Bang Sori Siregar Dan Lain Lain

oleh -119 views
Sori Siregar

Oleh. Tatan Daniel

SAYA tertarik berbagi cerpen tak lazim karangan Bang Sori Siregar ini, “Saran Seorang Pengarang.”

Tapi sebelumnya saya ingin mengatakan bahwa menjadi penulis, cerpen atau puisi, sesungguhnya tak ada batas apa pun. Umur, tempat, pendidikan, pekerjaan, bahkan imajinasi, tak ada yang membatasi.

Soal umur yang menua? Mengapa risau karena ada anak-anak muda fenomenal seperti Faisal Oddang, atau Ziggy, atau Naela. Bang Sori, diusianya 81 tahun, hampir saban bulan cerpennya bisa kita nikmati di Kompas Minggu.

Begitu juga dengan Bang Martin Aleida, Pak Budi Darma, Ahmad Tohari. Atau Pak Sapardi Djoko Damono, yang makin lanjut usia, malah makin produktif, bahkan sampai nafas terakhirnya pun masih menulis sajak.

Dan ketika ditanya, malah bilang, ‘Sajak terbagus saya, belum kutulis!’ Demikian pula Pak Ajip Rosidi yang tak tamat esema itu, hingga tutup usia di 81 tahun, masih bergairah membaca lima buku setiap hari, dan masih menulis bermacam hal.

Tomas Transtromer, psikolog, penyair Swedia penerima Nobel Sastra Tahun 2011, meski dilanda stroke pada usia 80 tahun, meski lumpuh separuh badannya dan tidak mampu berbicara, tetap saja menulis puisi, dan buku puisinya, Grief Gondola, terjual sampai 30.000 eksemplar. Dengan tangan kiri, ia belajar memainkan piano, dan setiap pagi ia memainkan musik klasik dengan lima jari.

Soal imajinasi? Kata Bang Sori, “Jangan semata-mata menggantungkan diri pada imajinasi betapa hebat dan liar pun imajinasimu itu!” Jangan pula pusing dengan segala macam teori.

Itu urusan kritikus (kalau pun ia ada di negeri ini). Bacalah Pos Kota, Warta Kota, dan macam-macam koran, keluarlah sebentar dari kamar untuk duduk sambil menghirup secangkir kopi di warung pinggir kali, atau di sudut pasar, simaklah bermacam kabar dan celoteh para pengunjungnya, akan ada banyak bahan cerita yang berserak-serak.

Pilih yang unik, kukus, goreng dan letupkan dengan bumbu dan sambal pikiran liar, seperti yang dilakukan dan diakui oleh Bang Hamsad Rangkuti, cerpenis yang pernah menerima anugerah dari Raja Siam itu. Jadilah cerpen yang mencengangkan.

Soal pekerjaan, apa pula yang membatasi? Seorang loper koran di Slawi, Sutono namanya, menulis puluhan cerpen, dan membuat dua buku cerpen yang keren dan dibaca banyak orang.

Begitu pula, kita tahu, seorang Muna Masyari, seorang penjahit baju yang tinggal di Madura, hampir saban bulan cerpennya menghiasi halaman cerpen Kompas, dan beberapa waktu lalu, salah satu cerpennya memperoleh penghargaan sebagai Cerpen Terbaik Kompas. Atau, mas Aveus Har, yang penjual mie ayam nan sedap lezat, sesedap novel-novel kerennya yang menuai banyak pujian itu.

Jadi begitulah. Tak ada yang membatasi siapa pun, untuk menjadi cerpenis atau penyair. Tapi, saran seorang pengarang dalam cerpen Bang Sori yang tak ada alur, tak ada plot, tak ada klimaks ini, patutlah dicermati baik-baik.

Selamat membaca cerpen tak biasa dari maestro pencerita yang bernama lengkap Sori Sutan Sirovi Siregar yang mulai menulis sejak tahun 1960 ini. Dan selamat menjadi cerpenis dakhsyat! Lho, mengapa tidak? (***)