JAKARTA – Acara ‘Menjemput Sang Maestro’ Chairuddin Dahlan atau Tok Udin digelar dengan acara tepung tawar dan upah-upah sebagai ungkapan syukur dan penyampaian doa atas Anugerah Kebudayaan sebagai Maestro Seni Tradisi atas dedikasi dan pengabdian Tok Udin sebagai Seniman Musik Gendang Melayu) di Plaza Anjungan Sumatera Utara Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Kamis, (27/9/2018).

Malam itu terasa syaduh. Betapa tidak, kini hanya bersisa Tok Udin tersisa dari era zaman old, bahkan penabuh yang mampu menggetarkan jiwa Bung Karno tatkala mendengarkan lagu-lagu Melayu Deli ketika ditampil di Istana Negara.

“Malam itu, tidak saja saya saja, tapi semua seniman, pelaku dan peminat seni musik Melayu Deli turut bergembira dan terharu. Ya. Tok Udin layak mendapatkan penghargaan itu dari pemerintah,” kata Kepala Anjungan Sumut, Tatan Daniel, Senin (1/10/2018).

Malam itu, para pecinta musik Melayu, Kartika Wahyuni, Etica Rahmie, Tatan Daniel, Herman Lunk, Aldie Zaheed D’Chola,Rizaldi Siagian, Melati Wallad, Adinda Dewiany Nasution, Nurani Dahlan, Rani Dahlan Mgmnt, Tengku Yoga Ahlantha, Ade Fauzi dan banyak menjadi saksi Tok Udin di Tepung Tawar.

Acara diadakan oleh Anjungan Sumatera Utara TMII bekerja sama dengan Komunitas Ronggeng Deli, Komunitas Rumah Sepanggung dan para seniman tradisi yang ada di TMII yaitu dari Aceh adalah Sanggar Pengayon, seniman asal Gayo yang ada di Jakarta, diketuai Azzam; dari Bengkulu namanya Rafflesia Percussion Bengkulu (RPB), ketuanya Oki, sanggarnya di Anjungan Bengkulu; dan yang dari Jawa Timur namanya Among Rogo, pimpinan mas Ran Slamet.

Chairuddin Dahlan dikenal sebagai empu penabuh Gendang Melayu dan selama 56 tahun ia menabuh gendang melayu dengan penuh kecintaan dan kesetiaan.

Gendang melayu jugalah yang telah membawanya pergi jauh ke luar negeri sebagai duta budaya. Dia adalah Chairuddin Dahlan, yang biasa dipanggil Tok Udin Gendang, seorang seniman penabuh gendang kesayangan Guru Sauti, pencipta Tari Serampang Dua Belas.

Karena kehebatannya bermain gendang itu pula, sosok kelahiran Medan, 4 Maret 1942 ini diajak untuk bergabung dengan Sauti, mengiringi Tari Serampang Dua Belas di Istana Bogor, juga mengikuti diplomasi budaya ke Beijing dan Moskow. Bahkan ia pernah mendapat hadiah gendang dari Presiden Sukarno. (gr)

TINGGALKAN KOMENTAR