12 Puisi Wirja Taufan Kontemplatip Menyuarakan Dunia

  • Whatsapp
Foto: Foto: Penyair Wirja Taufan. (ist)

Wirja Taufan

Kenangan Di Depan Tugu Perjuangan 1945 Binjai

-Kepada Lie Sim

Malam akandatang, jantung bergerak
Dengan pelukan dan ciuman
Sungai Bingai bernyanyi di bawah udara
Menari dengan bayangmu

Di depan Tugu Perjuangan 1945 ini, saya berjalan
Dibelakang jejak kakimu. Dikelilingi oleh waktu
berabad-abad dan ribuan tahun
Kenangan membanjiri kota, lampu-lampu menyala
Menyentuh sayap kupu-kupu

Saya menunggumu. Malam datang tanpa pelukan
Tanpa ciuman bibirmu. Hanya ada suara gema
Sungai Bingai yang tak henti bernyanyi
Mencium pohon-pohon dan bunga-bunga

Saya rindu dengan mata rambutanmu. Saya rindu suara-suara air memeluk ikan-ikan
Saya rindu suara-suara anak-anak berenang,
Melompat dan menyelam
Aroma kenangan yang masih berdetak dalam nafas
Seperti cabang dan ranting yang mencari bunga Muncul dan tenggelam dari sisi-sisi jalan

Jangan ucapkan selamat tinggal
Meskipun saya mati setiap saat
Mengulang-ulang malam dari sisa-sisa cahya
Dari matamu yang hilang

Padang, 2019

Nyanyi Sunyi Amir

Daun-daun pohon rambutan melambai-lambai
Dilembah mata saya. Berbicara dengan detak jantung saya
Tentang cinta dan kebenaran

Amir, Amir, tangan-tangan saya tidak memeluk lagi
Aroma bunga menahan airmata saya
Kata-kata seperti tombak dan racun
Memberikan api dalam hidup saya

Saya melihat potongan kebohongan-kebohongan
Tanpa pengampunan. Mengubah sajak menjadi sengketa
Mengambil jiwamu, dengan pemberontakan
Tanpa perdamaian

Bawa saya ke sungai di matamu.
Dengan sayap yang patah, cinta masih mekar
di situ. Menemukan mimpi yang rusak, gema kerinduan
menuju keabadian

Amir, Amir, saya mencium jiwamu yang hidup
Dalam sajak-sajakmu yang terbakar
Kenangan halaman yang dirobek oleh waktu
Cinta dimakamkan di situ

Padang, 2019

Tak Akan Melayu Hilang Di Bumi

Aku memasuki prasasti tanpa jejak kakiku
Melewati hutan yang membanjiri semua ingatan
Memori yang membangkitkan waktu
Bintan sampai Semenanjung Melaka

Di sini bermula puisiku, menghantui
setiap waktu. Hang Tuah, tak pernah mati
Nadimu masih berdenyut sepanjang pantai
tanah dan pohon-pohon
Menggetarkan hujan yang dibuat angin dan laut
Mencapai komet dan planet manapun

Aku melihat pertarungan demi pertarungan
di prasasti itu. Siang dan malam yang buta
Tanah, laut dan pepohonan menggema
meneriakkan sumpahmu
: ‘Tak akan Melayu hilang di bumi’

Siapa yang tidak kau kalahkan. Gerombolan lanun,
Taming Sari, pendekar dari Majapahit itu
Bahkan Hang Jebat pendekar perkasa
Semua tersungkur bersimbah darah di tanganmu

Ini aku sedang berlayar bersama perahumu
Dalam prasasti itu. Menuju komet dan planet manapun
Kau hadir di situ, menuangkan pagi yang cerah
Cinta yang membuat kematian menjadi hidup
Kunang-kunang dan mimpi seribu cahaya

Padang, 2018

Ritual Kecil Untuk Hang Tuah

Aku berlayar bersama perahumu
semalaman. Tersesat dalam lautan waktu
Siang menjadi bayang-bayang
yang mengaburkan. Menghapus seluruh jejak kaki
Dari mana asalmu, dimana kuburmu o Hang Tuah Laksamana gagah perkasa planet manapun

Aku di sini tegak sekarang. Bintan menggigil
seperti suara gelombang. Mengulang semua ingatan
Dari waktu yang mereka sembunyikan
Dari mana asalmu, dimana kuburmu?
Huruf-huruf mengapung menyusun namamu
Hang Tuah, laksamana gagah perkasa

Di sini aku sembahkan ritual kecil untukmu
Pesta kata-kata dalam hujan dan kabut
Pantun berbalas pantun seperti orang-orang berbalas pantun. Puisi yang bangkit dari irama pertarungan
hidup dan mati, di ujung mantra
Tak habis-habis seperti tanah yang tak habis-habis
Mengenangmu di planet manapun

Dari mana asalmu, dimana kuburmu?
Aku tak ingin tenggelam dalam hutan waktu
Genangan pohon-pohon cinta yang tetap menyala
Terus menyala di dadaku

Padang, 2018

Rakhine Dalam Dada Yang Terbelah

Taka ada puisi di sini. Kata-kata terkubur
dalam dada yang terbelah. Rakhine
meleleh menjadi api. Membakar kebenaran dan Tuhan
Dalam dada yang terbelah
Airmata menjadi sungai yang mengalir
Menuju lembah dan bukit-bukit

Sampai kapan jarum jam menggigil
Tak tahan terendam darah dan airmata
Dalam dada yang terbelah
Tangan-tangan mungil melambai-lambai
Seperti isyarat selamat tinggal
Kepada cinta, kebenaran danTuhan

Tak ada puisi di sini. Rakhine
Hari-hari seperti dajal yang menakutkan
Dan kau masih saja diam membisu

Padang, 2017

Secangkir Kopi Mengenang Toet

Tak usah takut, di sini tak ada kopi Jessica katamu
Teguklah secangkir kopi hitam pahit ini
Ladang-ladang kopi akan menjelma di kepalamu

Udara dingin, hembusan angin, tepukan bantal kecil
dan hentakan accordion usangmu
Menghangatkan ribuan impianmu yang terkubur

Aku minum kopi hitam pahit ini 100 tahun yang lalu katamu
Aromanya mengantarmu berdiri di situ, sebuah panggung terbuka
Di tengah dinding-dinding kaca menggapai langit
Orang-orang asing di kampungmu
Mengepungmu, tangan-tangan mereka melambai-lambai
dengan dada terbuka

Toet.. Toet..
Suara mereka menggema sepanjang aroma kopimu
Menembus dinding-dinding kaca
Kembali ke ladang-ladang kopi
Mengembun di batang-batang kopi hitam pahitmu
Lelehannya tak pernah lupa
: Abdul Kadirsi Ceh Kucak

Padang, 2016

Ini Bukan Sajak Cinta
Yang Dibungkus Seribu Ciuman

(Untuk Ananda Dewi Rara Faramitha, SH dan Ardiansyah, SE)

Manusia penuh dengan mimpi
Hidup dalam waktu dan cinta
Ribuan detak jantung mencari tetesan hujan
Dengan cahaya dan bayangan

Matahari timbul dan terbenam
Menggetarkan gelombang matamu yang perih
Menaburkan ilusi dan metafora
Membakar ketakutan menjadi jiwa tanpa waktu
Jam kosong yang berputar-putar

Jangan pernah takut wahai tetesan airmata
orangtua di saat-saat sepi dan rindu
Ribuan pelangi di dalam dirimu
Akan terus menulis di udara terbuka
Bahwa kau akan tetap hidup
Menoreh peradaban dengan cinta dan ciuman
Dengan bunga dan pelukan

Ya, ini bukan sajak cinta yang dibungkus
seribu ciuman.Teruslah melangkah
Melewati jalan-jalan dan reruntuhan
Memeluk siang yang menjauh
Kehidupan yang dihabiskan tanpa batas

Padang, 2019

Aku Menangis

Aku menangis dalam seribu getaranmu
Tanpa rasa sakit, telanjang dari tangan dan kaki-kaki
Dalam dimensi yang aku tidak tahu
Keheningan yang tidak berujung

Aku gemetar. Tanpa sosok tanpa dingin
Tanpa rasa panas dalam kobaran api
Ribuan kalender yang terbakar, bersama planet
atom, membrane, dan sel-sel
Memberikan oksida ciuman dari pohon-pohon,
tanah dan lautan

Aku menangis. Dalam hujan dan ombak
yang terbakar. Melukis senyum di sajadahmu
Dengan cahaya yang menyala di jari-jariku
yang tidak berbohong
Tuhanku, bukalah pintu Mu

Padang, 201

Tak Suka Politik

Aku tak suka politik
Tak pernah belajar untuk menyukainya
Bahkan tak suka diksi untuk puisi-puisi cinta

Aku tidak suka belaian kosong mereka
Janji-janji adalah sihir yang memabukkan

2018

Aku Mati Dan Hidup Kembali

Aku tak suka memeluk istana. Tidak sedang berjalan
di karpet merahmu. Sepanjang jalan sampai ke lubang-lubang
tanpa kehidupan. Kau tak akan menemukan jejak kakiku
Tak akan bisa menyeret kematianku

Aku mati dan hidup kembali. Tanpa bayangan
kebohonganmu. Demokrasi yang dibungkus beribu aroma
tekateki, senjata, ciuman yang memabukkan

Di labirin dan hologram tanpa warna, anak-anakku
kehilangan kunang-kunang. Meneriakkan hak-hak
nenek moyangnya, atas rumah, tanah dan kota-kota
yang hilang. Terbakar di tanganmu

Aku mati dan hidup kembali
Meninggalkan takdirku dalam vocal dan konsonan
Sinyal yang menggelembung tanpa zat
Menghancurkan pembuluh darahmu
Tanpa doa, tanpa bunga dan seribu ciuman

2018

Di Sajadah Ini

Di sajadah ini, tanganku tak memeluk lagi
Merangkak dan berteriak mencari ketidak hadiranmu
Saat kau tak pernah menangis
Mencari arah jalan kembali

Tak ada kunci, tak ada pintu dan jendela
Dalam kematian yang berulang
Tanganku tenggelam seperti kapal
Berlayar tanpa laut

Aku melangkah meninggalkan jejak kakiku.
Dalam labirin yang tak berujung
Mencari kematianku untuk nafas yang sempurna
Terus melangkah, menembus ruang
Tanpa waktu dan udara

Di sajadah ini, beribu fantasi, ilusi
metafora dan metematika tanpa logika
Timbul tenggelam tanpa perpisahan
Tanpa ruang untuk kita bersembunyi

Padang, 2019

Melayang

aku melayang
seperti dalam ruang hampa
kupu-kupu, ulat, cacing dan burung-burung
berhamburan seperti meteor di ruang angkasa

teori fisika seperti mati di sini
ruang hampa, kupu-kupu, ulat, cacing
dan burung-burung, berhamburan
tak satu pun saling menyentuh

aku melayang
menembus rimba-rimba harimu
lautan kerinduan dan sepi di kuburmu
meleleh membasahi bayangmu

Medan, 2012

Biodata Wirja Taufan :

Penyair yang tercatat dalam buku LEKSIKON SUSASTRA INDONESIA oleh Korrie Layun Rampan (Balai Pustaka, 2000), APA DAN SIAPA PENYAIR INDONESIA (Hari Puisi Indonesia, 2017) dan dalam buku JEJAK-JEJAK KREATIF 100 SENIMAN SASTRAWAN SUMATERA UTARA (Mei, 2018), lahir di Medan, 15 September 1961 dengan nama asli Suryadi Firdaus.

Anak ketiga dari tujuh bersaudara dari kedua orangtua sastrawan Sumatera Utara, Dhalika Tadaus (almarhum) dan Nurlely AM (almarhum), mulai menulis sejak 1980 dan dimuat di berbagai media lokal dan nasional, antara lain surat kabar harian Analisa, Bukit Barisan, Sinar Pembangunan, Mimbar Umum, Garuda, Medan Bisnis, Sumut Pos, Padang Ekspres dan Indopos Jakart, serta majalah sastra Horison Jakarta.

Puisi-puisinya juga dimuat di berbagai antologi puisi bersama, antara lain : KOMA (Antologi Puisi Pertemuan Penyair Muda Sumatera Utara, 1992 dimana ia adalah salah seorang penggagasnya), MUARA I, MUARA II, TITIAN LAUT II dan TITIAN LAUT III (Antologi Puisi dan Cerpen Penulis-penulis Malaysia bagian Utara dan Sumatera Utara dalam Pertemuan Sastra Dialog Utara di Medan dan Malaysia), ILHAM (Antologi Puisi Islami Sumatera Utara, 1991), MEDAN PUISI (Antologi Puisi Pesta Penyair Indonesia, The 1st Medan International Poetry Gathring, 2007), SERATUS PUISI QUR’ANI 2018, YANG TAMPIL BEDA SETELAH CHAIRIL (Antologi Puisi Hari Puisi Indonesia, 2016), PUISI KOPI 1550 Mdpl (2016), 6,5 SR LUKA PIDIE JAYA (Puisi Penyair Nusantara, 2016), ACEH 5:03 6,4 SR (Komunitas Seni Kuflet dan FAM Indonesia, 2016), NYANYIAN PUISI UNTUK ANE MATAHARI (Jakarta, Februari, 2017), AIRMATA ROHINGYA (2017), THE FIRST DROP OF RAIN (Antologi Puisi Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, 2017), JEJAK AIRMATA, DARI SITTWE KE KUALA LANGSA (Antologi Puisi Kemanusiaan dan anti Kekerasan, Jakarta, Oktober, 2017), SENDJA DJIWA PAK BUDI (Antologi Puisi Mengenang almarhum Achmad Budi Cahyanto, Mei 2018), EPITAF KOTA HUJAN (Antologi Puisi Temu Penyair Asia Tenggara, 2018), SKANDAL SASTRA UNDERCOVER (Jakarta, Juli 2018), A SKYFUL OF RAIN (Antologi Puisi Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2018), dan JAZIRAH (Antologi Jejak Hang Tuah Dalam Puisi, 2018).

Tahun 1984 menerima Hadiah Kreatifitas Sastra Bidang Puisi dari Dewan Kesenian Medan (DKM). Tahun 1986 membacakan kumpulan puisinya EPISODE MIMPI di Taman Budaya Medan (TBM).

Tahun 1986 diterima bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Radio Republik Indonesia (RRI) Stasiun Nusantara I Medan. Dari April 2015 sampai dengan sekarang bertugas sebagai Kepala Bidang Teknologi dan Media Baru (TMB) di Lembaga Penyiaran Publik (LPP) RRI Padang. (**)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *