Foto: Yori Antar yang peduli dengan arsitek tradisional. (ist)

YORI Antar adalah arsitek yang gigih menggali ilmu arsitektur lokal, mendokumentasikan, dan membangun kembali arsitektur nusantara, berupa rumah-rumah adat yang terancam punah di pelbagai ceruk kampung negeri ini.

Foto: Yori Antar yang peduli dengan arsitek tradisional. (ist)
Foto: Yori Antar yang peduli dengan arsitek tradisional. (ist)

Ia prihatin melihat gejala terancam punahnya arsitektur tradisional di negeri ini. Terlupakan di antara megahnya bangunan modern. Diperparah dengan tidak adanya dokumentasi catatan atau buku yang otentik mengenai ilmu merancang rumah-rumah adat tersebut. Padahal, bangunan tradisional yang dimiliki setiap suku di Indonesia itu merupakan harta dan jati diri bangsa ini, yang berpotensi menginspirasi dunia.

“Jika kita membiarkan kepunahan rumah-rumah adat itu terjadi dan tidak melakukan apa-apa, maka saya merasa kita telah melakukan dosa profesi sebagai seorang arsitek!” ujar Yori di Rumah Toba, Anjungan Sumut, TMII, Jakarta, Selasa (2/3/2016).

Maka sejak tahun 2008, Yori Antar membuat gerakan yang ia beri nama Rumah Asuh. Gerakan tersebut mengajak para mahasiswa terpilih untuk belajar dengan para pemangku dan masyarakat kampung selama satu setengah bulan dalam membangun rumah-rumah tradisional di tanah air.

Program Rumah Asuh yang didukung oleh para donatur/ pilantropis, akademisi, bersama masyarakat setempat ini sudah berjalan di Wae Rebo-Flores, beberapa rumah adat di Nias, pembangunan kembali rumah-rumah di kampung adat Ratenggaro, Waingapu, dan Rumah Budaya di Waetabula, Sumba Barat Daya dan Balai Pertemuan untuk Musyawarah Adat Lobo Ngata Toro di Sulawesi Tengah.

Diharapkan, Yori, dengan kekayaan pengetahuan dan pengalaman, terutama dengan kecintaannya terhadap seni arsitektur karya cerdas para leluhur itu, dapat ikut mengawal proses pembangunan kembali kampung adat di Jangga Dolok, yang digagas oleh Anjungan Sumut Tmii, Joyce Sitompul/Kosentra, dan YPDT, yang menurut majalah Tempo, adalah satu di antara 100 surga tersembunyi di nusantara.

ARSITEK DAN PARA SUHU ITU BERTEMU

“Pembangunan rumah adat di Jangga Dolok adalah pencarian sekaligus penemuan kembali ilmu pengetahuan, tradisi, dan pelbagai khazanah kebudayaan Batak!” tegas Yori Antar, arsitek yang gigih menggali ilmu arsitektur lokal, mendokumentasikan, dan membangun kembali berbagai arsitektur nusantara, di Rumah Gorga, Anjungan Sumatera Utara TMII, Kamis 3 Maret 2016.

Pertemuan langka yang digagas dan diselenggarakan oleh Anjungan Sumatera Utara TMII, bersama Ir. Joyce Sitompul dari Kosentra, dan YPDT, dalam rangka membangun kembali situs kampung adat di Jangga Dolok yang musnah terbakar awal Januari 2016 yang lalu, secara khusus dihadiri Pak Cosmas Batubara, Dr. Bisuk Siahaan, Prof. Dr. Ing.Uras Siahaan (UKI), Drs. Maruap Siahaan (Ketua Umum YPDT), Dr. Parluhutan Manurung; Prof. Gunawan Tjahjono (Guru Besar Arsitektur UI); Ir. Parlin Sianipar (Ketua Umum Forum Masyarakat Balige); Jesman Gultom (Pegiat Aksara Batak); Saut Poltak Tambunan (Sastrawan); Ary Dananjaya Cahyono Silaban; dan beberapa peserta lainnya.

Sepanjang sejarah 41 tahun Anjungan Sumatera Utara TMII, baru kali ini para pakar berkumpul di Rumah Gorga itu, membahas pembangunan kembali sebuah kampung adat!

Bagi Anjungan Sumut, ini adalah momentum untuk penyelamatan rumah-rumah Batak, sebagai habitat peradaban yang amat kaya. Jika komitmen dan kepedulian tak juga terbangun, bisa dipastikan satu demi satu rumah, satu demi satu kampung yang tersisa, yang berusia ratusan tahun itu, tempat gorga diukir dengan indahnya, dan turi-turian dinyanyikan ketika bulan purnama, akan punah dari muka bumi. Anak cucumu hanya bisa melihat potretnya yang buram di buku-buku tua. Dan menangis menyesalimu sebagai pewaris yang lalai. (tatan daniel/gr)

TINGGALKAN KOMENTAR