakin akrab.

dokter Setia Negara menjemput Arifin Scot dan tok Porman sarapan pagi di rumah makan Dahlia, jalan Sudirman, makanan kasnya kari kambing, tok Porman makan nasi gurih dan milo.
Setia Negara menyantap 2(dua) porsi kari kambing dan Arifin Scot seporsi lidahnya sudah kepayahan. Akhinya dia menukar menu lontong sayur yang lezat.
Siap sarapan, Setia Negara membawa Arifin Scot dan tok Porman Pagaruyung ke rumah Tuti.

Sayangnya, Tuti dan Sri Kemala sudah berangkat kerja.
Setia Negara ke dapur dan kemudian ke depan menyuguh kopi arabika yang wangi, aromanya melintas si gunung.

Tok Porman Pagaruyung dan Arifin Scot, tak bertanya sepatahpun kenapa mereka dibawa ke rumah mungil dan minimalis ini.
Keduanya bagai petugas intelijen kawakan.

Matahari semakin meninggi
Tok Porman dan Arifin Scot dibawa dr Setia Negara ke Bandara Kualanamu.

Tok Porman Pagaruyung dan Arifin Scot mengikut saja…..
“Tak ada perjalanan hanyalah kesia-siaan”, Arifin membatin.
dr Setia Negara membawa 2(dua) rekannya ke kedai kopi starbucks di dalam Bandara Kualanamu. Di sana, Porman Pagaruyung melihat 2(dua) perempuan kemarin malam mencari Arifin Scot.
“Dengan siapa atok kemari, mau ke Jakarta ya”, kata Tuti memandang ke arah Arifin Scot.

Tok Porman menjelaskan bersama dengan dokter Setia Negara dan lelaki yang kalian cari di mesjid Jamik itu, inilah orangnya, Arifin Scot, sahabat lama Tan Tualang sejak bertugas di Kuala Tungkal Jambi.
Mendengar penjelasan tok Porman, Tuti dan Sri Kemala jika memiliki sayap, mereka akan terbang jauh, dan hinggap di ranting yang tak terbaca angin.

Akhirnya, dengan jiwa besar, dua putri melayu itu menyalami Arifin Scot. Mereka tergelak diguyon tok Porman Pagaruyung.

“Langkah itu adalah takdir perjalanan anak manusia yang tak dapat dibaca retak tangan kita”, kata tok Porman. (**)

Medan, 010221,
tsi taura

The following two tabs change content below.