Poster ;akon "Pria Istri Kita'

MEDAN – Siska Hasibuan aktris Teater Kartupat, mengaku pernah dipaksa ayahnya Raswin Hasibuan almarhum, memerankan monolog Prita Istri Kita di tahun 1999.

Siska seperti tersentak, terkesima saat dirinya diundang untuk nonton pertunjukan yang menurut dirinya pernah menyelamatkan marwah papanya itu yang kali ini dipentaskan Wan Hidayati dengan bendera Teater Nadional Medan, Rabu, (28/11/2018).

“Mbak Ik, tolong selamatkan harga diri, papa,” ujar Siska dalam status di facebooknya menanggapi undangan menonton itu.

Berikut adalah status Siska yang dikutip Gapuranews.com dari akun pribadinya. Tentu saja setelah diberi izin darinya.

Tahun 1999 awak mementaskan naskah monolog ini disutradarai om. Jc Bladak Waktu itu “dipaksa” seniman besar abangda Raswin Hasibuan.

Katanya Gini : “Bantu papa jaga nama baik, pementasan ini untuk ngasi tau ke orang bahwa hari ini Kartupat ‘masih ada’ walau sudah ditinggalkan puluhan anggotanya”

Sesungguhnya waktu itu aku jijik!  kartupat lagi kartupat lagi…hahahha.. Dan sempat bikin tingkah aneh-aneh untuk menggagalkan pementasan itu. Tapi dia terlalu berkharisma untuk ditolak.

Dan om sutradara itu sabar Kali menghandle pemainnya. Katanya Gini: “Anggaplah kamu gak melakukan ini buat Kartupat, lakukan aja buat dirimu sendiri, berkarya itu asik loh, one day, ketika kamu udah tua, kamu liat panggung, kamu lega kamu pernah naik dan bermain di atasnya.”

Huft, bulan-bulan penuh cobaan menghafal naskah dan mementaskannya sendirian.. sering mentas, tapi rame rame..Lah ini monolog.. pakek daster merah milik mama, rambut kucel diiket cempol kebelakang.

“Pagelaran 100 kursi” iyes, penontonnya cuma 100 orang, siapa cepat dia dapat, aku gak tau entah pementasan di hujan deras yang menenggelamkan sepeda-sepeda motor penonton itu dianggap berhasil entah enggak.

Yang kutau, selesai manggung, aku menerima pelukan paling kuat dengan air mata deras dari papa, orang yang gak bisa kutolak paksaannya selain mama, sambil bilang : “Anak papa, pujaan hati, GAk Ada Hal Paling membahagiakan buat papa kak ik, selain terselamatkan harga diri”

Malam itu, kami berempat papa,mama,aku,Fenty tidur bersama sepanjang malam sampai pagi merayakan keberhasilan papa yang sudah terealisasikan pementasan idamannya. Bukan keberhasilanku sebagai pemainnya, karena pementasan itu aku dedikasikan penuh cuma buat nama baik papa.

Ya, buat seorang Raswin Hasibuan, waktu itu, naskah ini simbol kebangkitan harga dirinya yang tetap masih ingin bertahan di dunia kesenian setelah dicabik-cabik oleh puluhan anak didik yang meninggalkannya.. eh, Anak didik? Sori, bukan anak didik, mungkin dia ga pernah berkontribusi dalam hidup mereka apalagi mendidik, mungkin sekedar pengikut yang terjerumus aja.

That’s why dipilih naskah monolog. Karena itu, menggambarkan kesendirian seorang Raswin Hasibuan waktu itu.

Sendiri, tapi berupaya untuk tegak, bertahan dan berkarya.

Yang pasti, bangkit dari jatuh itu gak mudah. Tapi aku bangga jadi pendukung penuh ayahku menata kembali kehidupan berkeseniannya walau gak paten-paten kali.

Hari ini, diundang menonton pementasan yang sama tapi dimainkan oleh aktris keren dan sutradara hits om Yan Amarni Lubis.

Bangga masih diingat untuk diundang, walau om Ayub Hamzah Fahreza nganterinnya terselubung gak sempet ngopi syantik ujan-ujan hehehehe.

Dan punya keyakinan pasti pementasan ini bernas dan mendulang sukses. Insyaallah diberi kesehatan buat hadir Dan Nonton. Sukses dan Jaya terus Teater Nasional Medan. (aba)

TINGGALKAN KOMENTAR