Karya/sutradara/aktor: Agus Susilo

10 Tahun Teater Rumah Mata
Mengenang Hari Kelahiran Pancasila

Q15_4731-lain

SETIAP tanggal 1 Juni kita akan kembali melirik sejarah penting bangsa; hari lahirnya Pancasila. Para pendiri bangsa dengan segala kebesaran gagasan dan cita-cita untuk mendirikan sebuah negeri merdeka telah menyiapkan dasar berkehidupan dalam suatu sistem yang luhur. Dan tokoh yang mendeklarasikan kelahiran Pancasila itu adalah Ir.Soekarno; proklamator dan presiden pertama RI yang monumental. Nama beliau hingga kini masih tetap mempesona di seantero dunia. Setelah 69 tahun, Pancasila masih diakui sebagai landasan hidup berbangsa. Namun, apakah pengakuan saja cukup? .

Saat yang bersamaan Teater Rumah Mata yang didirikan tahun 2004 kini usianya telah mencapai 10 tahun. Satu perjalanan proses kreatif yang masih muda. Di usianya yang ke 10 tahun ini Teater Rumah Mata makin teguh pada konsep dasarnya sebagai landasan berkarya: “Teater merupakan meditasi kritis terhadap dinamika multidimensikebudayaan yang berdialektika menembus ruang dan waktu dengan ideologi pencerhaan yang avent garde, revolusioner, membumi dan transeden.”

Masih banyak ujian untuk membuktikan ketangguhan konsep dasar ini. Ujian ini akan muncul dari suatu sistem kehidupan bernegara dan sistem internal komunitas itu juga. Dari sanalah muncul dialektika gagasan dan perenungan yang dieksekusi menjadi karya.
Di 2014 ini, Indonesia juga memasuki tahun politik yang sangat rentan dengan kekacauan. Politik yang sangat intim dengan kekuasaan menjadi konsumsi primer masyarakata Indonesia selama Pemilu legislatif yang akan dilanjutkan Pemilu Presiden dan wakil presiden Juli mendatang. Setiap detiknya masyarakat Indonesia diterpa makanan informasi politik pragmatis. Seluruh calon penguasa itu mengasosiasikan dirinya sebagai juru selamat Negara yang berlandaskan Pancasila.

Pertanyaannya; benarkah Pancasila masih menjadi landasan hidup berbangsa dan bernegara kita rakyat dan calon penguasa negeri ini? Tindak kekerasan, korupsi, rendahnya marwah dan martabat kedaulatan bangsa, serta hilangnya norma dan etika susila di generasi muda menjawab pertanyaan saya di atas. Pancasila kini hanya sebagai topeng kita bernegara yang setiap saat dapat kita manfaatkan demi mencapai kepentingan individu. Pancasila kemudian berfungsi sebagai aksesoris kekuasaan.

Hasrat berkuasa yang menggebu-gebu di kesadaran manusia Indonesia telah membuat kita semua gila. Apapun yang kita miliki dapat dijual demi mencapai predikat penguasa. Dari elit politik sampai masyarakat kelas bawah. Hasrat berkuasa menjadi mesin penggerak manusia Indonesia untuk hidup berpura-pura, memaksakan kehendak cita-cita, mentransformasi impian pribadi ke jiwa manusia secara massal. Manusia Indonesia seperti bergerak tanpa kaki, melambung tinggi dengan mimpi-mimpinya.

Yang lebih ironisnya bila manusia-manusia yang dianggap sampah masyarakat, seperti gelandangan, pengemis dan orang cacat juga memiliki hasrat berkuasa di negeri ini. Orang-orang terbuang ini juga manusia yang fitrahnya punya hasrat untuk memiliki. Dan pada titik ini, hasrat berkuasa menjadi sama kedudukannya dengan hasrat bernafas. Artinya, manusia akan mati bila tidak berkuasa.

Q15_4341

Hal inilah yang dapat dibaca Teater Rumah Mata, di usia yang ke 10 tahun. Agus Susilo menulis karya monolog berdasarkan naskah drama edMINUS anderSKOR: Harus Jadi Presiden! Karya Agus Susilo juga yang pernah dipentaskan tahun 2012 lalu. Karya ini akan dipentaskan dalam rangkaian setahun syukuran 10 tahun Teater Rumah Mata di beberapa kota.

Tour Pementasan karya monolog ini mulai digelar di Bengkulu pada Sabtu, 31 Mei 2014 di Teater Tertutup Taman Budaya Lampung, pukul: 20.00 Wib, kerjasama dengan Kedai Proses yang berdomisili di Taman Budaya Lampung. Setelah dari Bengkulu, pementasan Monolog edMINUS anderSKOR: Harus Jadi Presiden!, karya/sutradara/actor: Agus Susilo ini akan digelar di Teater Arena Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang pada Selasa, 3 Juni 2014, pukul: 20.00 Wib, bekerjasama dengan Himpunan mahasiswa jurusan Teater ISI Padang Panjang.

Setelah itu, Teater Rumah Mata akan mengunjungi kota-kota di Indonesia yang bersedia dan mau bekerjasama menampilkan karya monolog ini. Pilihan karya ini yang dipentaskan sebagai rangkaian syukuran 10 tahun Teater Rumah Mata, karena naskah ini kami yakini dapat membongkar bawah sadar hasrat berkuasa manusia Indonesia. Bengkulu dan Padang Panjang telah membuka diri untuk dibongkar bawah sadar hasrat berkuasa mereka. Kapan kota anda bersedia membuka diri? (gardo)

Foto-foto: Teater Rumah Mata

TINGGALKAN KOMENTAR