25 Tahun Teater “O” Sudah Perlu Diteliti Kekuatannya

  • Whatsapp
Foto: Teater O dalam pementasan Otete Toyol (ist)

Materi puncak 25 Tahun Teater “O” tentu saja tidak melupakan penampilan satu karya Yusrianto yang diberi judul OTETE TOYOL

Oleh: Thompson Hs*

Muat Lebih

TEATER  “O” Universitas Sumatera Utara merayakan 25 Tahun berdirinya pada 1 Oktober 2016 di Gedung Utama Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU). Seperti lima tahun lalu merayakan ulang tahunnya ke-20 Teater “O” memberikan penghargaan kepada toko-tokoh teater di Sumut, khususnya di Medan. Pelataran Gedung Utama TBSU hampir berisi dengan kenderaan seperti sepeda mobil dan sepeda motor sore itu. Petugas parkir mengatur posisi kenderaan dengan baik karena diduga pengunjung dalam acara 25 Tahun Teater “O” pasti akan bertambah.

Betul saja waktu memasuki Gedung Utama TBSU. Acara sudah mulai dan mungkin sesuai dengan jam yang ditetapkan, pukul 15.00 WIB. Di pintu masuk gedung tidak ada lagi penerima tamu. Meja juga sudah kosong dengan buku tamu, meskipun taplaknya masih dibiarkan. Dekat pintu masuk ada spanduk untuk background berfoto. Setelah menaiki tangga ada pameran foto dan informasi tentang Teater “O”. Dari dalam gedung baru saja keluar seorang seniman untuk merokok. Dari dia kemungkinan mengetahui sampai di mana sudah dimulai acara.

Kelihatannya acara 25 Tahun Teater “O” dimulai intinya dari sebuah tayangan testimoni dari beberapa orang melalui proyektor. Gelap di dalam gedung tidak langsung menikmati testimoni itu. Pengantar ke tempat duduk juga masih mencari-cari kursi kosong dengan nyala kecil senter. Sambil menunggu tempat duduk kosong untuk dua orang testimoni berputar terus. Ada dari para perintis Teater “O”, seperti Mukhlis Aryoga, Sastra Maulud, Bambang Riyanto, Yusrianto, Yulhasni serta sejumlah nama yang mengetahui perkembangan Teater “o”, seperti Harun Al-Rasyid, Kent Sihombing, Hasan Al-Banna, Edi Siswanto, Yondik Tanto, Teja Purnama, Agustono, dan sejumlah mahasiswa.

Akhirnya gelap di dalam gedung tidak lagi membuat gamang setelah mendapat tempat duduk paling depan, tepatnya di kursi empuk dengan sandaran tangannya yang sudah mulai terkelupas sampai bisa menyentuh busanya. Sofa paling depan biasanya disediakan untuk para pejabat, tokoh, dan pimpinan pemerintahan kalau ada acara. Kali ini bisa duduk paling depan karena pengantar yang mengandalkan nyala senter itu memberi laporan kepada Yulhasni kalau salah satu penerima anugerah baru datang dan agak terlambat. Sisa tayangan testimoni masih berlangsung dari layar yang diposisikan di atas panggung.

Ada 5 nama penerima anugerah dalam acara 25 Tahun Teater “O” dan sudah duduk manis di kursi yang empuk itu, kecuali Yusrianto yang bersiap-siap di balik panggung dan ketahuan di sana waktu muncul pada gilirannya dipanggil di urutan kelima serta menjadi satu kekuatan di Teater “O” karena naskah-naskah komedinya. Empat penerima anugerah lainnya adalah Yan Amarni Lubis dengan alasan kesetiaannya sampai saat ini di dalam teater sejak masuk di Teater Nasional. Kemudian dengan produktivitas Yondik Tanto menulis sejumlah naskah teater memastikan augerah itu diberikan kepadanya. Di urutan ketiga anuegerah diberikan kepada saya, Thompson Hs, dengan penetapan sebagai kreator Teaater Tradisi dan perkembangan Opera Batak hingga sudah mendunia. Untuk kedua kalinya saya menerima penghargaan dari Teater “O” setelah pada ulang tahunnya yang ke-20 yang tidak bisa saya hadiri. Waktu itu saya sedang di Jakarta dan penghargaan diwakilkan. Namun kali ini saya dapat hadir dan tidak kebetulan baru pulang juga dari Jakarta menerima Anugerah Kebudayaan 2016 dari Kemendikbud RI. Tahun 2016 ini ada 54 tokoh menerima Anugerah Kebudayaan di Jakarta dengan acara yang dilangsungkan di Gedung Teater Besar Taman Ismail Marzuki pada 23 September (malam). Bahkan seusai acara diumumkan ada 4 tokoh lagi menerima anugerah itu dari pemerintah, sehingga genap menjadi 58 di luar informasi Katalog dan Buku yang diterbitkan untuk acara itu.

Jauh hari saya sudah beritahu kepada Yulhasni kalau saya menjadi salah satu penerima Anugerah Kebudayaan 2016 dari Kemendikbud. Semoga itu bukan suatu dorongan hingga anugerah yang diberikan Teater “O” harus dilakukan pula untuk saya untuk kedua kalinya. Namun Yulhasni merupakan salah satu pendiri Teater “O” yang mengangkat penelitian pasca sarjananya dengan objek Opera Batak. Dalam kaitan dan di sela-sela penuntasan penelitian dan penyempurnaan tesisnya saya mengungkapkan soal anuegerah dari Jakarta itu. Hal itu tentu saja ada kaitan dengan Opera Batak. Saya menerima Anugerah Kebudayaan 2016 dari Jakarta dalam Kategori Pelestasri, terutama Pelestari Opera Batak.

Sejumlah studi sudah dilakukan kepada Opera Batak sejak direvitalisasi pada Tahun 2002. Dari level sarjana dan pascasarjana sudah lebih dari 15 orang meneliti Opera Batak dengan berbagai sudut pandang. Termasuk studi managemen Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) sebagai penerus program revitalisasi sejak 2005. PLOt berada di luar fasilitas strategis seperti grup-grup lain kesenian dan masih bertahan dengan mengontrak sekretariat di Pematangsiantar.

Tentu saja saya ingin membicarakan Teater “O” karena rasa terima kasih. Tepuk tangan bergemuruh ke semua penerima anugerah pada sore itu sampai giliran ke empat pada Agus Susilo karena kekuatan upayanya dalam teater melalui keberaniannya melakukan berbagai eksperimen. Tanda anugerah diberikan pada 5 tokoh dalam bentuk piala patung. Patung tersebut menurut informasi dibuat oleh Cipto, seniman yang biasa mangkal di TBSU. Usai pemberian anugerah dan berfoto sejenak tidak ada kesempatan diberikan sebagai kesan atas anugerah itu. Karena itulah saya membuat tulisan ini dengan apa adanya sambil berusaha mengeluarkan respon dan masukan setelah Teater “O” memasuki tahun ke-25.

Penampilan OTETE TOYOL

Materi puncak 25 Tahun Teater “O” tentu saja tidak melupakan penampilan satu karya Yusrianto yang diberi judul OTETE TOYOL. Yusrianto juga sekaligus menjadi sutradara, seperti sejumlah naskahnya yang digarap dalam produksi Teater “O”. Ciri khas karya Yusrianto menjadi satu kekuatan selama ini di dalam Teater “O”. Dengan ciri komedinya yang ringan dalam hubungan dialog dan lakon selalu terasa ada ajakan agar kita tidak perlu putus asa. Tertawa adalah sasaran yang selalu dibangun Yusrianto sebagai bukti adanya kesempatan untuk tidak putus asa, meskipun pada OTETE TOYOL kelihatannya para Pasukan Toyol akhirnya menampakkan putus asa dengan menggantungkan kepala masing-masing setelah tiga manusia setengah Toyol lepas dari kerangkeng yang mereka gadang-gadang.

Foto: Pementasan Teater O. (ist)
Foto: Pementasan Teater O. (ist)

OTETE TOYOL dapat diduga sebagai singkatan dari Operasi Tertangkap Toyol. Tiga Manusia Setengah Toyol itu kelihatannya tertangkap Pasukan Toyol setelah suatu peristiwa. Peristiwa itu berlangsung sebagai awal pertunjukan OTETE TOYOL. Tiga orang sedang muncul melewati panggung; salah satu di antara perempuan dengan menyandang tas. Dari belakang mereka menyusul tiga sosok pula sambil mengambil isi tas yang disandang. Mungkin tiga sosok itu adalah asosiasi Tuyul dengan Toyol. Perempuan yang menyandang tas itu hampir histeris setelah mengetahui esuatu yang hilang dari tasnya. Namun tiga sosok yang kemudian adalah Manusia Setengah Toyol seperti menenangkan suasana dan meletakkan lembaran uang untuk diambil ketiga orang yang sedang lewat dan kehilangan itu.

Ada kerumitan maksud dari kehilangan hingga meletakkan lembaran uang bagi yang baru saja kehilangan. Mungkin itu contoh atau simbol Operasi Tertangkap Tangan (OTT). Nah, maraknya OTT tentu saja dapat ditangkap ada kaitan penampilan itu dengan isu korupsi. Namun dengan mencoba mengidentifikasi Toyol sebagai pasukan yang menangkap ada situasi intrinsi yang sedang ingin disampaikan dalam OTETE TOYOL. Di dalam pikiran kita Toyol dapat mewakili sistem yang tolol atau sengaja ditololkan untuk menyelesaikan kasus korupsi. Situasi ketololan itu akhirnya dapat diimbangi oleh kasus-kasus lain seperti pembunuhan, sebagaimana contoh yang diungkap melalui ocehan salah satu Pasukan Toyol melalui kasus pembunuhan Mirna yang dikaitkan dengan sianida. Ada ocehan-ocehan lainnya yang bikin tawa tidak berhenti dari ruang gelap Gedung Utama TBSU pada sore itu.

Pertunjukan OTETE TOYOL tidak panjang dibuat durasinya, sebagaimana komedi dan banyolan yang biasa ditawarkan oleh Teater “O”. Tawa tidak habis pada sore itu. Namun Yusrianto kembali mengeluarkan pola tampilan yang terkadang ecek-ecek namun tetap serius menunjukkan kekuatan membuat komedi dan banyolan-banyolan sederhana itu. Para pelakon OTT Toyol kelihatan juga sangat ringan dan menampilkan karakter-karakter yang lamban, karena dampak korupsi selama ini sudah menjiwai banyak situasi dalam keseharian kita. Jadi teringat kepada bocoran Tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) seusai melakukan wawancara kepada saya kira-kira tiga bulan lalu. Bocoran itu menggambarkan Gedung KPK didatangi masyarakat dengan berbagai problem yang tidak ada kaitan langsung dengan kasus-kasus korupsi. Misalnya ada yang butuh uang untuk menikah, ada masalah keluarga, ada yang ingin mendapat lowongan kerja, dan lain-lain. Gedung KPK kesannya lama-lama mulai menjadi rumah rakyat karena berkurangnya kepercayaan ke gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Tim KPK menganggap banyaknya orang dengan segala permasalahannya menunjukkan tingkat kepercayaan akan beralih dengan adanya KPK. Karena itu KPK selalu dikuatirkan akan dibubarkan. Kesan pihak KPK atas kepercayaan dikaitkan dengan dampak-dampak korupsi melalui munculnya berbagai permasalahan di kalangan masyarakat.

OTETE TOYOL tidak sejauh itu untuk mengungkap persoalan. Namun seperti logika anak kecil yang tidak langung mampu mengucapkan kata tolol, akhirnya memang harus bilang toyol. Situasi tolol (baca: toyol) menjadi kesan menarik dalam puncak acara 25 Tahun Teater “O”. Kekuatan karya, keberhasilan para perintis, situasi fasilitas untuk kehidupan teater di kampus, dan berbagai kemungkinan lainya merupakan kekuatan yang ada pada Teater “O”. Semua hal itu sudah layak diteliti. Kekuatan-kekuatan itu dapat menjadi pembelajaran objektif yang bisa disederhanakan dalam Plus Minus perjalanan teater yang masih bertahan di kampus. Selamat 25 Tahun Teater “O”. Semoga selalu seperti mottonya: Hadir dan Ada Bukan Sekedar Datang dan Bernafas. Salam Teater “O”!!!

Medan, 1 Oktober 2016

*Penulis adalah Direktur PLOt Siantar, salah satu Penerima Anugerah Kebudayaan 2016 dari Kemendikbud RI, pencetus dan salah satu deklarator Toba Writers Forum.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *