Foto: Yayasan Pecinta Alam Acarina Indonesia YPAAI menggali situs di Tuban. (ist)

Data yang dimiliki YPAAI, di Kab. Tuban terdapat 33 titik situs budaya dan  27 di antaranya berada kawasan hutan.

TUBAN – Situs budaya tidak bisa dilepaskan dari kearifan local, karena selama ini, peninggalan leluhur yang terkait kebudayaan dan sejarah itu dirawat masyarakat lokal. Di era zaman modern seperti saat ini, tidak banyak yang mempedulikan. Namun Di Tuban, terdapat sebuah kelompok, salah satunya yang giat mengembalikan situs-situs budaya, kelompok tersebut ialah Yayasan Pecinta Alam Acarina Indonesia (YPAAI).

M. Ali Baharudin selaku ketua YPAAI  mengatakan,  bahwa dari data yang dimiliki YPAAI, di Kabupaten Tuban terdapat 33 titik situs budaya. Dan dari jumlah tersebut, 27 di antaranya berada kawasan hutan. Selebihnya, 6 situs di luar hutan, yang juga termasuk 6 situs yang masuk dalam Perda Nomor 9 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah.

”Sebenarnya masih banyak yang belum tercatat, meski keberadaannya sudah diketahui, seperti diantaranya situs Pangeran Ini Kusumo Yudho alias Mbah Abdul Jabar di Nglirip, Singgahan, Pangeran Pringgodani (Soko) dan Pangeran Purboyo (Rengel)” ungkap M. Ali Baharuddin, (19/03/2017)

Masih menurut penjelasan Ali, bahwa hanya beberapa saja yang mengenal makam aulia penyebar ajaran Islam di tanah Jawa itu. Selebihnya tak dikenal. Bahkan, tenggelam. Seiring tenggelamnya situs-situs budaya itu, setahun terakhir YPAAI berusaha mengembalikannya.

“Seperti di Desa Sugihan, Kecamatan Jenu. Bersama Perhutani, kami baru saja menanam 3 buah pohon randu putih dan 1 pohon asem jawa. Kawasan yang ditanami jenis tanaman tersebut, terdapat situs budaya yang merupakan petilasan Kiai Ageng Selo, aulia yang dikenal cinta lingkungan dan gemar menanam tanaman,” ujarnya.

Lanjut Ali, beberapa tempat yang dikembalikan situs budayanya tersebut kini dijadikan kawasan Lahan Dengan Tujuan Istimewa (LDTI) dan dinamakan petilasan Lawang Petir. Dalam sejarah, Kiai Ageng Selo adalah salah satu murid Sunan Kalijaga yang merupakan salah satu walisongo.

”Harus diingat, di bumi ini kita tidak hidup sendirian. Keseimbangan alam ini harus dijaga. Ini momentum awal perjuangan kita untuk memperhatikan dan memperjuangkan kelestarian alam, seperti halnya Ki Ageng Selo yang gemar menanam” pungkasnya.

M. Ali Baharudin yang merupakan lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Malang ini menjelaskan bahwa banyak buku sejarah dan cerita rakyat yang terkait hubungan penanaman pohon dan keseimbangan alam. Dia mencontohkan di Masjid Demak. Pintu tengah masjid tersebut bergambar tanaman. Setelah petilasan Lawang Petir, Ali berencana akan mengembalikan situs budaya lain di Bumi Wali. (ki/gr)

TINGGALKAN KOMENTAR