Cerita Mini (Cermin) 15 ‘PENGANTIN’

oleh -1.224 views

TENGKU Tan Tualang, seusai sarapan pagi di telepon Sri Kemala.
Marissa, dan dua putranya, Bima dan Tan Sina Idris, masih di meja makan.
“Dari seberang nun jauh di Pulau, Sri Kemala meraung panjang…”

“Kakak Tenang dulu, ceritalah pelan-pelan, biar dinda mengerti apa yang terjadi dan mencari solusinya”, kata Tualang.

Marissa mengambil alih dialog, “Sri cerita yang tenang ya. Tak ada persoalan yang tak tak dapat dipecahkan, apa lagi yang namanya gelas”, kata Marissa.
Sri menyusun kekuatan pikirannya, membuang kecengengan dan ia pun bertutur, “Husein mengancamnya, akan menyakitinya bila Sri menikah dengan Dede Rukmana”, kata Sri dengan tegas.
“Sudahlah, patik paham, nanti kami diskusikan dengan adik akak”, kata Marissa.

Marissa menyampaikan masalah yang mengganggu pikiran Sri Kemala. Suaminya, Tualang diam seribu bahasa. Mata tajam menusuk dinding batu rumahnya. Menembus bayang yang jauh, jauh dan sangat jauh.
Giginya gemertak menyejuk darah yang mendidih.
“Suamiku, biasanya engkau sangat arif dan bijaksana menghadapi masalah sesulit apapun. Janganlah sumbu yang dibakar, semprong yang panas”, kata Marissa mendinginkan gelegak emosi suaminya.

Tiba-tiba, Tualang bangkit dari meja makan, “Rissa, abang shalat dhuha dulu ya…”.
Marissa tersenyum dan setahunya suaminya itu seorang yang ahli strategi.
Selesai shalat dhuha, Tualang menuju ranjangnya, tidur menenangkan gemuruh emosinya pada Husein.

Marissa menghubungi dr Tuti lewat hand phone-nya: “dok, selamatkan Sri dari kegilaan Husein. Ajak dia tinggal sementara di Limau Sundai, di rumah dokter.
“Ya, Marissa, aku akan jaga dia seperti aku menjaga diriku”, kata Tuti.

Husein pun menghilang dari kampung Simpang Kramat, tak ada yang tahu kemana dia pergi.

Teman akrab Husein, Arifin Scot berada di Stasiun Besar Kereta Api Lelawangsa yang akan berangkat ke Stasiun Binjai.
Di tangga hendak menaiki kereta api, Arifin Scot pinggangnya diguit oleh seorang yang belum terlihat siapa orangnya.
Saat Arifin membalikkan tubuh, matanya beradu dengan seorang perempuan yang sangat dikenalnya, muridnya di teater rumah hati.
Perempuan itu sudah lama tak kelihatan di markasnya.

Saat Arifin lengah, perempuan itu tak kelihatan lagi dikerumunan penumpang.
Arifin cuek saja karena dia fokus mempersiapkan pertunjukkan seni sastra dan monolog.

Tiba di stasiun kecil Binjai, dari kejauhan dia melihat seorang lelaki temannya di blantika Sastra, penyair yang puisi-puisinya sulit dipahami untuk sekali baca. Dia penyair sederhana yang mudah dijumpai di warung-warung makanan diseputar stasiun itu.
Arifin Scot mengacuhkan semua orang-orang yang dikenalnya, dia seperti dihipnotis mengacuhkan buruannya.

Dia berjalan lurus
seperti amanah
di pundaknya…..( **)

Binjai, 300121,
tsi taura

The following two tabs change content below.