herlina.01
Herlina Syarifudin (ist)

DUA tahun sudah perjuangan Herlina Syarifudin untuk bisa lolos dalam seleksi ‘Women Playwrights International Conference (WPIC) 2015’ di Cape Town, Afrika Selatan. Ketika dinyatakan lolos seleksi, namun untuk bisa Cape Town Herlina harus berjuang kembali. Sebab, Herlina tidak saja membawa dirinya tok ke ajang pertemuan penulis wanita sejagad itu, tapi juga harus melakukan pentas full length play-nya ‘My Name Name’ (Namaku Nama’ ) sebagai bahan presentasi di WPIC yang akan diselenggarakan pada tanggal 29 Juni – 3 Juli 2015.

ssk16

Sebelumnya, untuk bisa mencapai ke WPIC, Herlina harus bertarung dengan 300 lebih dramawan perempuan di seluruh dunia. Setelah lolos, bersama 85 dramawan perempuan dunia lainnya yang berasal dari 30 negara lebih, ia harus mencari biaya sendiri untuk berangkat ke Cape Town, Afrika Selatan.

“Saya harus mempresentasikan naskah ‘My Name is Name’ kelak di Cape Town, untuk itu saya harus mementaskan naskah itu sebelum berangkat,” kata Herlina kepada gapuranews.com, Selasa (7/4/2015).

Meski keberangkatannya ke WPIC 2015 untuk mengharumkan nama bangsa dan negara, namun sampai saat ini, pementasan naskah ‘My Name is Name’ belum bisa diwujudkan, karena terkendala anggaran. Tidak terlalu besar, diperkirakan cuma Rp.75 juta, namun propsoal yang dilayangkannya selalu kandas.

“Untuk mamasukan proposal ke  instasni pemerintah    dan swasta  di  Indonesia syaratnya harus ada orang dalam. Kalau tidak,  maka proposal akan mandek di meja resepsionis saja,” katanya.

ssk39Kondisi ini membuktikan, peran pemerintah dalam membangun, membina seniman serta budayawaan hanya slogan semata. Pada praktiknya, pemerintah belum mampu memberikan pelayanan terbaiknya bagi anak bangsa berprestasi, yang mengharumkan nama bangsa dan negara dikancah internasional.

“Saya cari uang sendiri. Berbagai kegiatan saya lakukan, seperti ‘ngamen’ pementasan dan menjual t-shirt,” kata aktris kelahiran Malang yang sempat terlibat produksi teater bersama Slamet Rahardjo, Putu Wijaya, Remy Sylado, Milan Sladek (Jerman), Robert Draffin (Australia) dan beberapa kelompok teater di Jakarta ini.

Supaya pemetasannya dikenal, sudah tiga kali ia menampilkan cuplikan naskah ‘My Name is Name’ dengan judul Indonesia “Namaku Nama’. Terakhir mentas di Rumah Puspo Jl. Elang Raya no. 1 Kampung Sawah, Ciputat-Tangerang Selatan pada 4 April 2015 lalu.

Cukup berat yang dihadapi aktris monolog dengan segudang prestasi ini, namun ia tetap optimis. “Saya tetap berupaya. Semoga saja pementasan full length play-nya ‘Namaku Nama’ bisa mendapatkan sponsor,” katanya optimis. (gr)

Teks foto; pementasan cuplikan ‘Namaku Nama’ di tiga tempat (ist)

TINGGALKAN KOMENTAR