Cerita Mini (Cermin), (13) ‘Eksekutor Dari Tanah Melayu’

oleh -2.661 views

HALIM Fauzan dalam keadaan gugup mencoba menjelaskan pada Tora, “tak ada niat buruk saya pak Kajari, saya hanya ingin berkenalan lebih awal dengan bapak. Saya sering ke kantor bapak, boleh bapak tanya staf bapak ini.
Kedua staf Tora, Sulis dan Tirta Utomo membenarkan apa yang dikatakan Halim Fauzan, lelaki turunan Arab, mirip Taliban itu.

Sedikitpun Tora tak percaya, lelaki itu hanya ingin berkenalan dengannya. Tora menatap tajam Halim Fauzan, rasanya ia mau terbang jika memiliki sayap. Tak pernah ia melihat pandangan tajam yang menggoyangkan lututnya.
Tora yakin, lelaki itu punya misi tertentu. Feelingnya lelaki itu diutus oleh seseorang yang ada kaitannya dengan perkara besar yang sedang ditangani instansinya.
Tora memperdalam dugaannya sampai ke akar-akarnya.
Pelayan wanita restoran hotel tersebut membawa 4 gelas kopi dan beberapa kue kering menghidang ke meja mereka.

“Sudah sampai di mana penanganan kasus Bupati itu”, tanya Tora pada Tirta Utomo, salah seorang Tim Jaksa dalam kasus tersebut.
Mata Tora kembali menghunjam sinar mata lelaki turunan Arab itu.
“Masih pemeriksaan saksi-saksi”, kata Tirta Utomo.
“Hati-hati, jangan ada bermain api, kasus ini atensi Jaksa Agung. Apa sudah dilakukan konsolidasi dengan aparat terkait”, kata Tora sambil matanya tak lepas memandang Halim Fauzan yang semakin gerah dengan wajah menunduk. Gelisahnya menggunung, bajunya kuyup keringat.

“Siap, sudah pak.”
Halim Fauzan minta ijin ke toilet.
Tora menutur, sebaiknya anda pulang, kami mau bicara kedinasan.
Wajah Halim Fauzan semakin kuyu, tak yakin dia bahwa Tora sedingin itu.

Di toilet ia menelpon singkat seseorang, “idealis datok”, katanya pada lawan bicaranya.
Setelah itu ia pulang seperti serdadu yang kalah perang.
Tora mengingatkan stafnya untuk mewaspadai Halim Fauzan.
Malam semakin tinggi, kantuk tak terlawan lagi.
Tora dan stafnya beranjak rehat.

Jarum jam di tangan kiri Tora menunjukkan pukul 11.00 Wib. Orang sudah ramai ingin menonton sidang perkara tindak pidana korupsi dengan terdakwa Datuk Kelana.
Tempat sidang bukan di Pengadilan Negeri Tanjung Pinang tapi dialihkan ke gedung olahraga Kacapuri, berlokasi di Jalan Teuku Umar.

Tora datang seorang diri dengan penyamaran yang sempurna, rambut wig tergerai panjang, berjaket dan berkaca mata hitam, berkaos putih dan bercelana panjang levis pudar.
Matanya liar, dia duduk di bangku paling belakang.

Dia melihat ke lantai, berserakan tanah basah dan kembang yang sebagian sudah lumat terinjak.
Instingnya melar, dalam hati ia berdoa untuk keselamatan anak buahnya yang bersidang hari itu.

“Ilmu hitam seakan dewa penolong bagi orang-orang tak beriman”, Tora membatin.
Ruang sidang itu terasa panas, padahal di luar dingin, berembus angin laut. Langit mendung. Tora menghalau suasana hangat itu dengan membaca zikir.

Tiba-tiba matanya tertuju pada beberapa orang pengunjung. Salah seorang di antaranya, ia mengenalnya, Halim Fauzan, si jangkung mirip Taliban tersebut.

Agenda persidangan hari itu pemeriksaan saksi-saksi.
Tim Penuntut Umum 3 orang, Tirta Utomo, Basuki Riyanto dan Firdaus.
Ketua Tim Penuntut Umum, Tirta Utomo.

Pertanyaan-pertanyaan gencar diajukan Tirta Utomo.
Berkali-kali Tim Penasihat Hukum terdakwa yang berasal dari Jakarta melakukan intrupsi, keberatan atas pertanyaan Penuntut Umum Tirta Utomo.
Argumentasi Penuntut Umum diterima Ketua Majelis Hakim.
Terdakwa tersenyum pahit, kecewa atas sikap Hakim Ketua.
Pertanyaan-pertanyaan Penuntut Umum membuat terdakwa semakin tersudut.

Tora membaca ketidakberesan 2 Penuntut Umumnya, Basuki Ryanto dan Firdaus, seperti masuk angin, bersikap pasip. Berkali-kali Tirta Utomo menyarankan kepada rekannya itu untuk mengajukan pertanyaan untuk melengkapi pembuktian perbuatan yang didakwakan pada terdakwa. Dua rekannya itu lebih banyak bersikap dengan ucapan “cukup.”

Tora melihat tempat duduk sebelah kanan Halim Fauzan kosong, ia bergegas sebagai pengunjung asing, duduk di sebelah kanan orang kepercayaan terdakwa Datuk Kelana.

Persidangan itu diliput media cetak dan elektronika serta RRI Tanjung Pinang.
Angksawai dengan papan nama di baju seragamnya, Narti, duduk di samping Tora, ia letih berdiri. Ia tak tahu lelaki di sampingnya seorang pejabat teras di Tanjung Pinang.
Narti bertanya kesan-kesan Tora menyaksikan sidang tersebut. Tora menjawab singkat, “no comment. Mereka lalu bertatapan sejenak dan saling mengirim senyum. (***)


Binjai Oktober 2020,

tsi taura.