Cerita Mini (Cermin), (02) ‘Eksekutor Dari Tanah Melayu’

oleh -2.553 views
tsi taura

SEBENARNYA ayah Tora menginginkan anaknya menjadi ahli ekonomi.
Dari tamat Sekolah Dasar ((SD) siayah membujuk anaknya untuk meneruskan pelajaran ke Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP). Bukan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Tora mengacuhkan anjuran ayahnya. Dari kecil Tora kelihatan keras kepalanya. Ia tak suka dipaksa, ia akan mempertahankan pendapatnya.
Ayahnya mau tak mau mengalah.

Begitu juga ketika ia tammat SMP, ayahnya membujuk agar putra tunggalnya itu meneruskan pendidikan ke Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA). Lagi-lagi Tora menolak, Ia lebih senang meneruskan ke SMA. Ia dan ayahnya selalu saja berdebat, hal ini bermula ketika ayahnya menikah lagi, memadu emaknya. Ia sangat sayang pada emaknya.

Tora sejak kecil hidup dalam penderitaan tapi ia seorang yang tabah, kuat dan tenang menghadapi masalah.

Penderitaan yang paling berat dirasakannya adalah ketika ia difitnah oleh kawannya sendiri yang masih ada hubungan kekeluargaan yang dekat dengannya.

BACA JUGA BOS:   Cerita Mini (Cermin), (20) 'Eksekutor Dari Tanah Melayu'

Di pintu keluar kampus ia disergap beberapa orang petugas dan membawa ke sel yang pengap.
Kawannya itu bernama tengku Ivo, anak saudagar getah yang kaya raya. Pacarnya menghamilinya dan hilang entah kemana. Ivo membujuk Tora untuk bersedia menikahinya. Tora dijebak. Nasib baik masih berpihak pada Tora, seorang temannya advocat membantu kasusnya. Ia bebas dari segala dakwaan. Sejak itu Tora bercita-cita menjadi eksekutor, Jaksa.

Kenangan itu menari di kepala ayahnya, tengku Idris. Biarpun mereka jarang sejalan tapi tengku Idris sangat menyayangi putranya itu.

Malam semakin larut, sanak keluarga satu persatu mengurak sila.
Tersisa keluarga yang datang dari negeri yang jauh, Kepulauan Riau. Tora memilih tidur, ayahnya masih berbual, konon mereka berjanji berbesanan.

Esok paginya, acara sarapan pagi berbentang tikar. Calon besan membawa tiga orang putrinya yang cantik-cantik dan santun. Tora tak tahu yang mana yang hendak dijodohkan mereka dengannya.

BACA JUGA BOS:   Cerita Mini (Cermin), (19) 'Eksekutor Dari Tanah Melayu'

Tiba-tiba seusai sarapan pagi, atok Tora, Tengku Hasan ngomong: “Keluarga yang jauh kita dekatkan, yang dekat kita eratkan. Tora engkau telah mewujudkan mimpimu, sekarang engkau penuhi impian kami orang tuamu.”

Tora tersedak, teh manis yang baru tiba di lidahnya nyemprot keluar mengenai wajahnya pakciknya tengku Syamsuddin.
“Maaf ayah”, kata Tora sambil melap dengan serbet muka pakciknya itu.
Semua tergelak, seorang saja menatap sejuk wajah Tora. Dialah Syarifah Rahmi, salah satu putri yang bekunjung ke rumah Tora.
Tora tahu dari tadi perempuan itu seperti seorang spionase.

“Bagaimana Tora? Apakah engkau telah memiliki calon pendamping hidupmu. Ingat usiamu sudah layak untuk berumah tangga”, kata atok Tora lagi sambil melirik satu di antara tiga putri kepulauan itu.”

“Patik baru saja tiba dari Batavia, maaf kita alihkan dulu pembicaraan ini. Tak elok mengambil keputusan dalam suasana yang tak saling mengenal”, kata Tora.

BACA JUGA BOS:   Cerita Mini (Cermin), (21) 'Eksekutor Dari Tanah Melayu'

“Betul apa yang dicakapkan Tora. Dan rasanya tak mungkin Tora tak memiliki pujaan hatinya. Kita bubarkan dulu pertemuan ini”, kata pakcik Tora, tengku Syamsuddin.

Ayah Tora naik pitam, “engkau Syam tak punya hak suara di sini kecuali pendapatmu diminta.”
Tora bangkit dari duduknya, ia tak mau menyaksikan amarah ayahnya lebih parah lagi.
Langkah Tora diikuti oleh pakciknya tersebut.

Tora dan Tengku Syamsuddin melajukan sepeda motornya menuju sungai mencirim. Mereka ingin mandi di sungai yang bening itu.

Di tikungan ke arah tepian sungai, dari kejauhan ia melihat seorang putri yang dulu sering membantunya pelajaran sekolah, terutama matematika. Berwajah ayu, berlesung pipit, bersuara merdu.
Tora menghentikan kenderaannya di sisi perempuan itu.
Mereka saling berpandangan menguncah kenangan lama. (***)

Binjai, 041020,
tsi taura.