BBSU dan Upaya Memanipulasi Fakta

  • Whatsapp

Oleh. Budi Hatees

Sastrawan cum jurnalis

BALAI Bahasa Sumatra Utara (BBSU) menyelenggarakan kegiatan pemberian anugerah kepada para sastrawan di provinsi ini. Kita tahu sastrawan adalah orang yang bekerja kreatif menghasilkan karya sastra: puisi, cerita pendek, novel, dan esai. Kita pun masih bisa berdebat soal karya sastra itu dengan mengatakan bahwa tidak semua yang disebut karya sastra oleh para kreatornya bisa diterima sebagai karya sastra.

Sastrawan berasal dari kata “sastra” dan “wan”. “Wan” adalah akhiran, mengacu pada orang yang bersastra atau menulis karya sastra. Jadi, sastrawan berarti “orang yang menghasilkan karya sastra”. Tapi, apakah semua yang dihasilkan sastrawan bisa disebut karya sastra? Tentu saja tidak, terutama bila kita mengakui sastra adalah ilmu pengetahuan, dan ilmu pengetahuan memiliki kadar keilmiahan yang bisa dibuktikan dengan prinsip-prinsip kebenaran di dalam logika.

Sebelum bicara soal bagaimana membuktikan bahwa sebuah karya sastra itu adalah karya sastra sesuai dengan ilmu sastra, lebih dahulu kita bicara tentang kegiatan BBSU itu: anugerah sastrawan. Di dalam pengumuman yang disampaikan BBSU kepada publik disebutkan: sastrawan yang akan mendapat anugerah itu harus diusulkan orang lain atau sastrawan mengusulkan dirinya sendiri. Berdasarkan syarat tersebut, BBSU kemudian menetapkan tiga orang sastrawan yang masuk nomine: Koko Hendri Lubis, Tsi Saura, dan Idris Siregar.

BBSU sebagai panitia akan menyerahkan tiga nama itu kepada Dewan Juri yang terdiri dari Damiri Mahmud dan karyawan BBSU. Dewan Juri akan memilih salah satu dari ketiga nama yang bakal menerima anugerah sastrawan Sumatra Utara 2019 itu. Tapi, sebelum Dewan Juri bekerja, publik mempersoalkan metode yang dipakai BBSU, terutama karena kemunculan tiga nomine bertolak dari hasil usulan orang lain dan hasil usulan diri sendiri.

Sampai di sini muncul pertanyaan. Pertama, siapakah yang mengusulkan sastrawan agar memperoleh anugerah sastra dari BBSU? Kedua, apakah pengusul itu memahami sastra, tahu mana yang disebut karya sastra dan mana yang bukan karya sastra, atau hanya sekadar iseng karena mengenal secara pribadi orang yang diusulkannya? Ketiga, apakah usulan publik berkorelasi dengan kualitas karya sastra, atau kualitas karya sastra dikesampingkan karena yang jadi fokus adalah pribadi dari kreator sastra.

Tiga pertanyaan yang diajukan berkorelasi dengan pikiran utama tulisan ini yang akan membicarakan tentang bagamana membuktikan bahwa sebuah karya sastra itu betul-betul karya sastra, atau seolah-olah karya sastra yang dipuja-puji sebagai karya sastra?

Puja-Puji di Media Sosial

Hari ini kita hidup dalam simulakra. Perkembangan teknologi komunikasi dan informatika, yang memperkenalkan media sosial, membuat kita mudah berkomunikasi dengan banyak orang di berbagai belahan dunia. Komunikasi tatap muka sebagaimana metoda komunikasi yang dipakai oleh masyarakat tradisional, bedanya komunikasi kita menegasikan batas ruang dan waktu.

Jika dalam komunikasi tatap muka yang tradisional kita berinteraksi secara langsung dengan publik sehingga bisa memahami psikologi lawan bicara kita, maka dalam tatap muka di media sosial kita tak bisa mengaplikasikan teori psikologi komunikasi saat berinteraksi dengan orang lain.

Pasalnya, setiap orang yang muncul di media sosial selalu mengemas diri dan pesannya sebagaimana seorang pengiklan mengemas produk yang ingin dijualnya dengan bombastis. Artinya, setiap orang akan tampil nyaris tanpa cela di media sosial, baik secara fisik maupun psikis, meskipun kesempurnaan yang mereka tunjukkan justru menguatkan kesan bahwa mereka sebetulnya lemah.

Semua yang ditampilkan di media sosial bertujuan untuk mengundang puja-puji, dan bukan persoalan subtansial jika apa yang ditampilkan ternyata mengecoh orang lain. Kita memahami kecenderungan seperti ini sebagai pencitraan, sesuatu yang didapat publik dari kebiasaan para elite dalam “memasarkan diri”. Tak lain dan tak bukan, tujuannya untuk mempengaruhi persepsi, emosi, perasaan, kesadaran, dan opini dengan mudah agar hanya melakukan puja-puji.

Yasraf Amir Piliang menyebut kondisi seperti ini sebagai imagologi politik yang mengarah pada semacam diskontinuitas antara citra politik (political image) dan realitas politik (real politics) sehingga citra (yang “terputus” dari realitas) membangun semacam realitas kedua (second reality) yang di dalamnya kebenaran (truth) dimanipulasi. Para tokoh “menakutkan” di masa lalu, misalnya, kini tampil dengan citra “santun”; koruptor rakus kini tampil dengan citra “dermawan”; para terpidana tak tahu malu kini tampil dengan citra “bersih”.

Kita tak menyadari betapa buruknya situasi sosial bila semua orang menuntut agar dipuja-puji, atau kita sendiri hanya mampu memuja-puji orang lain. Kita maupun orang lain memuja-puji sesuatu sekalipun tidak tahu persis tentang apa yang sedang dibicarakan. Kita hanya merasa bahwa sesuatu itu bagus, indah, menarik, hebat, atau hal-hal yang terkesan superlatif, tapi kita tidak tahu persis bagaimana menjelaskannya secara ilmiah.

Tiap sebentar, saat kita sedang bermedia sosial, kita memberi pujian kepada orang lain yang menulis status (pesan) dalam bentuk emotikon “jempol”. Pujian itu kita berikan bukan karena memahami pesan yang disampaikan, tapi lebih disebabkan kita ingin mengapresiasi agar orang tersebut juga mengapresiasi apa yang kita lakukan di media sosial.

Sastra di Media Sosial

Dunia sastra kita hari ini “diuntungkan” oleh perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang memperkenalkan media sosial. Para penulis karya sastra menjadikan media sosial sebagai media sosialisasi karya. Tiap sebentar, seseorang menulis sesuatu yang kemudian disebut puisi, lalu disiarkan di media sosial sebagai pesan. Pesan itu langsung muncul di beranda semua teman (pengikut) yang kemudian memberi puja-puji berupa emotikon tertentu. Media sosial menyediakan fasilitas bagi pengguna untuk melakukan puja-puji.

Banyaknya pujian dari publik netizen (orang yang menggunakan media sosial) memberi semangat kepada si penulis puisi, seakan-akan pesan yang ditulisnya benar-benar karya sastra sebagaimana karya sastra sesuai ilmu sastra. Namun, manakala ada orang lain yang merasa terganggu dengan pesan yang disebut karya sastra itu karena sama sekali tidak berkualitas sastra, lalu memberi komentar yang mengkritik emakaian Bahasa Indonesia, kritik tersebut langsung disikapi emosional. Orang yang mengkritik akan dinilai “tak beretika”, “immoral”, “tidak mempunyai rasa hormat kepada orang tua”, atau “provokatif”.

Pada tataran inilah tema utama tulisan ini menemukan relevansinya. Orang yang terbiasa memuji atau mendapat pujian terkait kreativitas bersastra, acap merasa bahwa dirinya telah mencapai tahapan perkembangan yang lebih tinggi dari siapa pun dan mengasumsikan bahwa karya sastra yang dihasilkannya adalah yang terbaik. Sebab itu, dia akan beranggapan bahwa segala bentuk kritik terhadap karya yang dihasilkannya hanya akan dilakukan oleh orang yang tidak mampu, tidak senang, atau para pembenci yang malang. Padahal, seorang kreator sastra yang baik tidak akan pernah merasa sudah sempurna, tapi akan selalu berharap ada kritikan terhadap karya yang dihasilkannya dalam rangka lebih meningkatkan kualitas karya.

Mereka yang menjadi kreator sastra dan tidak menolak kritik adalah orang yang punya totalitas tinggi dalam memposisikan karya sastra sebagai ilmu pengetahuan. Layaknya ilmu pengetahuan, maka sastra bisa dipelajari terus-menerus dan tidak akan pernah selesai dipelajari. Sifat ilmu pengetahuan bisa diuji dan harus teruji proposisinya, begitu juga halnya dengan karya sastra. Jika seseorang menyebut hasil karya tulisnya sebagai puisi, maka orang lain dibenarkan mengujinya secara ilmiah apakah betul karya tulis tersebut puisi atau igauan belaka.

Pertanyaan akan segera muncul tentang di mana letak ilmu pengetahuan dari karya sastra? Bukankah kita memposisikan karya sastra sebagai karya fiksi, dan fiksi bukanlah fakta, sehingga sastra lebih layak dipersoalkan sebagai karya imajinasi atau khayalan?
Pada tataran defenitif, kedua pertanyaan itu tidak keliru. Tapi, persoalan akan segera muncul jika karya sastra kita dekati dari perspektif linguistik atau ilmu yang mempelajari bahasa. Kita tahu karya sastra adalah soal berbahasa. Seorang sastrawan menjadikan bahasa sebagai alat ekspresi, dan hasil kerjanya disebut karya sastra. Jika hasil kerjanya mengandung kaidah-kaidah yang baik dan benar dalam berbahasa, maka hasil kerja itu bisa kita sebut sebagai karya sastra.

BBSU dan Manipulasi Fakta

Rencana BBSU memberikan penghargaan kepada sastrawan Sumatra Utara yang hanya berdasarkan usulan orang lain (dan orang lain itu mungkin buta tentang karya sastra karena lebih suka dipuji atau memuji), sama saja dengan membuat dunia sastra di provinsi ini jatuh terjerembab menjadi sebatas persoalan pencitraan. Seseorang yang akan memperoleh anugerah dengan sendirinya dicitrakan sebagai “sastrawan terbaik di Sumatra Utara”, padahal sesungguhnya citra yang disematkan itu manipulatif. Mereka yang menerima anugerah sastra bukankah sastrawan dalam pengertian sesungguhnya, tetapi sosok yang berhasil membangun realitas kedua tentang dirinya dan di dalamnya kebenaran dimanipulasi. (***)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *