182 WNI di Pakistan berhasil melakukan repatriasi mandiri atas fasilitasi KBRI Islamabad

oleh -128 views

ISLAMABAD – KBRI Islamabad berhasil memfasilitasi pemulangan (repatriasi) mandiri WNI dengan memanfaatkan penerbangan khusus Pakistan International Airways (PIA) yang digunakan merepatriasi WN Pakistan dari Indonesia ke Pakistan.

Suasana haru bercampur gembira terlihat di wajah para WNI yang mayoritas lebih dari tiga bulan tertunda kepulangannya dari Pakistan.

“Kami sudah rindu tanah air dan bertemu keluarga, lebih-lebih ingin merasakan suasana puasa dan lebaran di kampung halaman,” ujar Sugeng salah seorang WNI saat dilakukan pelepasan oleh Dubes RI Islamabad, Iwan Suyudhie Amri di bandar udara Islamabad, Senin (18/5/2020) waktu setempat.

”Total penumpang sebanyak 186 orang yang terdiri dari 182 WNI dan 4 WNA,” ujar Dubes Iwan Amri.

Dari 182 WNI tersebut adalah 136 Jemaah Tabligh (JT), 17 mahasiswa, 13 santri/student, dan 16 travellers, sementara 4 WNA tersebut adalah 3 WN Pakistan suami dari WNI dan 1 WN RRT santri/student di Pesantren Temboro, Magetan, Jatim.

“Keempat WNA tersebut adalah pemegang KITAS/ KITAP,” sambung Dubes Iwan.

Proses pendataan WNI untuk repatriasi mandiri tidak mudah, mengingat tersebarnya WNI di berbagai wilayah di Pakistan. Khususnya WNI Jemaah Tabligh yang menjalani aktiftas secara berpindah dari satu daerah ke daerah lain di Pakistan.

Kondisi pembatasan gerak karena kebijakan lockdown dan physical distancing oleh otoritas Pakistan memaksa KBRI untuk mengupayakan berbagai langkah kreatif agar dapat terhubungi dengan seluruh WNI.

“Kami menjalin koordinasi intensif dengan berbagai pihak, baik otoritas Pakistan, pengelola Markaz JT di Raiwind dan Islamabad, kampus dan mahasiswa IIU, pengelola Markaz JT di Ancol, juga WN Pakistan (friends of Indonesia), untuk memastikan repatriasi mandiri ini berhasil,” tutur Dubes Iwan kembali.

Penawaran KBRI untuk repatriasi mandiri dengan PIA disambut WNI, karena harga yang lebih murah dari penerbangan lain, yaitu seharga IDR 6,8 juta perkepala dan jaminan kepastian berangkat.

Sebelumnya di antara WNI yang ikut adalah karyawan di pabrik tembakau Pakistan seperti Phillip Morris, telah mencoba mengkoordinir menggunakan penerbangan komersial Qatar Airways, namun harga yang dikenakan sangat tinggi mencapai IDR 55 juta perkepala. Hingga saat ini pun pesawat komersial masih terkena kebijakan penguncian dan penundaan penerbangan.

Untuk memberikan perlindungan kepada WNI, KBRI Islamabad membentuk Satgas terkait Covid-19 yang dikomandani Athan RI, Kolonel Kav. Dody Muhtar Taufik, termasuk dalam proses repatriasi ini.

Satgas KBRI menyediakan kendaraan dari titik berangkat WNI menuju bandar udara Islamabad. Kepada calon penumpang juga diberikan informasi untuk mematuhi protokol kesehatan yang ditetapkan oleh PIA selama penerbangan dan Pemerintah Indonesia pada saat kedatangan di Jakarta, serta menggunakan alat pelindung diri yang diperlukan.

Satgas KBRI juga melengkapi para penumpang dengan surat keterangan jalan dan surat keterangan bebas COVID-19 yang dikeluarkan otoritas kesehatan Pakistan. “Repatriasi mandiri merupakan bagian dari upaya Pemerintah RI untuk memberikan pelindungan bagi WNI di luar negeri, yang merupakan salah satu prioritas diplomasi Indonesia,” pungkas Dubes Iwan Amri.

Para WNI pun sempat melakukan buka puasa bersama yang difasilitasi KBRI Islamabad di area bandara, jelang check in keberangkatan pesawat ke Jakarta. (red)