Cerita Mini (Cermin), (104) ‘Sri Puri Kesturi’

oleh -2.564 views

MATAHARI sudah setinggi penggalah, Tan Tualang belum juga terbangun. Tengku Balqis, janda beranak satu tanah Bohorok, sudah berkali-kali membangunkan Tualang. Ia sedang menikmati mimpinya menikmati katil pengantin bersama dengan Tengku Sita.

Azan tengah hari menyelusup telinganya. Ia menggeliat beberapa kali dan ia pun menyerapah, “celaka, rupanya aku bermimpi”, gumamnya.
Segera ia membersihkan tubuhnya, menunai shalat zuhur.

Setelah makan siang di rumah Tengku Balqis, ia bergegas ke Bandara Kualanamu. Terbang ke Batam, dan langkah berikutnya ia melintas Tanjung Pinang menemui sahabatnya sesama lanun dulu, Hang Mejin.
Tualang tak berkabar Hang Mejin sudah tak ada lagi di Tanjung Pinang. Seorang pun tak tahu kemana Hang Mejin.

Hang Meijin seorang misterius, tak mudah melacak keberadaannya. Hanya Sita secara kebetulan yang bisa bertemu dengannya, saat ia menjadi driver online. Dan Sita saat itu memang mencarinya, ia salah seorang murid ayahnya, Tengku Ulung Alas.

BACA JUGA BOS:   Cerita Mini (Cermin), (19) 'Eksekutor Dari Tanah Melayu'

Di lain tempat Sri Puri Kesturi, putri melayu yang keras pendirian tapi lembut bertutur, penyayang dan seorang dermawan.
Mudah iba pada siapa saja yang kesusahan.

Ia telah lama mengenal Tengku Tora. Dari Toralah ia banyak belajar mengasihi sesama, tak memperdulikan suku dan agama.
Dan ia sangat menjaga hatinya pada Tora. Tak terlintas sedetik pun mengkhianati Marissa.

Marissa tahu betapa luka hati Sri Puri Kesturi.
“Sri, ikutlah bersama kami ke tanah Pasundan, hingga kau bisa melupakan hari kemarin yang penuh luka”, kata Marissa dalam acara doa buat kesembuhan Tan Tualang.
“Terima kasih, kak biarlah aku di Medan membantu usaha ayah ekspor Sawit”, kata Sri menatap sendu Marissa.
“Jika demikian kapan kau punya waktu datanglah ke rumah kami di Bandung.

Acara doa kesembuhan Tualang sudah dimulai, Tora membisikkan pada Tok Hitam, “tok, aku keluar ya, tak menerima hati nuraniku dengan kebohongan ini.”
Tok Hitam tak mampu mencegah kemauan Tora.

BACA JUGA BOS:   Cerita Mini (Cermin), (21) 'Eksekutor Dari Tanah Melayu'

Tora mengajak Marissa dan Tengku Sri Puri Kesturi keluar dari acara tersebut,
Di dalam mobil, Marissa bertanya, “kenapa kita tak mengikuti doa bersama itu sampai selesai?”

Tora tak menjawab sepatahpun. Mobil di arahkannya ke arah Kesawan. Berhenti di depan restoran TipTop.
Mereka mengambil posisi di bangku luar, menghadap ke jalan raya.
Marissa dan Sri Puri Kesturi duduk berdampingan menghadap Tora.

Marissa kaget, Sri Puri Kesturi menatap iba wajah Tora mendung berkabut tebal.
Berlinang air mata Tora, sepertinya dia begitu tertekan batin membohongi keluarga Sri Puri.

Marissa tak berani bertanya, ia tahu betul sifat suaminya, “jangan melukai dengan pertanyaan pada saat ia berduka.
Menu steak rusa tak tersentuh lidah Tora. Marissa dan Sri saling berpandangan.
Marissa memberi isyarat agar Sri Puri menikmati hidangan itu.

BACA JUGA BOS:   Cerita Mini (Cermin), (20) 'Eksekutor Dari Tanah Melayu'

“Apa sebenarnya yang terjadi hingga Tora menangis?”, Sri Puri bicara pada dirinya sendiri.
Sri Puri terus menatap Tora, sepertinya ia ingin menyingkap tirai yang menyebabkan Tora menangis.

Tora menyeruput kopi dan menghabis rokok Kretek Filter sebungkus lebih.
Marissa membujuk suaminya, “mari kita pulang, kasihan tok Hitam seorang diri.
Tora mengangguk, melajukan kenderaannya ke arah Limau Sundai Binjai.

“Bang Tora, terima kasih atas segala perhatian pada kami. Semoga Allah memberi ganjaran pahala buat abang dan kak Marissa.

“Kak, aku ikut ke Bandung ya, walau tadi aku menolak ajakan kakak. Aku ingin bang Tora bercerita nantinya kenapa ia sampai menangis”, kata Sri Puri ketika Tora ke Toilet.
Marissa memeluk Sri Puri dengan penuh kasih sayang. Ia sangat gembira Sri Puri mau ke rumahnya. (***)

Binjai, 270920,

tsi taura.