Ditengah-tengah proses pembuatan patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) di studio Nyoman Nuarta, kompleks NuArt Sculpture Park yang terletak dikawasan Setra Duta, Sarijadi, Bandung, Jawa Barat, Nyoman Nuarta menggelar upacara pengiriman pertama bagian patung GWK. Upacara dipimpin oleh Mangku Made Rela dari Pura Agung Wiralokanata, Cimahi, Jawa Barat.

Upacara diikuti keluarga Nuarta beserta para pekerja patung. Dengan hikmat mereka mengikuti upacara pengiriman patung yang menggunakan truk. Nuarta dan istrinya tak lupa membasahi bagian truk dengan air tirta agar pengiriman selamat sampai tujuan. Kemudian keduanya memecahkan kendi sebagai tanda pengiriman pertama ke Bali.

“Hari ini kita mengirimkan bagian kaki ke Bali. Semoga selamat sampai tujuan dan proses GWK berjalan lancar,” ucap Nuarta ketika melepas keberangkatan pengiriman pertama bagian patung GWK di Bandung, Rabu (24/7/2013) lalu. Tahapan pengiriman pertama ada 13 truk. 5 truk berangkat ke Pulau Dewata hari Rabu dan sisanya Kamis. Diperkirakan sampai sebelum 30 Juli ini.

Berdasarkan rencana, pengiriman berikutnya akan terus dilakukan setiap dua bulan dengan menggunakan sekitar 400 kendaraan. Kepingan-kepingan itu akan dirakit untuk kemudian dipasang sebagai sosok patung GWK di workshop Bukit Balangan, Ungasan, Bali. “Kita akan susun dulu di workshop di Bali, kemudian baru dipasang sebagai tubuh patung,” ucap Nuarta.

Patung baru GWK sendiri memiliki ketinggian 75 meter dengan rentang sayap garuda sepanjang 64 meter, sedangkan tinggi pedestal 60 meter. Tinggi patung dan pedestal secara keseluruhan akan menjulang setinggi 126 meter. Dalam mengerjakannya Nuarta bekerjasama dengan orang-orang dari berbagai disiplin ilmu.

Bahkan telah melewati tes ujicoba angin, maklum patung tinggi kerap diterpa hembusan angin kencang. Nah, agar patung tidak melayang maka sistem torowongan anginnya dikaji di Melbourne dan lanjut ke Toronto (Kanada). Kemudian lembaran tembaganya dipertebal hingga 1 meter. Diperkirakan patung baru GWK selesai dalam 3 tahun lantaran investor Alam Sutera bertekad menyelesaikannya.

Pembangunan GWK sendiri dimulai sejak Minggu 8 Juni 1997 atau 16 tahun silam, pembangunan hanya meliputi bagian dada dan kepala tanpa tangan dari Wisnu lantaran kendala biaya serta datangnya badai krisis ekonomi di tahun 1998 lalu. Meski dengan kondisi begitu, GWK dipadati pengunjung sebanyak 2000-3000 wisatawan. Bila libur mendatangkan 7000-8000 wisatawan.

Pembangunan GWK kala itu Nuarta sodorkan saat masa pemerintahan Soeharto. Soeharto mendukung dan meminta para menteri membantu Nuarta. Dana digelontorkan sebesar 30 miliar melalui Bali Tourism Development Corporation (BTDC). Ternyata dana itu merupakan pinjaman ringan dengan agunan 22 hektar tanah dalam tempo 25 tahun yang dibebankan kepada Nuarta.

Kini hutang itu sudah Nuarta lunasi, bahkan sebelum jatuh tempo. “Jangka waktunya masih delapan tahun lagi, tetapi sudah saya lunasi. Dengan begitu, pembangunan GWK tanpa bantuan pemerintah,” jelas Nuarta. Tahun 2013 ini, pembagunan dilakukan kembali dengan dukungan dari investor Alam Sutera. Bagi Nuarta, kali ini merupakan momentum baik untuk memperjuangkan hal tersebut.

Terlebih infrastruktur di Bali menunjang pula dengan diperlebarnya bandara Ngurah Rai serta adanya jalan tol sehingga diharapkan kunjungan ke GWK bertambah agar menghasilkan break event point.

“GWK dalam hidup saya penting, karena 25 tahun lalu saya merasa bangsa ini kehilangan arah lantaran tak ada lagi budaya yang dipegang. Suku dan agama terkadang menjadi alat tawar untuk memenangkan sesuatu. Oleh karena itu, betapa penting proyek ini. Selain itu, kita perlu tempat untuk bertukar pikiran antar budaya. Dengan adanya pengertian tentang budaya, bisa mengurangi ketegangan,” kata Nuarta. (nopi)

TINGGALKAN KOMENTAR