Amir Hamzah, Tentang Penyair Yang Dibunuh

  • Whatsapp
Foto: Amir Hamzah (ist)

“DI SINI sisi mesjid tua Azizi, di seberang mahtab tempatnya belajar mengaji dimasa kanak-kanak, kini ia bersemayam. Penyair yang dibunuh itu. Alangkah sukar membayangkan, seorang penyair mati dibunuh. Lelaki lembut hati itu. Ia yang beberapa waktu setelah berita proklamasi yang terlambat sampai, berkeliling kota Binjai dengan mobilnya, mengumumkan kemerdekaan Republik.

Foto: Amir Hamzah (ist)
Foto: Amir Hamzah (ist)

Waktu itu sudah lewat tengah malam. Kokok ayam sayup entah di kampung mana. Selebihnya, derik jengkerik. Dengan dada kurus, kotor dan telanjang, tangan terikat, karung goni menjadi sarung, dan leher yang terbuka, usai bersembahyang, setelah memanjatkan doa untuk keselamatan istri dan anak perempuan tersayangnya, Tahura kecil, tujuh tahun usianya, ia pun dipancung, di tengah ladang semak yang sunyi. Duhai tuan, bibirmu bergetar, matamu terbuka. Tak berkedip, menatap kilat pedang. Ya, engkau sendiri yang meminta. Hendak menyaksikan maut itu datang, ujarmu. Bagai ‘kandil kemerlap. Pelita jendela di malam gelap. Melambai pulang perlahan.”

Muat Lebih

Tubuhnya rebah. Lunglai. Terlentang menyusul jasad sejawat dan kerabat, menyesaki lubang dangkal, yang sebelumnya mereka gali sambil membatinkan zikir. Kepala, dengan wajah pucat dan rambut kusutnya, terguling. Suara darah berdesir. Merah, memancar-mancar. Bau tanah basah segera bercampur dengan bau amis. Suara ranting yang terinjak. Pekik burung malam di kejauhan. Lamat-lamat suara truk melintas. Langit kelam. Baru saja reda rinai hujan. Dingin udara mengiris tulang. Ada halimun yang turun, seperti kelambu, di seberang semak. Dedaunan berkilau karena cahaya bintang.

PadaMu jua! PadaMu jua! PadaMu.
Bertahun-tahun kau di situ. Terkubur. Tak ada yang tahu, kecuali para penjagal dimalam jahanam itu. Terbenam dalam akar semak belukar. Dalam sunyi yang seakan abadi. Seperti kau tulis:

Sunyi itu duka
Sunyi itu kudus
Sunyi itu lupa
Sunyi itu lampus
Sampai engkau menjadi belulang.

Sahabat-sahabatmu di Jakarta, para sastrawan itu, Takdir, Sanusi, Armijn, Achdiat.. tentu saja amat kehilangan. Juga para aktivis politik di Jong Sumatranen Bond dan Indonesia Muda, Maria Ulfah, Gani.. Ilik Sundari juga.

Dan Tengku Kamaliah, isterimu, bertahun-tahun setelah ia menitipkan untukmu sehelai kain sarung, teluk belanga putih, al Quran kecil, dan nasi goreng di antara serantang makanan beberapa hari sesudah kau dibawa gerombolan laskar petang itu, pun tak henti berdoa. Tak pernah mau menerima kemungkinan bahwa kau telah tiada. Bertahun-tahun! Ia berharap menemukanmu, junjungan kasihnya.

Sampai kemudian penemuan belulang itu..

Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu.

Jakarta, 1/3/2016

Tatan Daniel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *